Monthly Archives: April 2013

Public Speaking with NLP

Pada NLP Indonesia Conference 2013, 20 April yang lalu, Owen Fitzpatrick, Master Trainer of NLP dan pengarang beberapa buku best seller, seperti: “Conversation with Richard Bandler”, “The Charisma Edge”, dsb. membawakan tema Public Speaking di hadapan para peserta. Pembawaannya yang lugas dan sangat berpengalaman menyihir para pendengar. Hal ini juga termasuk caranya menjawab pertanyaan peserta pada saat Advanced NLP Skills di malam hari. Tidak salah kalau beliau diberikan title Licensed Master Trainer of NLP oleh Dr. Richard Bandler pada usia yang sangat muda, 23 tahun.

Special thanks untuk Pak Hingdranata Nikolay, Master Trainer Indonesia yang telah membawa master trainers lainnya seperti Owen Fitzpatrick dan Anders Pipers ke Jakarta. Dan juga atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbicara (Successful Marketing with NLP) di forum yang luar biasa ini. Artikel berikutnya saya akan menulis mengenai tema yang saya bawakan dalam NLP Conference yang baru saja berlalu.

Tulisan ini mencoba merangkum apa yang disampaikan oleh Owen, sehingga bagi yang tidak sempat mengikuti seminarnya dapat juga mencicipi Public Speaking yang dibawakannya. Owen memulai seminar ini dengan pertanyaan “WHY”. Apa alasan utama seorang public speaker berprofesi di bidang public speaking. Apabila dimulai oleh “WHY” yang kuat maka public speaking yang dibawakan akan membawa IMPACT bagi pendengarnya dan juga pembicaranya. Public speaking seperti ini yang dikatakan Owen sebagai Charisma Public Speaking, sebuah public speaking yang penuh energi dan membawa manfaat. Selain itu, pertanyaan “WHY” akan membawa pada alasan utama seorang pembicara untuk membawakan sebuah public speaking yang berbeda dengan kualitas yang berbeda juga. Selaras dengan ini, bagi seorang Owen, “WHY”-nya adalah untuk memberikan IMPACT kepada para pendengarnya yang pada ujungnya akan memberikan IMPACT juga pada dirinya. So, langkah pertama adalah tanyakan “WHY” Anda sebelum masuk dalam dunia public speaking.

Langkah ke-dua adalah bagaimana membuat koneksi yang kuat dengan para audiens sehingga public speaking yang dilakukan berjalan lancar (flowing) dan menarik (interesting). Ada 4 pertanyaan yang dapat membantu seorang pembicara untuk connect dengan para audiensnya, yaitu:

  1. What do I like about them? – Apa yang saya sukai dari para audiens?
  2. How are they similar to me? – Bagaimana mereka kelihatan sama dengan saya?
  3. How do I make them look good? – Bagaimana saya dapat membuat mereka lebih baik?
  4. What can I do for them? – Apa yang dapat saya lakukan untuk mereka?

Dengan menanyakan pertanyaan diatas maka akan tercipta “connection” atau “rapport” antara pembicara dengan audiens.

Langkah ketiga adalah menyusun dan mempersiapkan sebuah public speaking dengan baik. Menurut Owen ada tiga bagian yang harus disusun dan dipersiapkan sebelum membawakan sebuah public speaking, yaitu:

1. Introduction
Bagian ini adalah penjelasan singkat mengapa audiens merasa perlu mendengarkan Anda sebagai seorang pembicara. Jelaskan siapa Anda, pengalaman, dan yang Anda lakukan yang membuat orang lain mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan Anda.

Kemudian, berikan gambaran singkat tentang pesan utama dari public speaking yang akan Anda sampaikan. Jangan lupa untuk menarik perhatian (grab attention)  audiens dari awal seperti menceritakan sebuah quote, joke, kisah, berinteraksi dengan peserta, melempar pertanyaan yang menarik minat peserta, dsb. Tujuannya adalah untuk membentuk emosi positif dan ketertarikan peserta kepada pembicara dan apa yang akan disampaikan.

2.The Body Part
Bagian ini adalah bagian utama dari pesan yang Anda ingin sampaikan kepada para audiens yang terdiri dari beberapa pesan. Setiap pesan yang disampaikan hendaknya disampaikan dengan jelas dan didukung oleh fakta dan data pendukung dengan tujuan untuk meningkatkan keyakinan audiens terhadap pesan yang Anda sampaikan. Berikan juga contoh-contoh, bukti, fact & figure, pengalaman, atau cerita yang menguatkan pesan utama yang Anda sampaikan.

Dalam membawakan seminar atau training terkadang ada peserta yang bertanya atau ragu dengan apa yang Anda sampaikan. Untuk mengatasi hal ini, hindari berdebat dengan peserta karena hal ini akan mengakibatkan hilangnya koneksi dengan para audiens. Cara yang paling tepat adalah lakukan pacing & leading. Iyakan atau setujui dulu apa yang menjadi concern penanya, kemudian baru leading ke arah yang Anda inginkan. Anda bisa memberikan bukti, fakta,  data, metaphors, dsb.

