Monthly Archives: January 2013

Ketika Semuanya Menjadi Tidak Terkendali

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak masalah yang kita hadapi. Terkadang masalah yang satu belum selesai, sudah muncul lagi masalah yang lain. Capek rasanya secara fisik maupun mental untuk mengatasi masalah yang ada. Dalam artikel kali ini, saya akan bercerita mengenai keadaan yang sangat chaotic atau tidak terkendali dan bagaimana yang harus kita lakukan. Semoga tulisan ini dapat menghibur Anda dan memberikan semangat baru lagi dalam mengatasi masalah yang ada. Nah, apa yang harus kita lakukan pada saat kondisi yang sama terjadi pada diri kita? Silakan nikmati tulisan dibawah ini.

Sudrun dan Kegalauannya
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang jatuh cinta dengan teman kuliahnya. Sebutlah nama pemuda itu Sudrun dan cewek yang ditaksirnya itu bernama Sandra. Karena saking ngebetnya Sudrun sudah tidak tahan lagi ingin “nembak” Sandra. Namun, Sudrun ternyata bukanlah tipe orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Dia menuliskan pemikirannya tersebut dalam selembar surat yang dimasukkan ke dalam amplop dan kemudian Sudrun meminta bantuan adiknya Sandra untuk memberikan kepada kakaknya tersebut dengan iming-iming akan diberikan sejumlah uang apabila misinya tersebut berhasil. Berhubung adik Sandra ini masih polos maka dia langsung membawa surat tersebut pulang ke rumah.

Sehari berlalu, dua hari, tiga hari, sampai seminggu masih belum ada kabar dari Sandra. Rasa cemaspun menghinggapi diri Sudrun. Dengan rasa penasaran yang besar dia menemui adiknya Sandra dan menanyakan ada apa gerangan hingga sampai sekarang masih belum ada jawaban dari Sandra. Dengan polosnya adik Sandra berkata, bahwa suratnya sudah dicoba diberikan kepada Sandra. Namun pada saat surat itu ingin diberikan, kakaknya tidak berada di rumah maka surat ini diberikan kepada ayahnya. “Mati aku!”, kata Sudrun dalam hati. “Terus, apa yang terjadi kemudian?”, kejar Sudrun. Dengan perasaan tidak bersalah, sang adik berkata, “Setelah dibaca, suratnya diminta oleh ayah saya dikembalikan kepada Kak Sudrun”.

Pikiran Sudrun pun tambah galau karena sampai sekarang suratnya tidak sampai pada dirinya. Dia kembali bertanya, “Kepada siapa surat itu kamu berikan? Sampai sekarang saya belum menerimanya”. “Nah itulah masalahnya Kak Sudrun, berhubung waktu itu kakak tidak berada di rumah, yang ada cuma ayah Kak Sudrun, maka surat itu saya berikan kepada ayah kak Sudrun” kata si adik. Sekonyong-konyong kaki Sudrun langsung lemas tidak bertenaga karena kegalauannya sudah memuncak.

Cerita diatas mungkin mengundang senyum dan tawa ketika melihat permasalahan yang dialami tokoh kita, si Sudrun. Namun, tidak demikian halnya apabila masalah yang sebenarnya dialami oleh diri kita. Bisa pusing tujuh keliling.

Nah, kalau begitu apa dong yang harus kita lakukan pada saat kita berada pada situasi yang tidak terkendali? Ini adalah tipsnya:

  1. Tenangkan dulu diri kita karena semakin panik pikiran kita, semakin kacau tindakan kita. Ingat!, “Orang yang emosinya sedang berada di titik tertinggi, logikanya berada di titik yang paling rendah”.
  2. Terima dahulu kenyataan yang ada. Semakin cepat kita menerima kenyataan yang ada semakin cepat kita berdamai dengan diri kita dan semakin cepat stress juga tersebut mereda. Semakin kita memberontak, maka akan semakin besar energi yang kita keluarkan dan semakin lama proses pendamaian dalam hati akan terjadi.
  3. Apabila kita mampu untuk langsung menyelesaikan permasalahan yang ada, selesaikanlah saat itu juga.
  4. Namun, apabila permasalahan yang terjadi tersebut belum mampu diselesaikan, sadarilah. Dengan menyadari masalah yang ada, artinya kita tidak lari dari kenyataan yang ada dan secara berangsur-angsur konflik yang terjadi dalam pikiran kita akan mereda.
  5. Dan terakhir adalah dengan penuh semangat berusaha untuk menambah sumber daya – sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang ada sampai masalah tersebut dapat diselesaikan.

