Monthly Archives: December 2012

Rahasia Dibalik Pola Gerakan Mata

Pernahkah Anda memperhatikan pada saat Anda menanyakan  sebuat alamat yang Anda ingin tuju kepada orang lain dan orang tersebut menjelaskan rute yang Anda harus lalui sambil matanya melirik ke arah kiri atas? Atau apakah Anda pernah memperhatikan bahwa orang yang sedang sedih karena suatu hal, matanya lebih sering melihat ke kanan bawah?

Kenapa bisa terjadi demikian? Berikut ini adalah penjelasannya.

Eyes accessing cues adalah pola gerakan mata yang dilakukan secara bawah sadar pada saat orang mengakses informasi tertentu dalam pikirannya. Maksudnya secara bawah sadar (unconscious) adalah bahwa proses ini berjalan secara alami, tanpa disadari dan berjalan dengan sendirinya (otomatis, tanpa dibuat-buat).

Biasanya, mata akan bergerak ke salah satu arah berikut ini: kanan (atas, tengah, bawah) atau kiri (atas, tengah, bawah). Dengan kata lain mata bergerak mengikuti apa yang sedang diproses oleh pikiran. Hal ini sejalan dengan presuposisi NLP “Mind and Body is part of the same system”, dimana “Mind” merupakan pikiran yang memproses informasi tertentu, dan “Body” adalah mata yang bergerak membuat pola gerakan tertentu mengikuti pikiran yang sedang bekerja.

Dalam NLP, pola gerakan mata ini dipelajari secara khusus dalam kelas praktisi NLP dan berikut ini adalah summary-nya:

1. Kanan atas = Visual Construct (biasanya disingkat dengan “Vc”)

  • Penjelasan: melihat gambar yang tidak pernah dilihat sebelumnya atau menciptakan(meng-construct) gambar yang belum pernah dilihat sebelumnya.
  • Contoh pertanyaan untuk mengakses “Vc”: “Dapatkah Anda membayangkan gajah berkepala singa dan berbuntut kuda?”

2. Kanan tengah = Auditory Construct (biasanya disingkat dengan “Ac”)

  • Penjelasan: Mendengar suara yang tidak pernah didengar sebelumnya atau menciptakan (meng-construct) suara yang belum pernah didengar sebelumnya.
  • Contoh pertanyaan untuk mengakses “Ac”: “Coba dengarkan lagu “Gangnam Style” dinyanyikan dalam dialek lokal”

3. Kanan bawah = Kinesthetic (biasanya disingkat dengan “K”)

  • Penjelasan: Merasakan sesuatu;  1. Dalam bentuk feeling (emosi), misal: senang, sedih, bahagia, dsb. atau 2. Dalam bentuk sentuhan fisik.
  • Contoh pertanyaan untuk mengakses “K”: “Coba rasakan terakhir kali Anda merasa bahagia?” (emosi), atau “Coba rasakan ujung jempol kanan Anda” (fisik).

4. Kiri atas = Visual Remembered atau Visual Recall (biasanya disingkat dengan “Vr”)

  • Penjelasan: Melihat gambar yang pernah dilihat sebelumnya, sama persis dengan yang dilihat sebelumnya.
  • Contoh pertanyaan untuk mengakses “Vr”: “Apa warna bangku yang Anda duduki waktu Anda SMP dulu?”

5. Kiri tengah = Auditory Remembered atau Auditory Recall (biasanya disingkat dengan “Ar”)

  • Mendengar suara yang pernah didengar sebelumnya, sama persis dengan yang didengar sebelumnya.
  • Contoh pertanyaan untuk mengakses “Ar”: “Coba dengarkan suara Ibu Anda memanggil nama kecil Anda?”

6. Kiri bawah  = Auditory Digital / Self Talk (biasanya disingkat dengan “Ad”)

  • Penjelasan: Berbicara dalam hati, berbicara pada diri sendiri, internal dialogue.
  • Contoh pertanyaan untuk mengakses “Ad”: “Apa yang Anda katakan pada diri Anda sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu?”

