Category Archives: Aplikasi

Aplikasi seputar penggunaan NLP

“My Idiot Brother” – The Movie

Gala Premiere Film "My Idiot Brother"

Ini adalah pengalaman pertama saya terlibat dalam pembuatan film lebar. Rasanya senang, lega, dan juga sekalian bangga atas kerja keras dari semua team yang terlibat dari pre-production sampai film ini dapat tayang di bioskop-bioskop di Indonesia, seperti: 21, XXI, Blitz Megaplex, dsb. Senang karena kerja keras dari seluruh team terbayar pada saat menyaksikan film ini ditayang pertama kali pada Gala Premiere, 29 September 2014 lalu di Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Lega karena proses panjang yang telah dilalui dari awal hingga akhir dapat berjalan dengan baik & lancar. Dan, bangga karena film ini dapat berkontribusi bagi perfilman nasional yang menekankan pada kualitas dan juga nilai-nilai cinta kasih yang tiada tara, kesabaran menghadapi setiap masalah yang ada, kasih sayang orang tua kepada anaknya walaupun cacat, penghargaan kepada seseorang yang kelihatan tidak bermakna, dan pengorbanan seorang kakak yang cacat mental kepada adiknya bahkan sampai mengorbankan jiwanya.

Film My Idiot Brother  ini akan mulai diputar serentak di seluruh Indonesia, mulai hari Kamis, tanggal 2 Oktober 2014 di seluruh sinema di Indonesia. Semoga film ini dapat menjadi salah satu film pilihan bagi Anda dan keluarga dan bermanfaat dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, cinta kasih dan kasih sayang, penghargaan, pengorbanan, dan sikap tangguh dalam menghadapi setiap masalah dan “cobaan” yang dialami dalam hidup ini.

Special thanks saya ucapkan kepada Bapak Hamdhani Koestoro selaku Producer dan juga Pemilik Film One Production, Agnes Davonar penulis novel “My Idiot Brother”, Bapak Edy, Bapak Albert dan Ibu Elly yang telah memberikan saya kesempatan dalam film yang luar biasa ini. Dan tidak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada seluruh aktor, artis, seluruh crew, dan juga semua pihak baik yang terlibat secara langsung maupun tidak. Semua tribute saya berikan kepada Anda semua. Tentunya juga kepada para penonton yang telah meluangkan waktunya mengajak keluarga tercintanya dalam menyaksikan film yang akan merubah sudut pandang kita mengenai apa dan bagaimana hidup ini. Terima kasih banyak.

Jenis Film           : Drama
Produser             : Hamdhani Koestoro
Produksi              : Film One Productions
Sutradara            : Alyandra
Pemain                : Merry Riana, Donny Kesuma, Kimberly Ryder, Fenita Arie, Lula Kamal, Aaron Shahab, Cindy Fatikasari, Ali Mensan, Adila Fitri

"My Idiot Brother" - The Movie

“My Idiot Brother” diangkat dari novel anyar karya Agnes Davonar yang berjudul sama. Film ini mengisahkan Angel (Adila Fitri) seorang gadis remaja berusia 15 tahun yang tidak pernah bisa menerima keadaan kakaknya Hendra (Ali Mensan) yang terlahir dengan keterbelakangan mental.

Walaupun Angel begitu malu dan membencinya, Hendra tidak pernah bersedih hati. Hendra menjadi anak yang berkebutuhan khusus akibat sakit yang di derita waktu kecil. Walaupun demikian Ia tetap setia memberikan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.

Karena memiliki kakak yang mengalami keterbelakangan mental, Angel sering diejek oleh teman-temannya ‘si idiot’. Salah seorang gadis di sekolahnya bernama Agnes (Kimberly Ryder) sangat membenci Angel karena dianggap sebagai ancaman untuk mendapatkan hati Aji (Aaron Ashab). Kehidupan Hendra dengan dunianya sendiri namun tetap menyayangi adiknya. Suatu hari, Aji akan mengadakan pesta ulang tahunnya dengan mengundang semua teman-temannya. Agnes dan Angel bersaing untuk menjadi ratu dalam acara pesta tersebut.

Sayangnya pesta itu berakhir ricuh karena kehadiran Hendra yang membuat Angel begitu malu, padahal kedatangan kakaknya yang penuh perjuangan sebenarnya hanya bermaksud untuk mengantarkan kado yang tertinggal. Angel yang lari dari pesta karena rasa malu mengalami kecelakaan. Kecelakaan ini menyebabkan tak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan dirinya selain Hendra. Demi cintanya kepada sang adik, Hendra rela mengorbankan apapun untuk Angel. Termasuk jiwanya.

Trailer Film “My Idiot Brother”

The Power of Habit – Part 2

Melanjutkan artikel sebelumnya (The Power of Habit – Part 1), study Duke University pada tahun 2006 menunjukkan bahwa 40 persen lebih tindakan yang dilakukan seseorang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan, melainkan kebiasaan.