Semoga bermanfaat.

~ Live the life you want to live & make sure it is useful!

Belajar dari Sebuah Sikat Gigi Tua

Virginia Satir, seorang family therapist, yang juga adalah salah seorang dari 3 orang yang dimodel oleh Bandler dan Grinder mengatakan bahwa basic instinct manusia bukanlah survival atau bertahan hidup, namun “to keep things familiar. Atau dengan kata lain, manusia memiliki sifat atau kecenderungan untuk mempertahankan dan melakukan hal-hal yang sama. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan orang susah berubah karena adanya dorongan dari bawah sadar untuk mempertahankan dan melakukan hal-hal yang sama.

Suatu hari saya merasa bahwa sudah waktunya bagi saya untuk mengganti sikat gigi saya yang sudah tidak layak pakai lagi. Sikat gigi tua yang mau dipensiunkan ini sudah tidak nyaman untuk digunakan karena bulu sikatnya sudah melebar kemana-mana sehingga kalau digunakan menyebabkan gusi menjadi sakit karena bulu sikatnya ikut menyikati gusi saya.

Pada saat itu juga saya mengatakan pada diri saya sendiri setelah sikat gigi kali ini saya akan menggantinya dengan sikat gigi yang baru. Setelah selesai, saya meletakkan sikat gigi itu kembali ke tempatnya semula. Bencana kembali terjadi karena pada saat malam sebelum tidur saya kembali menggunakan sikat yang sama. Kembali saya mengatakan setelah sikatan terakhir ini saya akan segera mengganti sikat gigi tua ini dengan sikat gigi yang baru. Setelah proses sikat gigi selesai saya kembali meletakkan sikat gigi ini kembali ke tempatnya semula. Perubahan tetap tidak terjadi! Walaupun saya sudah mengatakan untuk menggantinya berulang kali. Keesokan paginya saya tetap menggunakan sikat gigi yang sama.

Benar kata Virginia Satir bahwa basic instinct manusia bukanlah survival, namun mempertahankan melakukan hal-hal yang sama. Hal ini terjadi karena suatu kebiasaan dilakukan terus menerus melalui jalur neuron yang sama dan tersimpan dalam program bawah sadar. Semua program yang tersimpan di bawah sadar akan bekerja secara otomatis. Untuk mengetahui bagaimana terbentuknya suatu kebiasaan dan bagaimana cara meng-uninstall kebiasaan buruk baca: Jalur Neuron & Kebiasaan.

Melanjutkan cerita sikat gigi diatas, sampailah saya pada suatu hari dimana setelah sikat gigi yang terakhir saya langsung membuang sikat gigi tua itu ke tong sampah walaupun dengan risiko tidak sikat gigi pada esok pagi karena belum tentu ada stok sikat gigi di rumah. Dan benar, esok paginya saya kalang kabut karena tidak menemukan sikat gigi tua tersebut di tempatnya dan tidak ada stok sikat gigi baru di rumah. Namun, Voila! Perubahan terjadi. Sayapun melangkah ke minimarket terdekat untuk membeli sikat gigi baru.

Change will never take place if it is not put into action & miracle only happens in the real actions. Belajar dari cerita sederhana diatas, perubahan tidak pernah akan terjadi apabila tidak dilakukan & keajaiban hanya terjadi dalam aksi nyata. Proses perubahan tidak cukup hanya dipikirkan dan diucapkan saja. Namun, harus dilakukan. Itu sebabnya orang yang sering membuat rencana, terlepas apakah itu  rencana bisnis, rencana merubah kebiasaan buruk, dan rencana-rencana lainnya, tidak akan berhasil apabila tidak dilakukan.