Dalam menyampaikan bagian ini juga, jangan lupa untuk menjaga emosi audiens agar mereka tetap memberikan fokusnya pada pembicara dan juga untuk menciptakan good feeling peserta.

3. Conclusion
Dalam bagian penutup, tarik perhatian dari pendengar dan rangkum semua poin-poin utama dari pesan yang Anda sampaikan sebelumnya. Jangan lupa untuk call for action, misalnya untuk sales: call of action-nya adalah membeli produk yang Anda presentasikan. Sampaikan dengan spesifik dan jelaskan apa yang Anda inginkan dari mereka.Dalam bagian penutup ini tetap perlu dijaga emosi positif dari peserta sehingga pada saat meninggalkan public speaking tersebut mereka meninggalkan lokasi dengan perasaan yang bahagia dan yang paling penting lagi apa yang disampaikan memberikan IMPACT dalam hidup mereka.

Susunlah public speaking Anda dengan baik, termasuk tulis berapa lama durasi yang akan Anda bawakan untuk setiap bagiannya. Catat menit per menitnya sehingga Anda dapat mengontrol waktu Anda. Tidak terlalu singkat dan juga tidak terlalu panjang melewati batas waktu yang ada.

Langkah ke-empat adalah, persiapkan diri Anda dengan baik dengan cara melakukan future pacing atau latihan mental (mental rehearsal) dengan cara membayangkan jalannya public speaking yang akan Anda bawakan dalam pikiran Anda sampai Anda mendapatkan suatu feeling yang mantap.

Delivery
Pada saat membawakan public speaking (delivery), ini adalah bagian dimana Anda benar-benar melakukan eksekusi atas apa yang telah Anda rencanakan sebelumnya. Disini pembicara akan berhubungan langsung dengan para audiens dan menyampaikan poin-poin tersebut. Tips untuk delivery adalah:

1. Be Expressive
Sampaikan apa yang akan Anda sampaikan dengan ekspresif. Jiwai apa yang akan Anda sampaikan. Menjadi selaras (congruent) dengan isi pesan yang Anda sampaikan. Kalau pesan yang disampaikan adalah mengenai hal-hal yang lucu maka seluruh tubuh Anda juga harus mengekspresikan kelucuan tersebut. Singkatnya adalah rasakan apa yang Anda katakan (feel what you say) yaitu terciptanya keselarasan antara physiology, tone, dan word.

2. Don’t worry about other people think of you
Banyak pembicara, terutama pembicara yang baru mulai di bidang public speaking yang cemas mengenai apa yang audiens pikirkan tentang dirinya. Ini adalah strategi yang salah karena pada saat Anda cemas dengan apa yang dipikirkan oleh audiens maka state Anda akan menjadi jelek dan delivery-nya menjadi jelek juga.

Lebih lanjut lagi, banyak pembicara yang takut kalau audiens mengetahui bahwa mereka lupa akan apa yang akan Anda sampaikan. Tipsnya untuk ini adalah lanjutkan saja (keep moving), tidak perlu takut karena audiens tidak mengetahui apa isi kepala Anda. Terus saja sampaikan pesan Anda, kalau Anda ingat dengan apa yang terlupa, sampaikan lagi. Kalau Anda tidak ingat sama sekali sampai akhir acara, audiens juga tidak tahu bahwa mereka melewatkan sesuatu. Don’t worry about it! Anda sebagai pembicara yang memegang kontrol sepenuhnya pada saat Anda di atas panggung, bukan audiens!

3. How you can impact the people
Dalam menyampaikan inti pesan Anda yang perlu Anda perhatikan adalah bagaimana Anda memberikan impact kepada para audiens. Bukan berpikir pada kecemasan-kecemasan seperti yang dijelaskan pada poin 2 diatas. Dengan menanyakan apa yang Anda bisa lakukan untuk memberikan impact yang bermanfaat bagi para audiens maka otak Anda akan dalam state yang positif dan otak akan memberikan ide-ide untuk public speaking yang impactful.

Demikian summary dari apa yang disampaikan oleh Owen Fitzpatrick dalam Public Speaking di NLP Indonesia Conference 2013. Semoga membawa manfaat bagi Anda yang ingin menekuni profesi public speaking.

Guru Besar itu Bernama Konfusius

“Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tapi hebat dalam tindakan”

“Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu.”

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setelah kita jatuh”

~ Konfusius

Pada tanggal 4 April 2013 kemarin saya mendapat kesempatan yang sangat berharga mengunjungi tempat kelahiran Konfusius di Qufu, Propinsi Shandong, China. Beliau mendapat tempat yang sangat terhormat bagi banyak orang di dunia karena ajarannya yang begitu luar biasa. Bahkan di zaman lampau, 12 raja dari berbagai dinasti datang ke tempat beliau khusus untuk memberikan apresiasi atas kontribusinya yang besar. Termasuk mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew juga mengunjungi tempat beliau untuk memberikan penghormatan atas sumbangsihnya yang besar bagi negara dan umat manusia.