Note:

  1. Coba latih eyes accessing cues Anda sendiri sebelum mengamati pola eyes accessing cues orang lain dengan cara menanyakan pertanyaan tersebut diatas pada diri Anda sendiri. Apakah polanya sudah benar? Latihan ini akan sangat bermanfaat untuk memahami konsep eyes accessing cues.
  2. Pola diatas adalah untuk orang dengan tangan kanan. Untuk orang kidal biasanya polanya terbalik. Namun, lebih baik dipastikan dengan menanyakan beberapa pertanyaan untuk mengkalibrasi dan memastikan bahwa polanya adalah benar terbalik sebelum mengambil suatu kesimpulan final.

Semoga bermanfaat dan selamat berpetualang di dunia NLP.

~ Live the life you want to live & make sure it is useful.

Thank You 2012 & Welcome 2013

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2012. Banyak hal yang sudah dilewati selama tahun ini. Baik hal-hal yang menyenangkan maupun hal-hal yang tidak menyenangkan. Inilah dua hal yang paling diingat oleh manusia, yaitu hal yang paling membahagiakan dan hal yang paling tidak membahagiakan. Sisanya, pengalaman yang biasa-biasa saja, cenderung terlupakan atau tidak terlalu berbekas dalam ingatan. Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena pengalaman “biasa-biasa” yang tidak didasari oleh suatu emosi tertentu, terlepas dari apakah itu emosi positif atau emosi negatif cenderung untuk dilupakan. Contohnya adalah seperti ini, kalau saya tanya “apakah Anda masih ingat kaki mana yang pertama kali melangkah keluar dari pintu rumah pagi ini?” Apakah Anda dapat menjawabnya dengan 100% tingkat keyakinanan? Hmmm…. kelihatannya tidak mudah bukan? Memang benar, tidak segampang yang dipikirkan. Walaupun pilihan jawabannya cuma ada dua, yaitu kaki kanan dan kaki kiri, namun biasanya orang tidak yakin sepenuhnya dengan jawabannya tersebut.

Belum mau menyerah? Mau coba sekali lagi? :). Silahkan. Please take your time. Bagaimana? Tetap tidak 100% yakin bukan ….?

Ceritanya akan menjadi berbeda apabila pada saat melangkah melewati pintu tersebut, kaki kanan Anda menginjak sesuatu, misalnya seekor kecoa, dan Anda kaget karena tidak mengantisipasi hal itu. Dengan adanya kejadian ini, Anda pasti yakin 100% kaki mana yang melewati pintu rumah di pagi hari untuk yang pertama kalinya. Kenapa demikian? Tidak lain tidak bukan adalah karena ada emosi yang melandasinya, yaitu emosi kaget pada saat tidak sengaja menginjak kecoa.

Leave all the ngative emotions and preserve all the learnings. Jangan terjebak dalam keadaan emosi negatif yang tidak membuat diri kita lebih baik. Kuncinya adalah tinggalkan semua yang jelek (emosi-emosi negatif) dan simpan semua yang bagus (makna pembelajaran). Dalam setiap kejadian, dua hal ini; emosi dan makna pembelajaran selalu mengikuti setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Banyak orang yang salah dalam mengambil makna dari setiap kejadian, dimana mereka lebih sering menggenggam emosi negatif daripada mengambil makna pelajaran yang terkandung di balik kejadian tersebut. Misalnya, di tahun 2012 pernah gagal dalam berbisnis. Dari kejadian ini, orang cenderung untuk menggenggam emosi negatif (misalnya: takut, malu, minder, dsb.) dan tidak mengambil makna pembelajaran positif dari kejadian ini.

Daripada menggenggam emosi negatif, lebih baik lepaskan emosi negatif atas perasaan takut ini, dan ambil makna pembelajaran dari kejadian ini sehingga dikemudian hari apabila ketemu dengan kejadian yang serupa kita tidak perlu menghadapinya dari nol lagi karena sudah ada pembelajaran yang kita miliki.