Sebagai penutup, apabila outcome atau goal sudah dibuat, langkah berikutnya adalah melakukannya dalam bentuk ACTION. Pertanyaannya adalah, “Apakah Anda sudah melakukan apa yang sudah Anda rencanakan?”

Semoga bermanfaat.

~ Live the life you want to live & make sure it is useful.

Anticipate the Change Before It Happens to You

Segala sesuatu yang berbentuk atau berkondisi adalah tidak kekal. Satu-satunya yang kekal adalah perubahan itu sendiri. Manusia tidak bisa melawan hukum alam ini. Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah mengantisipasi dan mempersiapkan diri dengan baik sehingga pada saat perubahan terjadi, kita sudah siap menghadapinya.

J. Stewart Black, Ph.D., profesor Business Administration di University of Michigan, USA  dan Hal B. Gregersen, Ph.D. profesor Global Leadership di Brigham Young University, USA, mengelompokkan perubahan ke dalam 3 jenis, yaitu:
1.      Anticipatory change
Tindakan-tindakan antisipatif dilakukan jauh sebelum suatu hal yang buruk terjadi. Ini adalah tahap yang paling ideal dalam change management atau pengelolaan perubahan karena sebelum perubahan itu terjadi kita telah melakukan tindakan-tindakan antisipasi. Misalnya, sebelum sakit terjadi, kita melakukan antisipasi berupa olah raga dan berpola hidup sehat, dsb. sebelum risiko obesitas, sakit jantung, stroke, dsb. menghampiri diri kita.

2.      Reactive change
Tindakan-tindakan reaktif yang dilakukan untuk menghadapi suatu perubahan yang telah terjadi. Tahap ini kurang ideal, namum masih lebih baik apabila dibanding dengan crisis change (perubahan karena krisis). Contohnya, pada saat mulai batuk-batuk, orang baru berhenti merokok dan minum obat (bersifat reaktif).

3.      Crisis change
Tindakan-tindakan perubahan dimulai pada saat krisis terjadi. Fase ini adalah perubahan yang paling tidak ideal dan sangat tidak disarankan karena tingkat keberhasilannya sangat kecil walaupun tidak bisa dikatakan tidak ada. Contohnya, pada saat orang divonis dokter terkena sakit kanker paru, baru mau melakukan perubahan. Tingkat keberhasilan akan semakin kecil apabila krisisnya (baca: kankernya) sudah berada pada yang lebih tinggi, misalnya: stadium IV pada penyakit kanker.

Ketiga jenis perubahan diatas tidak hanya berlaku pada individu namun juga dalam dunia korporasi. Berikut ini adalah penjelasan berikut dengan contoh-contohnya:

Anticipatory change
Perusahaan tetap melakukan continuous improvement, walaupun berada dalam keadaan yang sangat baik, seperti penjualan masih tumbuh, banyak orang-orang bagus dalam perusahaan, nama baik perusahaan disegani di pasar, tingkat keuangan sangat sehat. Perusahaan tetap konsisten melakukan perubahan-perubahan antisipatif, seperti melakukan peningkatan sistem, melakukan inovasi tiada henti, berinvestasi pada sistem IT, melakukan training bagi SDM-nya, dsb.

Reactive Change
Pada tahap ini ditandai dengan tanda-tanda yang mulai menurun, seperti: penjualan mulai stagnan, pelanggan mulai berpindah ke perusahaan lain, kredibilitas perusahaan mulai berkurang, karyawan bagus sudah mulai berkurang, tingkat keuangan tidak sebaik sebelumnya, dsb. Pada tahap ini perusahaan harus melakukan turn around untuk membalikkan arah ke arah yang lebih baik melalui tindakan-tindakan reaktif, misalnya melakukan “company health check” untuk mencari tahu apa inti permasalahan yang sedang dihadapi sehingga dapat dilakukan tindakan-tindakan perbaikan untuk melakukan turn around.