Sekilas mengenai tempat Konfusius di Qufu, China. Tempat ini dibagi dalam dua bagian besar. Yang pertama disebut sebagai Confucius’s Temple, seluas 24 hektar. Dan yang kedua adalah areal pemakaman keluarga Kong seluas 240 hektar. Disinilah Konfusius dimakamkan bersama dengan semua orang yang memiliki nama keluarga atau bermarga Kong, sesuai dengan nama keluarga Konfusius, yaitu Kong.

Ajarannya dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar yaitu: 1. Sebagai Agama, yaitu agama Kong Hu Cu, dan 2. Sebagai falsafah hidup. Dapat dikatakan bahwa semua keturunan China baik itu di negara China sendiri maupun China perantauan pasti menggunakan falsafah hidup yang diajarkan oleh Konfusius. Yang menarik adalah, tidak semua orang Chinese beragama Kong Hu Cu. Namun, dapat dipastikan bahwa semua orang Chinese menggunakan falsafah Konfusius sebagai pedoman hidupnya.

Selain itu, bukan hanya orang China saja, baik di mainland China maupun yang bertebaran di seluruh dunia atau dikenal dengan sebutan Hoakiao – China perantauan, yang menggunakan salah satu atau kedua ajarannya diatas. Bangsa-bangsa besar di luar China, seperti Jepang dan Korea banyak menggunakan pemikiran-pemikiran Konfusius dalam menjalankan pemerintahannya menuju pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Itu sebabnya selain sebagai seorang guru, Konfusius juga dikenang sebagai seorang statesman, ahli tata negara.

Sekilas mengenai Konfusius
Konfusius lahir pada tahun 551 SM dan meninggal pada tahun 479 SM di daerah Qufu, Propinsi Shandong, China. Walaupun beliau adalah seorang guru besar, namun hidup beliau penuh dengan penderitaan. Konfusius lahir di keluarga miskin dan pada usia 3 tahun ayah beliau meniggal dunia. Pada usia 24 tahun, ibunda beliau meninggal dunia. Dan 3 tahun sebelum beliau meninggal, putera satu-satunya meninggal dunia. Namun dibalik semua ini, beliau masih dapat mengeluarkan yang terbaik dari dirinya dan memberikan yang terbaik bagi dunia. Konfusius pernah menjabat beberapa posisi dalam pemerintahan, namun sebagian besar hidupnya dicurahkan untuk mengajar murid-murid beliau. Tercatat ada 3,000 orang yang menjadi murid beliau. Beberapa yang terkenal diantaranya adalah Mensius (Mengzi) dan Yan Hui.

Memodel Konfusius
NLP lahir dari usaha Richard Bandler dan John Grinder dalam memodel tiga orang luar biasa di zamannya, yaitu: Virginia Satir, Fritz Perls, dan Milton H. Erickson. Dari modeling ini lahirlah NLP, sebuah ilmu luar biasa yang mempelajari pikiran, ucapan, dan perilaku seseorang untuk menuju kesuksesan dan kebahagiaan.

Merupakan suatu hal yang luar biasa apabila kita dapat memodel seorang luar biasa seperti Konfusius, yang sumbangsihnya terlihat jelas bagi dunia sampai dengan saat ini. Pertanyaannya adalah apa yang harus kita model? Bagi saya, ada dua hal penting yang dapat dimodel dari orang sekaliber Konfusius ini.

Yang pertama adalah pribadi Konfusius sendiri. Konfusius adalah orang yang terpelajar, sederhana, menjunjung tinggi moralitas, dan walk the talk (melakukan apa yang dikatakan). Untuk mengubah status sosial seseorang, beliau menyarankan untuk belajar (sekolah). Dengan demikian maka orang akan berpendidikan dan dapat mengubah statusnya sekaligus nasibnya. Sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah hidup berfoya-foya. Kesederhanaan adalah kesehariannya. Dalam hal moralitas, beliau adalah orang yang mengedepankan kesusilaan, sopan santun, tata krama, dan budi pekerti. Salah satu ucapan beliau yang terkenal selaras dengan walk the talk adalah “Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu.”

Dan, yang kedua adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh beliau. Nilai-nilai seperti: bakti kepada orang tua, rendah hati, kesetiaan, dapat dipercaya, kesusilaan, kebijaksanaan, hidup sederhana, dan tahu malu, adalah nilai-nilai universal yang dapat kita model dan install dalam diri kita. Nilai-nilai ini adalah nilai-nilai yang akan membawa kemajuan bagi orang-orang yang mau meng-install-nya dalam dirinya.

Apabila kita memodel dan mempraktekkan karakteristik dan nilai-nilai yang diajarkan oleh beliau maka kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dari sisi kualitas maupun moralitas. Dari kumpulan pribadi-pribadi yang berkualitas ini maka kita akan menjadi bangsa yang besar. Dari bangsa yang besar akan menjadi negara yang besar dan sejahtera. Dan negara itu adalah Indonesia.

Semoga bermanfaat.