Saya akan mengambil contoh lain yang agak ekstrim, misalnya pada suatu waktu di masa lampau pernah digigit oleh seekor ular. Akibatnya, terjadi emosi negatif berupa phobia atas ular. Daripada menggenggam emosi negatif, lebih baik tinggalkan emosi negatif tersebut dengan mencari cara untuk menghilangkan phobia tersebut (untuk cara menghilangkan phobia dengan teknik NLP, silakan baca teknik Fast Phobia Cure di sini). Dan, yang lebih penting lagi adalah mengambil makna pembelajaran dari kejadian digigit ular tersebut sehingga kapanpun di kemudian hari kita bertemu dengan ular maka kita sudah tahu (hasil dari pembelajaran  kejadian sebelumnya) bahwa ular adalah binatang yang dapat menggigit dan hasilnya bisa fatal. Dengan demikian maka kita tidak perlu takut lagi pada saat ketemu ular, alih-alih kita dapat menghadapi kejadian ini dengan baik berbekal pembelajaran yang kita miliki sebelumnya, misalnya jangan berdiri dekat-dekat dengan binatang berbisa ini.

Lebih lanjut lagi, kalau saya tanya “Dari skala 0 sampai 10, berapa nilai yang akan Anda berikan terhadap diri Anda untuk tahun 2012?” Kira-kira, berapa nilai yang Anda berikan? Coba ambil waktu sejenak untuk menjawabnya.

Excellent!, berapapun jawaban Anda, itu adalah hasil yang Anda lakukan selama tahun 2012. Ucapkan terima kasih atas apa yang telah Anda lalui di tahun 2012 karena banyak pengalaman dan pembelajaran yang dapat diambil dari sini. Untuk yang belum merasa puas dengan nilainya, jangan merasa sedih dan berputus asa karena kesempatan masih terbuka lebar di tahun 2013. Untuk yang nilainya sudah bagus, saya ucapkan “Selamat!” Silahkan dipertahankan dan apabila masih ada room for improvement, silahkan ditingkatkan lagi.

Akhir kata, inti dari semuanya ini adalah mari ambil makna pembelajaran dari setiap kejadian yang ada dan tinggalkan emosi negatifnya. Dan yang tidak kalah penting lagi adalah jangan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat (perbuatan-perbuatan tidak bermanfaat yang dilakukan melalui pikiran, ucapan, dan badan jasmani). Sebaliknya perbanyak perbuatan yang bermanfaat; baik melalui pikiran, ucapan, maupun badan jasmani, yang dapat membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun 2013. Thank you 2012 & welcome 2013; the year of opportunities!

~ Live the life you want to life & make sure it is useful.

Berhenti Merokok Dengan Six Steps Reframing

Sehari setelah membawakan training NHT (Neuro Hypnotic Trance-formation) saya mendapat pesan di Blackberry Messenger saya dari salah satu peserta pelatihan yang mengatakan bahwa kebiasaan merokoknya sudah hilang dan dia sudah tidak merokok lagi. Tentu mengetahui hal ini adalah sesuatu yang membahagiakan karena dapat berbagi manfaat dengan orang lain.

Walaupun terapi yang saya lakukan dalam kelas training NLP hanya sebatas demo bagaimana cara menggunakan teknik Six Steps Reframing, namun karena kemauan dan juga belief dari peserta training ini sangat positif dan menginginkan perubahan yang nyata dalam dirinya, maka teknik ini menjadi sangat mumpuni. Berikut saya tampilkan testimoni lengkapnya.

Bagaimana teknik ini bekerja? Bagi Anda yang ingin mengetahui, ini adalah langkah demi langkah dari teknik Six Steps Reframing, sbb:
1. Kenali pola atau perilaku yang ingin Anda ubah, misalnya: perilaku merokok.