Crisis Change
Pada tahap ini ditandai dengan tanda-tanda yang kurang menguntungkan, seperti: penjualan menurun drastis, pelanggan berpindah secara significant ke kompetitor, kondisi keuangan perusahaan sedang parah-parahnya, nama baik perusahaan jelek di pasar, karyawan bagus sudah tidak ada dalam perusahaan, dsb. Pada tahap ini perusahaan berada dalam keadaan krisis yang dapat diibaratkan seperti terkena kanker pada stadium IV. Untuk keluar dari keadaan ini dibutuhkan usaha yang luar biasa besar dan tingkat keberhasilannya tidak setinggi tahap reactive change.

Dengan mengetahui jenis-jenis perubahan seperti yang diuraikan diatas maka sangat disarankan untuk terus melakukan perubahan antisipatif. Jangan menunggu sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya sakit, baru kemudian kita sibuk melakukan perubahan. Namun, justru pada saat sehat seperti sekarang ini, dimana kondisi masih sehat, tenaga masih kuat, semangat masih tinggi, kita terus melakukan perubahan antisipatif.

Senada dengan apa yang dikatakan oleh Black & Gregersen diatas, Peter F. Drucker mengatakan, “One cannot stop the change. One can only be ahead of it”. Kita tidak dapat menghentikan perubahan. Namun kita dapat  berada di depan perubahan itu untuk melakukan antisipasi atas datangnya perubahan tersebut. Semoga bermanfaat.

~Live a life you want to live & make sure it is useful!

Teknik NLP: Asosiasi & Disosiasi

Dalam NLP sering dijumpai technical terms berupa association dan dissociation atau dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai ASOSIASI dan DISOSIASI. Kedua hal ini sebenarnya terdapat dalam diri setiap orang. Namun, mungkin karena tidak disadari maka orang tidak merasakannya. Dan yang lebih jelek lagi, dalam penggunaannya, orang sering salah dan terbalik antara yang satu dengan yang lain. Hasilnya, tentu tidak maksimal dan malah menjauhkan orang dari kesuksesan dan kebahagiaan.

Lebih lanjut lagi, asosiasi dan disosiasi adalah landasan dari berbagai teknik dalam NLP. Salah satunya adalah teknik Fast Phobia Cure untuk mengatasi fobia yang sangat terkenal keefektifannya itu. Untuk detail dari teknik Fast Phobia Cure silakan baca “Terbentuknya Fobia & Cara Mengatasinya”.

ASOSIASI
Orang yang berada dalam keadaan asosiasi akan akan mengakses memorinya baik itu di masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang, melalui VAKOG (panca inderanya) sendiri secara penuh, seperti: melihat dari mata sendiri, mendengar dari telinga sendiri, merasakan sendiri, mencium dari hidung sendiri dan mencecap dengan lidah sendiri.

Untuk mengetahui bagaimana asosiasi bekerja, coba lakukan latihan sederhana sebagai berikut: Coba bayangkan suatu kejadian yang sangat membahagiakan bagi Anda, misalnya: kelahiran anak pertama, mendapatkan rumah impian, mendapatkan kejutan di hari ulang tahun, dan lain sebagainya. Masuk kembali dalam pengalaman tersebut dan lihat dari mata Anda sendiri, dengarkan dari telinga Anda sendiri, dan rasakan apa yang Anda rasakan saat itu. Ulang beberapa kali sampai Anda mendapatkan feel-nya. Dari skala 0 s/d 10 (0 paling rendah dan 10 paling tinggi) di angka berapa emosi Anda setelah melakukan asosiasi diatas? Untuk hasil asosiasi yang bagus adalah apabila angkanya berada di titik optimum (10) atau mendekati angka 10.