Pada saat saya membaca buku The Power of Habit karangan Charles Duhigg, yang memuat study diatas, saya berhenti sejenak, menggunakan otak sadar saya untuk menganalisa mengenai pentingnya sebuah kebiasaan dalam menentukan sebuah keputusan. Kemudian analisa itu berlanjut. Pikiran saya mencoba menterjemahkan study diatas ke dalam contoh-contoh kehidupan sehari-hari. Rasanya kok make sense ya. Saya pulang pergi ke kantor bertahun-tahun melalui rute yang sama dan itu telah menjadi kebiasaan saya. Dan keputusan saya untuk pulang dan pergi sangat ditentukan oleh kebiasaan saya tersebut. Kebiasaan makan saya juga sangat ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan saya. Pada saat akan memilih restoran atau food court di mall, keputusan saya memilh makanan sangat ditentukan oleh kebiasaan saya yang suka makanan berkuah, pedas, dan gurih (daripada manis). Sama halnya juga dengan gaya berpakaian,  gaya kerja, pola pengambilan keputusan, dsb. semuanya sangat didominasi oleh kebiasaan-kebiasaan yang biasa saya lakukan.

Menurut Duhigg, sebuah kebiasaan mengikuti pola seperti ini: Cue – Routine – Reward. Penjelasannya seperti ini: Cue yang berarti tanda, adalah sebuah tanda yang bisa disadari oleh panca indera seseorang. Cue ini akan memicu munculnya sebuah Routine (Rutinitas/Kebiasaan). Setelah sebuah rutinitas dilakukan maka akan menghasilkan Reward. Lingkaran kebiasaan ini juga diperkuat oleh adanya Craving atau Keinginan yang sangat kuat (mengidam). Untuk memudahkan kita mencerna penjelasan diatas, ini saya berikan contohnya. Pada saat smartphone Anda berdering (Cue), yang Anda sadari dengan indera auditory (pendengaran), maka akan memunculkan sebuah keinginan yang sangat kuat untuk melihatnya (Craving). Karena ini adalah lingkaran kebiasaan yang sudah tersimpan di dalam bawah sadar maka tanpa disadari tangan Anda akan bergerak secara otomatis untuk mengecek dan melihat isi dari smartphone tersebut (Routine), walaupun Anda sedang ada meeting yang penting atau mengendarai mobil. Setelah melihat pesan tersebut Anda akan merasa puas (Reward) berupa rasa lega atau hanya sekedar memuaskan rasa penasaran Anda mengenai isi dari pesan tersebut walaupun isi pesan tersebut mungkin hanya iklan KTA (Kredit Tanpa Agunan) yang tidak Anda butuhkan.

Dengan mengetahui komponen-komponen yang menggerakkan sebuah kebiasaan maka ada 3 cara yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk mengubah sebuah kebiasaan, yaitu: 1. Mengubah Cue, 2. Mengubah Routine dan mensubstitusikannya, Dan 3. Memberi REWARD

1. Mengubah Cue (Tanda)
Cue atau tanda dapat berupa: 1. Tanda eksternal atau 2. Tanda Internal. Eksternal berarti ada tanda yang dapat dikenali dari luar diri kita. Misalnya bunyi smartphone menyebabkan kita mengangkatnya. Dengan men-silent-kan bunyi smartphone ini maka akan memutus pemicu untuk melakukan sebuah kebiasaan. Internal berarti apa yang bisa kita kenali melalui internal pikiran kita (bisa berupa gambar, suara, perasaan, penciuman, atau pengecapan). Pemicu ini dapat diubah dengan cara mengubah isi modalitas (VAKOG: Visual, Auditory, Kinesthetic, Olfactory, Gustatory) dan submodalitas (kualitas dari VAKOG) dari pemicu tersebut. Teknik NLP: Swish Pattern dapat mempermudah proses ini (untuk teknik swish pattern, silahkan baca: http://www.coachtatang.com/teknik-nlp-swish-pattern/)

2. Mengubah Routine (Rutinitas/Kebiasaan)
Mengubah Routine dapat dilakukan dengan berhenti melakukan kebiasaan lama dan mulai membangun dan melakukan sebuah kebiasaan baru secara terus-menerus sampai menjadi permanen. Sehingga jalur neuron kebiasaan lama yang biasa dipakai tidak dilewati lagi dan sebaliknya jalur neuron baru terbentuk dan digunakan secara rutin. Cara lainnya adalah dengan cara mensubstitusi Routine yang lama dengan Routine yang baru dimana Cue dan Reward dipertahankan tetap sama.

