Monthly Archives: September 2012

Asal Mula Lahirnya NLP

NLP telah berkembang sedemikian rupa dan pengaruhnya menyentuh hampir seluruh bidang kehidupan dewasa ini. Awalnya semua bermula dari seorang yang bernama Richard Wayne Bandler (Richard Bandler) yang pada usianya yang terhitung muda (17 tahun) sangat tertarik dengan musik. Ia kemudian diminta oleh Becky Spitzer, istri dari Dr. Robert S. Spitzer, untuk mengajar anak mereka yang bernama Dan untuk berlatih main drum. Becky sangat kagum dengan minat Richard Bandler di bidang filosofi dan pendekatan intelek yang digunakannya dalam mengajar musik.

Keluarga Spitzer memiliki sebuah kabin dekat Santa Cruz, dan ketika Richard Bandler melanjutkan studinya di University of California, Santa Cruz (U.C.S.C.), ia menjadi pengurus properti tersebut dan membangun sebuah tempat baginya untuk tinggal.

Di tempat tersebut jugalah Richard Bandler pertama kali bertemu dengan Virginia Satir, seorang family therapist yang terkenal di zamannya, yang kemudian menjadi salah satu figur sentral dan berandil besar dalam lahirnya Neuro-Linguistic Programming (“NLP”).

Dr. Spitzer, seorang lulusan Harvard Law School, Washington University Medical School, dan juga merupakan presiden dari penerbit Science & Behaviour Books, kemudian meminta Richard Bandler untuk membuataudio tape dan menuliskan workshop yang diberikan oleh Virginia Satir selama sebulan penuh di Canada.

Ia kemudian menghabiskan beberapa bulan untuk menuliskan transkrip untuk audio tape tersebut, dan tidak lama berselang, ia dapat melakukan hal-hal yang dilakukan oleh Virginia Satir termasuk pola pola suaranya. Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukannya mirip dengan cara dirinya belajar musik, yaitu dengan cara mendengar pemusik yang dikaguminya berulang kali sampai ia dapat menyerupai pemusik tersebut.

Selain itu, Richard Bandler juga membantu mengedit manuskrip terakhir dari Fritz Perls, seorang Gestalt Therapist, yang berjudul “The Gestalt Approach”. Penerbit “Science and Behaviour” kemudian menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Eye Witness to Therapy” yang adalah merupakan transkrip dari film edukasi yang dibuat oleh Fritz Perls.

Richard Bandler menghabiskan berminggu-minggu menggunakanearphone saat menonton film tersebut untuk memastikan transkripnya dilakukan dengan akurat. Setelah proses ini selesai, ia bertutur dan bertingkah laku seperti Fritz Perls. Kiranya, kebiasaan atas perilaku yang ditunjukkan oleh Richard ini sangat meyakinkan sampai-sampai Robert Spitzer memanggilnya “Fritz” dalam beberapa kejadian.

Dengan semua pengetahuan yang dimiliki oleh Richard Bandler, ia kemudian memulai kelompok Gestalt di kampus tempatnya menimba ilmu. Di saat inilah John Grinder (profesor di bidang linguistic diUniversity of California, Santa Cruz) bergabung dalam sesi yang dilakukan Bandler dan tidak lama kemudian menjadi seorang co-leaderdalam group tersebut.

Robert Spitzer kemudian memberikan sebuah rekaman video lainnya tentang apa yang dilakukan oleh Virginia Satir. Richard dan John kemudian mempelajari rekaman tersebut dan berhasil menterjemahkan apa yang dilakukan oleh Virginia Satir dengan menggunakan terminologi yang dikembangkan oleh mereka berdua. Dari apa yang mereka lakukan ini, mereka berhasil menyusun sebuah buku yang berjudul “Changing with Families” yang diterbitkan pada tahun 1975.

Dari observasi tersebut, Richard dan John berhasil mengidentifikasi cara Virginia Satir dalam melakukan klarifikasi atas masalah yang dihadapi oleh kliennya. Observasi ini menjadi titik awal dari Meta Modelyang merupakan salah satu pokok bahasan yang dipelajari dalam NLP sampai dengan saat ini. Selain itu, mereka juga memperhatikan bahwa Virginia Satir berbicara dengan bahasa visual untuk kliennya yang bertipe visual, bahasa auditory untuk kliennya yang bertipeauditory dan bahasa kinesthetic untuk kliennya yang bertipekinesthetic, yang mana Virginia sendiri tidak menyadarinya.