Asosiasi dapat membuat Anda mengalami sepenuhnya pengalaman atau kejadian baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi (misalnya visualisasi pencapaian impian) melalui seluruh panca indera Anda. Proses kebalikan dari Asosiasi adalah Disosiasi.

DISOSIASI
Orang yang berada dalam keadaan disosiasi akan mengakses memorinya baik itu di masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang melalui VAKOG (panca inderanya) sendiri dari kejauhan. Dalam hal ini, orang tersebut akan melihat dirinya dari kejauhan ibarat melihat fotonya sendiri.

Untuk mengetahui bagaimana disosiasi bekerja, coba lakukan latihan berikut ini. Coba pilih pengalaman atau kejadian yang kurang menyenangkan. Saran saya pilihlah pengalaman yang emosinya tidak terlalu intens karena ini hanya sebatas latihan, misalnya kesal karena teman terlambat. Jangan memilih kejadian yang memiliki emosi yang intens seperti kehilangan orang yang dicintai, fobia, dsb. kecuali Anda didampingi oleh seorang NLP Practitioner yang berpengalaman.

Masuk kembali dalam pengalaman tersebut dan lihat diri Anda dalam kejadian tersebut seperti Anda melihat foto Anda. Sama halnya juga dengan apa yang Anda dengarkan, seolah-olah mendengar dari kejauhan. Apabila Anda melakukan hal ini dengan benar maka emosi yang dirasakan tidak akan terlalu intens karena proses pembuatan jarak antara (emotional detachment). Apabila menggunakan skala seperti yang disebutkan sebelumnya diatas, emosi ideal yang dirasakan dalam posisi disosiasi adalah mendekati nol. Disosiasi sangat membantu dalam menangani emosi negatif, seperti stres, sedih, kecewa, dsb.

Virginia Satir adalah seorang family therapist yang sangat piawai dalam menggunakan linguistic-nya dalam membantu seorang klien yang mengalami masalah dalam hidupnya. Ia sering menggunakan kata-kata sebagai berikut: “Coba lihat diri Anda yang sedang mengalami masalah tersebut”. Seketika itu juga, klien yang tadinya sangat terasosiasi dengan masalahnya berganti menjadi posisi disosiasi (melihat dirinya dari kejauhan) dan emosi negatifnya menjadi berkurang.

Lebih lanjut lagi, Bandler (The Father & Co-creator of NLP) menggunakan posisi disosiasi, bahkan sampai triple dissociation (tiga kali disosiasi), dalam melakukan terapi terhadap orang-orang yang memiliki fobia. Tujuannya adalah untuk melemahkan emosi negatif karena orang-orang yang fobia akan mengalami emosi negatif yang sangat intens pada saat mengunjungi kembali pengalaman fobianya tersebut. Dengan cara ini proses terapi berlangsung dengan sukses.

Dengan mengetahui cara kerja asosiasi dan disosiasi maka kita dapat menggunakannya dalam konteks yang tepat. Untuk konteks yang bahagia dan menyenangkan maka asosiasi adalah pilihan yang tepat. Namun, apabila dalam konteks yang kurang bahagia dan kurang menyenangkan maka disosiasi adalah pilihan yang paling tepat agar kita tidak merasakan emosi yang terlalu intens dalam hal ini. Apakah Anda sudah dapat membedakan dan menggunakan asosiasi dan disosiasi secara tepat?

Semoga bermanfaat.

~ Live a life you want to live & make sure it is useful.

Masukkan Seekor Ikan Hiu Dalam Tangki Hidup Anda

Seperti biasa, begitu bangun pagi saya langsung membuka laptop saya. Waktu 24 jam terasa tidak cukup. Jadi harus pintar-pintar membagi waktu agar dapat menyelesaikan tugas-tugas yang harus dilakukan, termasuk menulis artikel ini agar dapat selesai tepat pada waktunya.

