Monthly Archives: August 2011

Anchor – Jangkar Emosi Manusia

NLPACADEMIA.com – Anchor atau jangkar emosi adalah salah satu pokok bahasan “wajib” dalam kelas NLP. Namun apa sebenarnya yang dimaksud anchor atau jangkar emosi itu? Ayo temukan jawabannya dalam artikel ini.

Anchor dapat dijumpai dengan mudah dalam keseharian kita. Di sekeliling kita ada banyak contoh anchor yang mempengaruhi keadaan emosi kita. Sebuah senyuman adalah contoh sederhana dari visual anchor. Ketika seseorang senyum kepada orang lain maka kecenderungannya orang tersebut akan membalas senyuman tersebut sebagai balasan untuk menunjukkan itikad baik atau keramah-tamahan. Anchor yang lain dapat berupa kinesthetic anchor seperti suatu perasaan bahagia pada saat ketemu dengan orang yang dicintai, atau auditory anchor seperti pada saat seseorang memanggil nama kita langsung kita menoleh pada orang yang memanggil. Bau atau wangi-wangian adalah merupakan bagian dari anchor juga, yang disebut dengan olfactory anchor. Banyak orang yang teringat kembali ke kenangan masa kecilnya ketika mencium bau tanah setelah hujan atau wangi parfum merek tertentu yang mengingatkan  pada orang yang kita cintai, dan lain sebagainya. Sedangkan anchor yang terakhir disebut dengan gustatory anchor,  yaitu suatu anchor yang bekerja berdasarkan rasa yang dicecap oleh lidah kita. Misalnya, makan rendang mengingatkan kita kepada masakan rendang yang dimasak oleh nenek di kampung sewaktu liburan dimasa kecil.

Secara sederhana anchor dapat dikatakan sebagai jangkar, yaitu suatu jangkar emosi yang memiliki muatan emosi  positif atau negatif dimana seseorang “seolah-olah” mengalami kembali (asosiasi) suatu pengalaman pada saat suatu pemicu diaktifkan. Umumnya anchor yang digunakan adalah resourceful anchor atau anchor positif yang bersumber daya, misalnya: anchor motivasi. Ada kalanya anchor negatif juga digunakan dalam beberapa teknik NLP untuk membantu mengatasi masalah yang sedang dialami oleh klien, salah satu contohnya adalah collapsing anchor dimana anchor positif “diadu” dengan anchor negatif. Atau dalam teknik changing personal history, disini beberapa anchor negatif justru dengan sengaja dipasangd dan digunakan untuk mengatasi problem yang dialami klien.

Anchor merupakan salah satu tool NLP yang sangat bermanfaat untuk merubah state seseorang. Ambil contoh misalnya seseorang sedang down karena beberapa masalah yang sedang dialaminya (misalnya: down karena pekerjaan di kantor, perasaan tertekan karena pressure dari atasan, dsb.). Maka dalam hal ini apabila orang tersebut memiliki anchor motivasi maka ia tinggal mengaktifkan anchor-nya tersebut, misalnya dengan menjentikkan jari maka orang tersebut akan keluar dari state yang sedang down tersebut dan masuk dalam state yang termotivasi yang sudah di install atau dipasang sebelumnya.

Bagaimana cara untuk membuat resourceful anchor yang dapat kita gunakan kapanpun kita menginginkannya? Inilah tekniknya:

  1. Ingat kembali suatu waktu ketika Anda mengalami suatu kejadian yang luar biasa, emosi positif – sebagai contoh: senang, bahagia, dan perasaan luar biasa lainnya (misal: kelahiran anak pertama, kenaikan gaji, membeli rumah pertama, dsb).
  2. Ciptakan kembali pengalaman tersebut senyata mungkin, lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasakan.
  3. Perkuat perasaan tersebut dengan meningkatkan intensitas submodalitas lainnya, misalnya: buat warnanya lebih menarik, gambarnya lebih dekat, suaranya lebih keras, lebih jernih, dll.
  4. Pada saat perasaan tersebut mulai mencapai puncaknya, pasang anchor-nya dengan cara menyentuh punggung telapak tangan kiri dengan jari telunjuk kanan, kemudian lepaskan sebelum perasaan tersebut mulai menurun (lihat gambar diatas).
  5. Break state. Kemudian test anchornya dengan cara menyentuh punggung telapak tangan dengan jari telunjuk dengan cara yang sama seperti #4. Perhatikan berapa besar perasaan tersebut dapat dirasakan kembali.
  6. Ulangi bila dibutuhkan sampai anchor tersebut terpasang dengan baik. Anchor dikatakan berhasil ter-install apabila pada saat dipicu kembali dengan cara menyentuh punggung tangan kiri dengan jari telunjuk kanan, emosi positif yang sama dapat dialami kembali.
  7. “Top up” atau ulangi secara berkala apabila Anda menginginkan  anchor tersebut bertahan lama. Hal ini disebabkan karena anchor dapat melemah seiring berjalannya waktu.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat. SALAM NLP!

 

Representational Systems – Isi Pikiran Manusia

Manusia menggunakan panca inderanya untuk menyadari keberadaan dunia luar (external experience) dan juga merepresentasikan “dunia luar” tersebut dalam pikiran mereka dengan kode-kode khusus. Dalam NLP, cara mengetahui, menyimpan dan mengkodekan informasi dalam pikiran, seperti: melihat, mendengar, merasakan, mencecap, dan membaui – dikenal dengan sebutan representational systems (sistem representasi).