Hasil dari observasi-observasi tersebut ditulis dalam buku “The Structure of Magic, Vol. 1, 1975” dan “The Structure of Magic Vol. 2, 1976” yang mana buku-buku ini pada awalnya adalah untuk master thesis Richard Bandler. Kedua buku diatas menjadi buku NLP pertama yang dipublikasikan. Pada musim semi tahun 1976 nama Neuro-Linguistic Programming mulai digunakan sebagai nama resmi atas apa yang mereka kerjakan.

Ide-ide dari displin ilmu lain seperti System Theory, termasuk hasil karya dari Geroge Miller dan Gregory Bateson sangat mempengaruhi lahirnya NLP. Bahkan Virginia Satir dan Gregory Bateson menulisforeword dan kata pengantar untuk buku The Structure of Magic.

Richard Bandler dan John Grinder kemudian menjadi pusat dari kelompok NLP yang mereka jalankan, yang pesertanya meliputi: David Gordon, Judith DeLozier, Robert Dilts, dan Steven Gilligan.

Setelah memodel Virginia Satir dan Fritz Perls, kemudian Richard Bandler dan John Grinder diperkenalkan oleh Gregory Bateson kepada Milton Hayland Erickson M.D., seorang pakar hypnoteraphy yang tinggal di Phoenix, Arizona, USA. Milton Erickson membuka suatu dunia baru untuk mereka berdua dan sangat besar kontribusinya bagi NLP.

Bandler dan Grinder menggunakan pendekatan yang mereka kembangkan sebelumnya untuk memodel Milton H. Erickson. Hasil dari modeling yang mereka lakukan ini membuat mereka menjadi master of hypnosis dan mereka juga menulis dan mempublikasikan buku mereka atas hasil modeling ini dengan judul “Pattern of the Hypnotic Techniques of Milton H. Erickson. M.D.”, yang diterbitkan pada tahun 1975 dan volume yang kedua diterbitkan pada tahun 1977 bersama Judith DeLozier.

Buku “Pattern of the Hypnotic Techniques of Milton H. Erickson. M.D.” menjadi salah satu kontribusi yang utama dalam bidang hypnosis. Untuk buku ini, Milton Erickson M.D menulis: “Pattern of the Hypnotic Techniques of Milton H. Erickson, M.D. yang ditulis oleh Richard Bandler dan John Grinder adalah suatu penyederhanaan yang luar biasa atas sejumlah kompleksitas bahasa yang saya gunakan pada pasien. Sewaktu membaca buku ini, saya mempelajari sejumlah hal yang telah saya lakukan tanpa tahu tentang hal yang saya lakukan tersebut”.

Sampai hari ini NLP terus berkembang karena keefektifannya dan diprediksi tetap akan berlanjut di masa yang akan datang sebagai salah satu teknologi dalam bidang human transformation.

~Live a live you want to life & make sure it is useful.

Benar atau Salah?

Dalam hidup ini orang sering memperdebatkan sesuatu hal dari sudut pandang benar atau salah. Tidak jarang muncul konflik dari perdebatan yang terjadi.

Saya teringat dengan sebuah cerita dari Konfucius. Diceritakan bahwa pada suatu hari terjadi perdebatan antara penjual dan pembeli di sebuah pasar. Penjual mengatakan bahwa 8 x 3 = 24, namun pembeli mengatakan 8 x 3 = 25. Mereka berdua beragumentasi dengan sengit dan masing-masing merasa bahwa merekalah yang benar dan pihak lain yang salah.

Tak jauh dari tempat itu, Yan Hui seorang murid dari Konfucius mendengar pertikaian mereka dan mencoba menengahi. Namun, justru perdebatan menjadi semakin runyam dan beralih menjadi perdebatan antara Yan Hui dengan pembeli. Singkat cerita, si pembeli mengatakan: “Tuan, apabila Anda yang benar maka silahkan ambil kepala saya! Namun apabila saya yang benar maka tuan harus memberikan semua uang yang tuan miliki kepada saya!”. Setelah terjadi kesepakatan, mereka berdua menemui Konfucius untuk dimintai pandangannya mengenai siapa yang benar.

