Monthly Archives: May 2011

Segala Sesuatu Dimulai Dari Pikiran

Semua hasil karya manusia diatas permukaan bumi ini berasal dari buah pemikiran. Dari hal yang sederhana, seperti baju yang dikenakan hari ini sampai dengan hal yang kompleks seperti pembangkit listrik tenaga nuklir, semua berasal dari pikiran manusia. Tidak ada yang tidak dipikirkan terlebih dahulu. Coba ambil waktu sejenak untuk memikirkan apakah benar kalau baju yang kita kenakan sekarang ini adalah hasil dari pikiran kita sebelumnya ….. ?

Mengingat begitu pentingnya peranan dari pikiran ini maka kita harus berhati-hati dengan apa yang kita pikirkan. Ibarat air yang kalau diteteskan dengan warna merah maka akan berubah menjadi merah dan apabila diteteskan dengan warna hijau maka airnya akan berubah menjadi hijau juga. Identik dengan analogi air tersebut. Input negatif yang masuk ke dalam pikiran akan menghasilkan output yang negatif juga. Itu sebabnya dikenal adanya sebutan “Garbage in Garbage out”. Apabila input yang diberikan terhadap pikiran ini negatif maka itu sama halnya dengan memberi asupan “sampah” bagi pikiran kita. Berhubung input negatif yang masuk maka kecenderungan hal-hal negatif (sampah) juga yang akan keluar dari pikiran itu sebagai hasil output-nya.

ISI PIKIRAN

Apakah Anda tahu bahwa isi dari pikiran adalah representasi atau perwakilan dari VAKOG: Visual (gambar), Auditory (suara), Kinesthetic (perasaan), Olfactory (bau-bauan/wangi-wangian), dan Gustatory (rasa yang dikecap)? By the way, kenapa disebut dengan perwakilan ya? Jawabannya adalah karena VAKOG inilah yang mewakili isi dari pikiran manusia.

Untuk memudahkan penjelasan mengenai hal ini, coba bayangkan sebuah APEL. Apa yang muncul dalam benak Anda? Apakah huruf “A-P-E-L” atau gambar APEL? Ya benar! Tentu gambar APEL, bukan? Inilah sebabnya kenapa VAKOG disebut sebagai perwakilan dari isi pikiran manusia. Sebagai perwakilan dari isi pikiran manusia, isi dari VAKOG sangat menentukan kebahagiaan seseorang. Ibarat studio dengan semua instrumen control panel-nya, VAKOG ini adalah instrumen dalam pikiran manusia yang menentukan bahagia tidaknya seseorang.

SIFAT ALAMI PIKIRAN

Pada intinya, sifat alami dari pikiran adalah netral; tidak positif dan tidak negatif. Apabila dianalogikan sebagai alat, misalnya: pisau maka pisau ini bernilai netral, tidak positif maupun negatif. Bernilai positif apabila digunakan untuk memotong sayur di dapur, memotong dahan pohon yang patah, dsb. Namun, akan berubah menjadi negatif apabila pisau ini digunakan pada konteks yang salah, misalnya: kriminalitas.

Fungsi utama dari pikiran adalah untuk melindungi diri agar jangan sampai terjadi apa-apa pada diri ini. Jangan sampai sakit, jangan sampai menderita, jangan sampai jatuh miskin adalah sebagian contoh dari fungsi pikiran dalam melindungi diri seseorang. Fungsi ini jugalah yang membuat manusia membuat proteksi atau perlindungan bagi dirinya, misalnya bekerja lebih ulet, belajar lebih keras, “safe for rainy season“, menabung untuk masa paceklik, dan lain sebagainya.