Setelah membuka laptop, tiba-tiba saya teringat cerita ikan hiu inspiratif yang pernah saya baca dulu. Walaupun kondisi penyimpanan ikan dewasa ini sudah sangat maju dan mungkin juga kondisi penyimpanan ikan di bawah sudah tidak sesuai lagi dengan teknologi saat ini, namun efek dari morale story-nya sangat luar biasa. Saya tidak tahu siapa pertama sekali yang menulis cerita ini, namun tidak ada salahnya saya mengucapkan terima kasih atas ceritanya ini.

Berikut ini adalah ceritanya …..  Jepang adalah bangsa yang sangat menyukai ikan segar. Hal ini bisa dilihat dari makanannya yang banyak terdiri dari ikan-ikan segar dalam sushi atau sashimi yang dihidangkan. Kesegaran ikan adalah kunci utama dalam menentukan nikmat tidaknya sushi atau sashimi tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan ikan tetap dalam keadaan segar pada saat mencapai daratan.

Awalnya teknik penyimpanan ikan dalam kapal adalah dengan diberi es dan ditaburi garam. Dengan cara ini diharapkan ikan-ikan yang dimasukkan dalam tempat penyimpanan ini dapat tetap segar selama dalam perjalanan. Namun kenyataannya ikan tidak terlalu segar lagi pada saat mencapai daratan karena memang sudah mati waktu dalam perjalanan.

Belajar dari hal ini, nelayan Jepang memperbaiki metode penyimpanan ikannya dengan membuat tangki penampungan ikan yang lebih besar dengan air laut di dalamnya sehingga ikan-ikan yang ditangkap dapat berenang di dalam tangki berisi air laut ini. Cara ini lebih baik daripada cara sebelumnya. Namun sebelum sampai di daratan, ikan-ikan ini sudah mati lemas terlebih dahulu.

Nelayanpun kembali memutar otak untuk mencari cara yang lebih baik lagi. Kali ini, nelayan tetap menggunakan tangki seperti diatas, namun perbedaannya sekarang adalah tangki tersebut diisi dengan seekor ikan hiu kecil. Memang ikan hiu ini memangsa beberapa ikan yang ada di dekatnya namun mayoritas ikan tetap hidup pada saat sampai di daratan.

Kenapa ikan-ikan ini dapat tetap hidup tidak seperti ikan-ikan sebelumnya yang tidak memiliki ikan hiu dalam tangki penampungannya? Ternyata dengan hadirnya seekor ikan hiu membuat mereka lebih waspada terhadap predator yang dapat memangsa mereka setiap saat. Mereka terus berenang menjauhi ikan hiu yang bergerak mendekat ke arah mereka.

Morale of the story
Ikan hiu yang dimaksudkan dalam cerita diatas adalah masalah atau tantangan yang kita jumpai dalam hidup. Bisa dalam karir, rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Ikan hiu atau masalah, tantangan, ancaman, dsb. dapat kita gunakan untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat. Dengan adanya ikan hiu ini, ikan menjadi lebih waspada dan terus bergerak. Sama halnya dengan manusia, dengan adanya masalah, tantangan, ancaman yang ada disekitar kita, hal ini dapat membuat kita untuk lebih waspada, terus bergerak, dipaksa keluar dari comfort zone, menjadi fleksibel dengan cara-cara baru, stretching our limit (menembus limit kita sekarang), dsb.

Brian Tracy, seorang success coach, mengatakan ada 2 hal yang menghalangi manusia untuk maju: 1. Homeostatis, suatu keadaan untuk terus di status-quo dan 2. Psychosclerosis, suatu keadaan dimana manusia tidak fleksibel lagi terhadap keadaan. Kedua hal tersebut membuat orang takut meninggalkan comfort zone-nya.

Dengan memasukkan seekor ikan hiu dalam tangki hidup kita maka akan membuat kita dipaksa untuk keluar dari keadaan status-quo dan menjadi fleksibel mempelajari hal-hal baru yang dapat mendukung kita mencapai tujuan kita. Sudahkah Anda memasukkan seekor ikan hiu dalam tangki hidup Anda?

~ LIVE A LIFE YOU WANT TO LIFE & MAKE SURE IT IS USEFUL!