Setelah diceritakan, Konfucius mengatakan bahwa si pembelilah yang benar, 8 x 3 = 25. Kemudian, ia memerintahkan Yan Hui untuk menyerahkan semua uangnya kepada si pembeli tersebut.

Tidak menerima mengenai hal ini dan masih merasa dongkol, Yan Hui mohon pamit kepada gurunya tersebut untuk pulang ke kampungnya dengan alasan ada urusan penting yang harus diselesaikannya. Konfucius pun mengiayakan dan menitip pesan agar selama perjalanan agar Yan Hui jangan berteduh dibawah pohon yang tinggi dan jangan menggunakan pedang di rumah. Setelah menyanggupi kedua hal yang dipesankan oleh gurunya tersebut Yan Hui kemudian melakukan perjalanannya. Tak lama langit mulai mendung dan hujan deras mulai turun. Dia langsung berteduh di bawah pohon yang paling besar dan paling tinggi karena pohon itu dianggapnya paling bagus untuk berteduh. Namun pada saat itu juga dia teringat dengan apa yang dipesan oleh gurunya yaitu jangan berteduh di pohon yang tinggi, maka dia langsung pindah dari pohon tersebut. Tak lama kemudian, petir menyambar pohon tersebut sampai hancur dan terbakar. Menyaksikan hal itu, Yan Hui pun terkesima dan berterima kasih dalam hati atas apa yang dipesankan gurunya tersebut.

Setelah hujan mereda, dia melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di rumahnya, hari sudah larut malam. Takut membangunkan istrinya yang sedang tidur dia menggunakan bantuan pedangnya untuk membuka pintu rumah dan pintu kamar. Pada saat mendekati tempat tidur, alangkah kagetnya dia melihat bahwa istrinya tidur dengan orang lain. Secara refleks dia bersiap  menghunuskan pedangnya kepada orang yang tidur di samping istrinya tersebut. Namun, untungnya dia masih teringat dengan pesan gurunya agar tidak menggunakan pedang di dalam rumah. Ternyata setelah menyalakan pelita dia melihat bahwa orang yang tidur disamping istrinya tersebut adalah adalah adik perempuan istrinya sendiri. Detik itu juga dia langsung bersyukur karena telah diselamatkan dua kali oleh nasehat gurunya.

Singkat cerita, keesokan harinya dia langsung berangkat lagi untuk menemui gurunya. Pada saat bertemu dengan gurunya, dia meminta maaf atas kejadian sehari sebelumnya bahwa sebenarnya dia pulang ke kampung halamannya adalah karena dia kesal dengan jawaban yang diberikan oleh gurunya yang mengatakan bahwa 8 x 3 = 25. Namun sebelum guru menjawab kenapa 8 x 3 = 25, dia meminta gurunya menjelaskan bagaimana beliau tahu bahwa pohon yang dia pakainya  berteduh akan disambar petir dan kenapa juga gurunya tahu bahwa orang yang tidur disamping istri saya itu adalah adik dari istrinya? Gurunya dengan bijaksana mengatakan bahwa karena hari sedang mendung maka secara logika maka pada saat hujan turun orang pasti akan berteduh dibawah pohon yang paling besar dan tinggi yang mana pohon ini sangat berisiko terkena sambaran petir. Dan untuk pertanyaan yang kedua, karena dia pulang dalam keadaan emosi maka dia tidak akan segan-segan menggunakan pedangnya apabila ada hal yang menyulut emosinya.

Setelah mendengar penjelasan gurunya tersebut, Yan Hui kemudian menanyakan kepada gurunya kenapa 8 x 3 = 25? Sekali lagi dengan bijaksana gurunya mengatakan: “Yan Hui, bukan benar atau salah, namun mana yang lebih bermanfaat: uang yang kamu miliki atau kepala orang tersebut?” Mendengar pertanyaan gurunya ini, Yan Hui sontak tercerahkan dan mengatakan bahwa kepala orang tersebut lebih bermanfaat daripada uang yang ada di kantong bajunya.

Inti dari cerita diatas adalah bahwa hendaknya kita menilai sesuatu lebih pada manfaatnya sesuai dengan konteks keadaan, bukan pada dasar benar atau salah semata.

 

Live a life you want to live & make sure it is useful.