Selain fungsi utama tersebut diatas, fungsi yang lain adalah fungsi perbandingan. Pikiran manusia senantiasa membandingkan suatu hal dengan hal yang lain. Apabila yang diperbandingkan itu menyenangkan maka hal itu akan membuat dirinya bahagia. Namun, apabila apa yang diperbandingkan tersebut tidak menyenangkan maka akan menyebabkan dirinya larut dalam kesedihan. Diluar kedua fungsi diatas, masih banyak lagi fungsi-fungsi pikiran lainnya, misalnya fungsi pengingat, fungsi analisa, fungsi perencanaan, dan lain sebagainya. Terlepas dari fungsi-fungsi pikiran yang luar biasa ini, terkandung potensi dimana pikiran juga dapat menimbulkan masalah bagi diri seseorang, misalnya: cemas, takut, stress, depresi, bahkan apabila tresshold atau ambang batas yang mampu ditahan seseorang terlewati maka tidak jarang sampai menimbulkan gangguan jiwa.

KOIN DENGAN DUA SISI

Ibarat sebuah koin dengan dua buah sisi, pikiran manusia juga sama halnya dengan koin tersebut. Ia memiliki sisi positif dan juga sisi negatif. Dari sisi positif, pikiran sangat membantu seseorang dalam menjalankan hidupnya sehari-hari. Ia dapat membantu mengingat dimana kunci rumah kita disimpan, membandingkan harga gula di supermarket yang satu dengan supermarket yang lain, merencanakan pekerjaan yang akan dikerjakan pada hari itu, dan lain sebagainya. Namun disisi yang lain, pikiran yang tidak terkendali juga dapat membuat hidup kita seperti di “neraka”, misalnya: tidak bisa tidur karena mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi, fobia atas binatang tertentu, memikirkan ucapan teman yang menyakiti hati, dan lain sebagainya.

WHO IS DRIVING THE BUS

“Who is driving the bus” adalah istilah yang tidak asing lagi di kalangan NLPers, yang intinya menyatakan bahwa sebenarnya siapa yang menyetir bus pikiran kita? Apakah disetir oleh diri kita sendiri atau apakah bus ini berjalan sendiri sesuka hatinya? Pada kenyataannya seringkali bus pikiran kita berjalan sesuka hatinya tanpa kehadiran driver yang menyadarinya tindak tanduknya. Contoh yang paling sederhana dalam hal ini adalah melamun atau tidak berkonsentrasi dalam melakukan suatu aktivitas sehingga pikiran ini berjalan tanpa kendali. Yang lebih bahaya adalah apabila yang menyetir bus pikiran ini adalah “supir-supir” yang tidak kompeten yang tidak seharusnya menyetir bus ini, misalnya emosi negatif seperti: marah, benci, kesal, dsb.

TIPS NLP

Dengan mengetahui seluk beluk pikiran bahwa selain membawa manfaat juga dapat membawa masalah dalam hidup, maka kita dapat melakukan intervensi yang dibutuhkan sehingga pada saat berada dalam stuck state (keadaan yang tidak memiliki pilihan yang bersumber daya) maka kita dapat melakukan suatu tindakan untuk keluar dari keadaan tersebut.

Berikut ini adalah tips-tips NLP sederhana yang dapat dilakukan agar kita dapat menjadi tuan bagi pikiran kita.

1. Senantiasa menyadari gerak-gerik pikiran. Sehingga pada saat pikiran yang kurang baik muncul, dapat segera disadari sehingga pikiran yang tidak baik tersebut mereda dan kemudian lenyap.

2. Membiasakan diri untuk selalu berpikir yang positif dan bermanfaat.

3. Apabila pikiran berada dalam keadaan emosional, misal: sedih, coba perbaiki postur tubuh dengan postur tubuh yang tegap (tidak bungkuk), pandangan cenderung keatas (tidak ke bawah), ganti isi pikiran sedih tersebut dengan pikiran dimana diri kita sangat bersumber daya, misalnya: peristiwa kelahiran anak pertama, mendapatkan bonus akhir tahun, merayakan suatu pencapaian, dsb.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi diri Anda. SALAM NLP!