2. Lakukan komunikasi dengan bagian pikiran bawah sadar Anda yang menyebabkan perilaku itu.
Selamilah diri Anda dan tanyakan pertanyaan berikut tentang diri Anda, sambil tetap mewaspadai secara pasif untuk melacak dan memberitahukan perubahan apapun pada perasaan tubuh, bayangan penglihatan, atau bunyi yang timbul sebagai tanggapan pertanyaan Anda. Pertanyaannya adalah: “Akankah “Bagian” dari diri saya yang menyebabkan Perilaku Merokok mau berkomunikasi dengan saya secara sadar? Apabila “Ya” tolong berikan tanda baik secara Visual (misalnya: melihat kilatan cahaya), Auditory (misalnya: mendengar suara), atau Kinestetik (misalnya: gerakan ritme jantung)”. Perhatikan salah satu tanda-tanda yang muncul seperti dijelaskan diatas.

  • Apabila jawabannya adalah “Tidak” (tidak ada tanda yang diberikan tubuh) maka ulangi pertanyaan diatas sampai mendapatkan jawaban “Ya”.
  • Apabila jawabannya adalah “Ya” (ada salah satu tanda yang diberikan tubuh) maka silakan maju ke bagian berikut ini.

Untuk mengkonfirmasi bahwa “Bagian” tersebut adalah benar-benar bagian yang bertanggung jawab atas perilaku merokok, mintalah “Bagian” yang menyebabkan perilaku merokok tersebut, sebut saja “Bagian X”, untuk memperkuat tanda kalau ingin mengkomunikasikan “Ya” (misal untuk yang tanda visual: kilatan cahaya semakin terang), dan menguranginya kalau ingin mengkomunikasikan “Tidak” (misal untuk yang tanda visual: kilatan cahaya semakin redup).
Sekarang ujilah tanggapan itu dengan meminta “Bagian” itu mengkomunikasikan “Ya” lalu “Tidak” sehingga Anda dapat membedakan kedua jawaban. Apabila jawabannya adalah “Ya”, maka silahkan maju ke tahap berikut.

3. Pisahkan MAKSUD dari PERILAKU.
Berterimakasihlah pada “Bagian” itu atas kesediannya berkomunikasi dengan Anda. Sekarang tanyakan “Apa manfaat positif dari perilaku merokok” tersebut. Tunggu sampai muncul jawaban verbal dari “Bagian” yang menimbulkan perilaku merokok tersebut (misal: agar percaya diri). Ucapkan terimakasih pada “Bagian” tersebut karena telah mempertahankan manfaat penting ini bagi Anda selama ini. Kemudian, katakan “silahkan kembali ke bagian darimana Anda berasal”.

4. Ciptakan perilaku lain yang lebih positif dan bermanfaat untuk memenuhi maksud tersebut.
Sekarang selamilah diri Anda dan hubungi “Bagian Kreatif” Anda. Mintalah “Bagian Kreatif” untuk mewujudkan tiga pilihan perilaku baru yang lebih positif dan lebih bermanfaat daripada Perilaku Merokok namun tetap selaras dengan maksud Percaya Diri. Mintalah “Bagian Kreatif” ini untuk memberitahu Anda dengan tanda “Ya” kalau ia telah mewujudkan tiga perilaku baru. Sekarang tanyakanlah pada “Bagian Kreatif” ini apakah ia mau menunjukkan pada Anda ketiga perilaku itu. Tunggu jawabannya (misalnya: 1. Berolah raga, 2. Minum Air Putih, 3. Membaca Buku). Ucapkan terima kasih kepada “Bagian Kreatif” atas saran yang sudah ia berikan. Kemudian persilahkan ia kembali ketempat darimana ia berasal.