Sukses dengan Neuro-Logical Levels – Bagian 2

CAPABILITY
Apakah menurut Anda capability atau kemampuan yang Anda miliki sekarang sudah mendukung untuk mencapai tujuan Anda? Kapabilitas ini berarti berbicara mengenai knowledge dan juga skill yang kita miliki. Semakin banyak knowledge yang kita miliki maka akan semakin besar juga map atau peta mental kita, yang mana hal ini akan membantu kita dalam mencapai apa yang kita inginkan. Sama halnya juga dengan skill atau keterampilan. Semakin banyak skill yang kita miliki maka akan menambah pilihan yang bersumber daya dalam diri kita.

BEHAVIOUR

Coba amati apa yang sering Anda pikirkan, ucapkan (baik keluar maupun ke dalam: self talk), dan juga apa yang Anda lakukan. Karena segala sesuatu dimulai dari pikiran maka apabila apa yang dipikirkan itu lebih sering yang negatif maka hasilnya akan negatif juga. Itu sebabnya ada istilah yang mengatakan “Garbage in, Garbage out” yang secara literal dapat diartikan sebagai “Sampah (pikiran negatif) masuk maka sampah juga outputnya (ucapan atau perbuatan)”

Selain pikiran yang harus kita awasi, ucapan juga sama pentingnya. Apa yang sering kita ucapkan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pikiran dan perbuatan kita. Ucapan dapat dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu: 1. Ucapan keluar dan 2. Ucapan kedalam (self talk/berbicara dalam hati). Ucapan yang keluar apabila sering bernuansa negatif maka orang yang mendengarkannya pun tidak akan senang. Alih-alih, orang yang mendengarnya kesal dan mungkin saja menyakiti kita secara fisik. Demikian juga halnya dengan ucapan yang kita arahkan bagi diri kita sendiri dalam bentuk internal dialog atau self talk/berbicara dalam hati tersebut. Apabila apa yang sering kita ucapkan itu lebih banyak negatif maka hasilnya akan kurang bermanfaat. Orang-orang yang sukses memiliki self talk yang positif, sedangkan orang-orang yang gagal memiliki self talk yang didominasi oleh kata-kata yang negatif dan tidak bermanfaat.

Output paling jelas dari suatu tindakan adalah dalam bentuk perbuatan. Tanpa adanya suatu action maka tidak akan ada artinya suatu perencanaan yang luar biasa. Selain itu, emotion is created by motion. Artinya, bukan menunggu semangat dulu baru kemudian kita melakukan action. Namun, dari action lah maka kemudian muncul suatu semangat. Oleh karena itu, pastikan setelah Anda memiliki sebuah rencana, jangan tunggu sampai semuanya menjadi perfect atau sempurna. Lakukan saja, just do it, dan lihat umpan balik dari apa yang Anda lakukan dan lakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.

ENVIRONMENT
Environment atau lingkungan merupakan salah satu faktor penentu sukses tidaknya seseorang. Lingkungan dapat berupa orang-orang yang sering kita luangkan waktunya bersama atau benda-benda yang paling menyita waktu kita, misalnya: TV, gadget, dsb. Apa atau dengan siapa kita paling sering meluangkan waktunya bersama akan mempengaruhi diri kita baik secara positif maupun negatif, tergantung apa yang di install. Hal ini dapat terjadi karena interaksi kita dengan orang atau benda-benda seperti tersebut di atas akan menginstall (baca: mempengaruhi) diri kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya: banyak orang mengikuti perilaku tokoh dalam sinetron TV yang ditontonnya walaupun itu cuma sekedar cerita fiksi semata.

Ada ungkapan yang menarik sehubungan dengan orang-orang yang sering kita temui. “Lima orang yang sering kita temui akan membentuk diri kita seperti mereka”. Misalnya: lima orang yang sering kita luangkan waktunya bersama adalah pengusaha maka kemungkinan besar kita mirip-mirip seperti mereka, namun apabila lima orang yang sering kita luangkan waktunya bersama adalah pengangguran, maka kita juga akan mirip-mirip dengan mereka. Oleh karena itu, pastikan Anda berada dalam lingkungan yang tepat dan mendukung perkembangan diri Anda.

Dengan mengetahui dan mengorganisasikan ulang konten dari Neuro-Logical Levels dalam pikiran kita maka hidup kita akan semakin sukses dan bahagia. Selamat mencoba.