Lebih lanjut lagi, ketika seseorang berpikir, orang tersebut cenderung lebih senang untuk menggunakan satu atau dua sistem representasi terlepas dari apa yang sedang dipikirkannya. Banyak orang dapat melihat gambar yang jelas dalam pikirannya dan oleh karena itu lebih cenderung berpikir menggunakan gambar yang muncul silih berganti dalam pikirannya tersebut. Tipe orang seperti ini disebut dengan tipe VISUAL. Orang lain mungkin menemukan bahwa cara ini lebih sulit. Mereka lebih senang mendengarkan atau menggunakan kata-kata. Tipe orang seperti ini disebut dengan orang tipe AUDITORY. Lainnya mungkin lebih terbiasa dengan perasaan mereka. Tipe orang seperti ini disebut dengan orang tipe KINESTHETIC. Pada saat orang lebih cenderung menggunakan salah satu sistem representasi dibanding dengan sistem representasi yang lain, maka dalam NLP kita menyebutnya dengan preferred system (sistem yang lebih disukai) atau lead system (sistem yang memimpin). Orang yang sering menggunakan salah satu preferred system akan lebih piawai dalam menggunakan salah satu sistem representasi tersebut dan dapat membuat perbedaan yang lebih jelas dibanding dengan apabila orang tersebut menggunakan sistem representasi yang lain.

Secara umum, sistem representasi disingkat dengan VAKOG, yaitu:

V – Visual = penglihatan, A – Auditory = pendengaran, K – Kinhestetic = perasaan, O – Olfactory = penciuman, & G – Gustatory = pengecapan.

NLP cenderung menggunakan VAK sedang O dan G, walaupun penting, jarang digunakan sebagai sistem yang dominan. Keduanya; Olfactory & Gustatory lebih sering dikategorikan dalam Kinesthetic. Mungkin muncul pertanyaan dalam diri kita kenapa harus digabung dengan Kinesthetic bukan yang lainnya? Jawabannya adalah karena semua sistem representasi (VAKOG) pasti ujung-ujungnya akan mengkristal atau bermuara pada Kinesthetic atau disebut juga dengan “Meta K”, yaitu suatu perasaaan (apakah itu suka atau tidak suka).

Orang-orang yang memiliki skill yang tinggi diberbagai bidang yang berhubungan dengan komunikasi adalah orang-orang yang memiliki kemampuan menggunakan sistem representasi yang berbeda-beda yang dengan mudah berpindah dari satu sistem representasi ke sistem representasi lain sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, pada saat berbicara di depan publik, sangat dianjurkan untuk menggunakan kata-kata predikat yang mewakili Visual (melihat, menggambarkan, dll.), Auditory (mendengar, kedengarannya, dll.), dan Kinesthetic (saya rasa, sesuatu yang dipegang, dll.) dengan tujuan agar audience yang mendengarkan yang terdiri dari berbagai preferred system yang berbeda-beda merasa nyaman seolah-olah kita berbicara dengan bahasa mereka sehingga apa yang disampaikan lebih mudah dicerna dan dimengerti.

Semoga bermanfaat dan SALAM NLP!

~ Live the life you want to live & make sure it is useful!

Tips Membuat Well-formed Outcome

Komunikasi tanpa sebuah outcome adalah seperti perjalanan tanpa sebuah tujuan. Kita tidak pernah tahu dimana kita akan sampai; mungkin di tempat yang kita senangi atau tempat yang kita tidak senangi.

Outcome adalah sebuah goal yang telah diklarifikasi dan dibentuk dengan sempurna oleh kondisi yang membuatnya menjadi well-formed. Dengan kata lain, jika goal adalah seperti pensil yang baru keluar dari kotaknya, outcome adalah seperti pensil yang diruncingkan dan siap untuk digunakan. Sehingga outcome adalah hasil yang diinginkan yang dirinci dalam bentuk yang ingin kita lihat ketika outcome itu tercapai. Senada dengan ini, NLP berorientasi pada outcome, yang berarti bahwa kita berorientasi pada hal-hal yang berhasil dan menghasilkan outcome yang diinginkan.

Bagaimana caranya untuk membuat sebuah well-formed outcome? Inilah tipsnya:

1. State in Positive / Nyatakan dalam Kalimat Positif
Tanyakan:

  • Apa yang saya inginkan?

 2. Describe in sensory experience and has an evidence procedure / Nyatakan dalam pengalaman indrawi dan miliki bukti tak terbantahkan
Tanyakan:

  • Bagaimana saya tahu bahwa saya telah mencapai outcome saya?
  • Apa yang akan saya lihat dan dengar pada saat outcome tersebut tercapai?
  • Apa yang akan saya rasakan?

3. Contextualized appropiately / Sesuaikan Konteksnya
Tanyakan:

  • Dimana saya menginginkan outcome ini?
  • Kapan saya menginginkan outcome ini?
  • Dengan siapa saya menginginkan outcome ini tercapai?

4. Initiated and maintained by you – it’s within your control / Dimulai dan dipertahankan oleh diri sendiri – dalam rentang kendali diri sendiri
Tanyakan:

  • Apa yang bisa saya lakukan?
  • Sumber daya apa yang saya perlukan untuk mencapai outcome ini?
  • Apa yang dapat saya terus lakukan?

5. Ecological and maintain the system and relationship / Ekologis dengan mempertahankan sistem dan hubungan
Tanyakan:

  • Apa yang akan terjadi pada saat saya mencapai outcome ini?
  • Bagaimana outcome ini akan mempengaruhi aspek lain dari hidup saya?
  • Bagaimana outcome ini bermanfaat bagi saya, orang lain dan lingkungan?

Mudah bukan?

Selamat mendesain well-formed outcome yang Anda inginkan. Lihat, dengar dan rasakan manfaatnya sekarang.

SALAM NLP!