5. Mintalah “Bagian X” untuk menerima pilihan baru dan tanggung jawab untuk mewujudkannya.
Sekarang tanyakan pada “Bagian X” dari tiga pilihan perilaku yang diberikan oleh “Bagian Kreatif”, perilaku mana yang ia pilih untuk menggantikan perilaku merokok namun tetap memenuhi maksud Percaya Diri. Tunggu jawaban dari “Bagian X” ini (misal jawabannya adalah berolah raga). Pilihan ini dapat dipertegas dengan menanyakan “Apakah “Bagian X” mau menerima pilihan berolah raga untuk menggantikan perilaku merokok namun tetap memenuhi maksud Percaya diri secara komit dan bertanggung jawab untuk mewujudkannya?” Apabila jawabannya adalah “Ya” (biasanya jawabannya adalah “Ya”), ucapkan terima kasih kepada “Bagian X” dan persilahkan ia kembali ke tempat darimana ia berasal.

6. Lakukanlah pengujian ekologis.
Kini selamilah diri Anda dan tanyakanlah kalau ada “Bagian” manapun yang keberatan pada persetujuan yang baru saja dilakukan atau apakah semua “Bagian” setuju dan mendukung perubahan ini. Kalau semuanya mendukung silakan keluar dari trance Anda dan lakukan future pacing untuk mengecek apakah perilaku merokok sudah digantikan dengan perilaku baru. Kalau ada bagian yang tidak mendukung, silakan ulangi lagi proses diatas sampai semuanya setuju (ekologis) atas perubahan yang dilakukan.

Demikian langkah demi langkah dari teknik Six Steps Reframing. Saran untuk pemula, lebih baik didampingi oleh seorang praktisi NLP sehingga dapat membimbing Anda pada saat stuck di bagian tertentu. Semoga bermanfaat.

~Live the life you want to live & make sure it is useful.

Value Creation

Pernahkah Anda mengalami pengalaman dimana Anda berhasil kabur dari tukang parkir jalanan dan pada saat Anda berhasil kabur dari tukang parkir tersebut Anda merasa senang? Apabila jawabannya adalah ya, maka Anda sama seperti saya. Sayapun pernah mengalami hal yang sama. Kalau dilihat uang Rp.2.000 itu tidak akan membuat kita jatuh miskin namun kita tidak rela memberikannya. Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena sedikit sekali atau bahkan tidak ada Value Creation atau manfaat yang kita rasakan dari jasa yang diberikan.

Ceritanya akan menjadi beda apabila ada manfaat (value) yang diberikan oleh tukang parkir tersebut, misalnya membantu mengeluarkan kendaraan kita dari kerumunan kendaraan lain, mendorong mobil yang menghalangi mobil kita, memayungi kita waktu berjalan ke mobil di saat hujan, dsb. Kita tidak akan merasa terbebani memberikan uang parkir tersebut. Bahkan apabila value yang diberikan lebih besar dari yang kita diharapkan, kita tidak akan segan memberikan uang lebih sebagai tips atas usahanya tersebut. Jadi intinya bukan terletak pada uang Rp.2.000 namun lebih kepada manfaat yang dihasilkan (value creation).

Dalam aspek lain, misalnya dalam bidang penjualan. Apabila seorang salesman berhasil menjual produknya dan produknya tersebut sesuai dengan apa yang dijanjikannya dan berhasil mengatasi masalah yang dihadapi oleh pembeli maka salesman tersebut telah menciptakan value creation baik bagi pembeli, perusahaan, maupun dirinya sendiri. Lain kali apabila pembeli yang senang tersebut ingin membeli produk yang sama maka dia akan mencari salesman itu lagi atau merekomendasikan kepada teman-temannya. Sebaliknya, apabila pembeli tersebut tidak merasakan manfaat seperti yang dijanjikan (over promise under delivery) maka jangan harap lain kali dia akan menghubungi penjual itu lagi.