~ Live a life you want to life and make sure it is useful!

 

 

Sukses dengan Neuro-Logical Levels – Bagian 1

Neuro-Logical Levels merupakan suatu model yang diadaptasi oleh Robert Dilts (salah seorang developer NLP) dari buah pemikiran Gregory Bateson (anthropologist Inggris) mengenai “Logical Levels” yang intinya menyatakan bahwa dalam pembelajaran, perubahan, dan komunikasi terdapat hirarki atau tingkatan dari klasifikasi. Fungsi dari masing-masing bagian adalah untuk mengorganisasi informasi level di bawahnya dan cara untuk melakukan perubahan pada satu level berbeda dari level yang berada di bawah.

Secara singkat Neuro-Logical Levels, atau sering juga disebut dengan Logical Level, adalah tingkatan-tingkatan logis dari proses pikiran dan tingkatan neurologis yang sangat bermanfaat untuk membantu perubahan dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diinginkan.

Berikut ini adalah tingkatan-tingkatand dari Neuro-Logical Levels, sebagai berikut:

1. Purpose

2. Identity

3. Value & Belief

4. Capability

5. Behaviour

6. Environment

 

 

PURPOSE
Merupakan gambaran besar dari misi hidup seseorang. Misi hidup akan menentukan arah hidup seseorang yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain.

Untuk mengetahui Purpose Anda, tanyakan:

  1. Untuk apa saya hidup di dunia ini?
  2. Kalau meninggal nanti, saya ingin dikenal sebagai apa?
  3. Untuk siapa semua yang saya kerjakan ini?

IDENTITY
Identity menjelaskan tentang siapa diri kira. Coba gambarkan diri Anda dalam sebuah kalimat, siapa diri Anda? Kebanyakan orang akan mengalami kesulitan untuk mendeskripsikan siapa dirinya. Namun, intinya adalah orang yang dapat mendeskripsikan dirinya secara positif akan lebih bermanfaat daripada orang yang tidak dapat mendeskripsikan identitas dirinya apalagi deskripsi identitas yang negatif.

Untuk membantu untuk mencari tahu identity, tanyakan:

  1. Menurut Anda siapa diri Anda?
  2. Bagaimana Anda menjelaskan tentang diri Anda?
  3. Bagaimana orang lain menjelaskan mengena diri Anda?

VALUE / BELIEF
Value adalah apa yang penting dalam diri seseorang. Apa yang penting bagi seseorang belum tentu memiliki arti penting yang sama bagi orang lain. Contoh value dalam diri seseorang: agama, keluarga, finansial, persahabatan, dsb. Apa urutan pertama dalam diri seseorang akan menentukan fokus terbesar dalam dirinya. Selain itu value juga merupakan motivator terutama dalam hidup seseorang. Sebagai contoh, apabila value yang pertama dalam hidup seseorang adalah keluarga, maka keluarga merupakan motivator terutama dalam hidupnya. Apapun akan dilakukannya pasti ditujukan untuk kebahagiaan dan kebaikan keluarganya karena keluarga merupakan sumber motivasinya yang terutama, yang juga adalah value utama dalam hidupnya.

Sedangkan belief adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Yang terpenting dari belief bukan mengenai benar atau salah, namun empowering atau disempowering. Belief yang empowering adalah keyakinan yang menambah sumber daya dalam diri seseorang sedangkan disempowering adalah belief yang tidak menambah sumber daya dalam diri seseorang.

Berikut ini adalah beberapa contoh empowering beliefs:

  1. Ala bisa karena biasa.
  2. Ada banyak jalan menuju Roma.
  3. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit
  4. Sesulit apapun pasti ada jalan keluarnya.
  5. Tidak ada yang namanya gagal. Yang ada hanyalah umpan balik.
  6. Dst.

Sedangkan contoh dari disempowering beliefs adalah:

  1. Tidak mungkin bisa. Terlalu sulit.
  2. Itu sudah takdir. Tidak bisa diubah lagi.
  3. Latar belakang saya sudah seperti ini, tidak mungkin bisa bisa berubah.
  4. Santai saja. Nanti juga beres sendiri.
  5. Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah.
  6. Dst.

Bersambung …….. (Sukses dengan Neuro-Logical Levels – Bagian 2)

~ Live a life you want to life and make sure it is useful!