Dalam dunia kerja juga sama. Berapa besar value yang kita berikan kepada perusahaan akan menentukan berapa besar value yang diberikan oleh perusahaan kepada kita dalam bentuk gaji, bonus, insentif, dsb. Tipsnya adalah tingkatkan value diri kita maka dengan sendirinya value yang akan kita terima juga akan meningkat mengikuti value diri ktia tersebut. Ini adalah pendekatan atau approach yang berbeda daripada yang biasanya. Orang biasanya gampang menuntut namun lupa meningkatkan value dirinya. Daripada sibuk menuntut perusahaan untuk menaikkan gaji kita, lebih baik kita tingkatkan value diri kita dengan cara belajar, menambah pengetahuan & keterampilan, menambah network, dan lain sebagainya. Dengan demikian maka market price kita akan meningkat. Mungkin ada pertanyaan dalam diri Anda saat membaca paragraf ini. Bagaimana kalau value saya sudah meningkat namun perusahaan tempat saya bekerja belum menaikkan gaji saya. Jangan kuatir, dunia ini bekerja berdasarkan hukum keseimbangan. Masih banyak perusahaan lain yang mau membayar sesuai dengan value yang Anda miliki tersebut. Atau, saatnya berpikir untuk pindah kuadran menjadi entrepreneur. Hmmm…. does it ring a bell? Dapat ide baru?

Dalam rumah tangga, apabila kita menciptakan value dalam rumah tangga kita sendiri maka kita akan dicintai oleh keluarga kita. Hidup akan lebih bahagia dan menyenangkan karena selalu membawa manfaat dalam keluarga. Bentuknya value creation itu dapat berupa hal yang sederhana seperti membantu mengerjakan pekerjaan rumah, sampai pada hal yang penting misalnya menghidupi keluarga sebagai seorang bread winner atau pencari nafkah.

Orang yang menciptakan value yang bermanfaat bagi orang-orang disekitanya akan selalu dicari. Ibarat permata dalam timbunan bebatuan. Orang-orang dengan value creation berbeda dari orang-orang lain disekitarnya. Mereka tidak menyalahkan (blame), tidak pasrah dengan keadaan, tidak mencari alasan (excuse), atau mencari pembenaran-pembenaran lainnya untuk menutupi suatu keadaan. Alih-alih, orang dengan attitude value creation adalah orang yang mengambil kendali, pengubah keadaan, menghasilkan manfaat melalui apa yang mereka pikirkan, ucapkan, dan lakukan. Intinya, mereka adalah orang-orang yang menciptakan value atau manfaat bagi orang lain secara  berkesinambungan. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah memiliki attitude value creation? Pastikan jawabannya sudah. Semoga bermanfaat.

~Live a life you want to live & make sure it is useful.

Live with Passion

Banyak orang mengeluh mengenai pekerjaan yang mereka lakukan. Dari gaji yang kecil, tugas yang bejibun, pulang larut malam, bos yang galak, rekan kerja yang tidak menyenangkan, dan seribu satu keluhan lainnya. Saya sering bercanda dengan teman-teman saya dan berkata bahwa manusia jaman sekarang hidupnya cuma Sabtu & Minggu. Di antara hari-hari yang lain (Senin – Jumat), hidupnya antara setengah hidup dan setengah mati. Kebanyakan dari mereka yang mendengar pernyataan ini akan tersenyum. Saya tidak tahu apakah karena lucu atau karena mereka termasuk dalam kelompok ini dan menertawakan dirinya sendiri.

Kalau dicermati lebih lanjut, biasanya pada saat hari berganti Sabtu, orang girang bukan kepalang karena ini adalah hari “pembalasan” atas kerja keras yang dilakukan dari hari Senin sampai Jumat. Saatnya bersenang-senang dan memanjakan diri sendiri. Kesenangan ini terus berlanjut sampai minggu sore. Begitu memasuki minggu malam, biasanya mood sudah mulai berubah ketika memikirkan besok harus berangkat kerja lagi. Puncak dari bad mood ini terjadi pada saat bangun di Senin pagi. Langsung muncul self talk “I HATE MONDAY”. Semangat hidup langsung menguap hilang entah kemana. Ibarat handphone yang tidak ada signal dan lowbat pula. Di masing-masing kaki serasa ada satu ton pemberat pada saat hendak berangkat kerja. Hatipun idem, sama beratnya. Inilah fenomena orang dewasa ini yang pekerjaannya tidak sesuai dengan passion-nya (baca: bekerja tidak sesuai dengan apa yang disukainya).

Passionate people see the world differently. Ternyata hal ini berbeda dengan orang-orang yang bekerja sesuai dengan passion-nya. Mereka justru tidak sabar menanti datangnya hari Senin. Kenapa demikian? Ternyata mereka bekerja seperti halnya bermain. Ambil contoh begini, bayangkan ketika Anda melakukan hobi yang Anda sukai. Bagaimana perasaan Anda pada saat melakukannya? Apakah ada keluhan? Tentu tidak bukan? Alih-alih, orang sering hanyut dalam keasikan tersendiri pada saat melakukan hobi tersebut. Tidak jarang sampai lupa waktu, lupa makan, lupa minum sampai pada lupa akan orang-orang yang ada di sekitarnya karena menyatu atau berasosiasi dengan apa yang dilakukannya tersebut.

Find your passion. It is something worth to find. Ya benar sekali, luangkan waktu untuk menemukan passion Anda. Jangan sampai kita tidak tahu apa passion kita karena bekerja sesuai passion adalah sesuatu yang sangat berharga untuk dilakukan. Temukan jawabannya dalam diri sendiri, jangan tanya sama orang lain karena orang lain tidak tahu 100% apa yang Anda sukai. Mereka bukanlah diri Anda dan mereka tidak tahu apa sebenarnya yang Anda inginkan. Passion itu terletak di dalam diri sendiri bukan berada dalam perkataan orang lain. Ambil alih tanggung jawab ini untuk menemukan passion Anda, jangan serahkan pada orang lain karena proses penemuan passion adalah bersifat pribadi. Bagi yang belum menemukan passion, saran saya lakukan proses pencarian ini sekarang dan nikmati prosesnya.

Use your linguistic to search inside your mind. Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara menemukan passion? Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menemukannya asal Anda mau meluangkan waktu untuk mencarinya. Salah satu cara yang terbaik untuk menemukan passion adalah dengan menggunakan linguistic Anda sendiri dengan bertanya dalam hati: “Apa yang saya sukai dalam hidup ini yang kalau dilakukan tidak terasa melelahkan?”, “Pekerjaan apa yang kalau tidak dibayarpun saya suka melakukannya?”, atau “Hal apa yang kalau dilakukan akan membuat saya terus bersemangat dan bergairah dalam melakukannya?”. Listen to your inner voice and you will get the answer. Dengarkan suara hati Anda dan Anda akan menemukan jawabannya.

The secret is that your job must be in line with your passion. Pekerjaan adalah aktifitas yang paling memakan waktu dalam hidup kita. Kontribusinya bisa memakan 35% sampai 50% dari waktu kita setiap hari dan kadang bisa lebih. Ambil contoh seseorang yang bekerja di kantor. Waktu jam kerja normal adalah delapan jam. Apabila ditambah waktu perjalanan dari rumah ke kantor selama dua dan lembur dua jam maka total waktu yang diluangkan untuk bekerja adalah dua belas jam sehari. Itu artinya lima puluh persen hidup orang tersebut dihabiskan untuk bekerja. Dapatkah Anda bayangkan apabila pekerjaan yang dilakukan itu adalah pekerjaan yang tidak disukai? Tentu sangat tidak menyenangkan bukan? Daripada hidup penuh dengan keluhan lebih baik menggantikannya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Confucius pernah berkata “choose a job you love and you will never have to work a day in your life”. Pilihlah sebuah pekerjaan yang Anda cintai dan Anda tidak akan pernah bekerja seharipun dalam hidup Anda.

Tips: start with your hobby and materialize it. Hobi dapat menjadi suatu titik permulaan yang baik untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion Anda. Tugas Anda adalah bagaimana menghubungkan hobi tersebut dengan entrepreneurship, sehingga hobi tersebut dapat menjadi sumber penghasilan bagi hidup Anda. Semoga bermanfaat dan selamat menikmati proses pencarian passion Anda.

~ Live a life you want to live & make sure it is useful