Gambar ini menjelaskan sebuah Cue (tanda bosan) muncul yang biasanya akan memicu munculnya kebiasaan merokok dan setelah merokok akan muncul Reward dalam bentuk perasaan lega. Dalam hal ini, pada saat Cue bosan muncul, maka carilah substitusi dari kebiasaan merokok yang menghasilkan Reward yang sama (perasaan lega). Misalnya dalam hal ini adalah minum kopi. Maka setiap kali muncul Cue bosan, substitusikanlah kebiasaan merokok dengan perilaku baru (minum kopi) secara teratur sampai program ini menjadi kebiasaan. Tentunya dalam mencari program perilaku substitusi carilah yang selaras dalam artian tidak merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

3. Memberi REWARD
Reward yang dimaksud disini adalah bukan Reward seperti yang dimaksud pada poin 2 diatas. Bedanya adalah kalau Reward pada poin no.2 diatas terjadi secara natural, misal orang ngopi dengan tujuan (Reward) untuk melepas penat sejenak dan agar pikiran segar kembali, REWARD disini sengaja ditulis dengan HURUF BESAR untuk membedakannya. REWARD yang dimaksud disini adalah benar-benar hadiah yang Anda berikan kepada diri Anda pada saat Anda berhasil mengubah suatu kebiasaan buruk yang tidak bermanfaat menjadi kebiasaan baru yang bermanfaat. Misalnya Anda berhasil mengubah kebiasaan malas berolah-raga menjadi rutin berolah raga. Pada saat ini terjadi, Anda menghadiahi diri Anda sebuah jam tangan, gadget yang Anda inginkan, dsb.

Semoga uraian di atas bermanfaat bagi kita dalam memahami kebiasaan dan juga bagaimana cara untuk mengubah kebiasaan jelek menjadi kebiasaan baik, serta mempertahankan kebiasaan yang sudah baik dalam hidup kita. Sehingga kualitas hidup kita semakin baik.

~Values creation for a better Indonesia.

The Power of Habit – Part 1

Keseharian hidup kita tidak terhindar dari kebiasaan. Dari bangun tidur sampai tidur kembali semua bersentuhan dengan kebiasaan. Kebiasaan menggunakan handphone pada saat bangun tidur adalah sebuah contoh sederhana dari sebuah kebiasaan. Kebiasaan membaca koran (misal dari belakang ke depan), kebiasaan mengemudikan kendaraan dari rumah ke kantor yang melalui rute itu-itu saja, kebiasaan nonton TV, kebiasaan mengecek email pada saat pertama kali membuka komputer adalah sedikit contoh dari segudang kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam diri seseorang.

Berita baiknya adalah kebiasaan sangat membantu kita dalam melaksanakan tugas kita sehari-hari tanpa harus dipikir-pikir terlebih dahulu sehingga apa yang kita lakukan dapat berjalan dengan lancar dan otomatis. Contohnya, seorang akuntan bisa mengerjakan laporan keuangannya dengan sangat lancar tanpa harus mengingat-ingat bagaimana jurnalnya, seorang pemain basket tidak perlu menghitung-hitung jarak dirinya dengan ring basket, seorang pengemudi dapat mengendarai mobilnya dengan mudah tanpa harus memperhatikan dimana letak gas dan perseneling,  seorang tukang masak dapat memasak dengan sangat baik tanpa harus menimbang-nimbang berapa timbangan garam atau merica untuk masakannya, dsb. Semuanya dilakukan dengan sangat otomatis.

Berita buruknya adalah kebiasaan (baik yang baik maupun yang buruk) tidak dibedakan atau difilter oleh bawah sadar kita. Misalnya, hanya yang positif yang boleh masuk dan yang negatif tidak boleh masuk. Tidak begitu. Bawah sadar ini bertindak sebagai domain atau gudang yang sifatnya netral dimana semua program yang bernama kebiasaan ini disimpan. Sepanjang sebuah perilaku yang dilakukan berulang-ulang tersebut masuk dan tersimpan di bawah sadar maka kebiasaan ini akan berada di dalam orang tersebut sampai ada program lainnya yang menggantikannya. Singkatnya pikiran bawah sadar manusia tidak diprogram untuk membedakan yang mana yang baik dan mana yang buruk, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Sepanjang dilakukan berulang-ulang maka sebuah perilaku memiliki potensi untuk menjadi kebiasaan yang bersifat otomatis dan disimpan di dalam pikiran bawah sadar manusia (unconscious mind). Itu sebabnya kenapa kebiasaan merokok, walaupun si perokok itu sendiri tahu tidak baik, namun terus dilakukan. Dan kebiasaan bangun pagi jam 05.00 menjadi sesuatu yang sangat otomatis walaupun tanpa menggunakan jam weker.

Merriam webster dictionary mendefenisikan habit atau kebiasaan sebagai: “Something that a person does often in a regular and repeated way”, atau dapat diterjemahkan sebagai “sesuatu (perilaku) yang sering dilakukan oleh seseorang secara teratur dan berulang-ulang”. Sedangkan American Journal of Psychology mendefenisikannya sebagai berikut: “A habit, from the standpoint of psychology, is a more or less fixed way of thinking, willing, or feeling acquired through previous repetition of a mental experience”, atau dalam bahasa Indonesianya berarti: “Sebuah kebiasaan, dari sudut pandang psikologi, kurang lebih adalah cara berpikir, keinginan, atau perasaan yang tertentu yang diperoleh dari pengulangan yang dilakukan sebelumnya dari sebuah pengalaman mental.

Note: Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan terbentuk dan bagaimana menghilangkan kebiasaan buruk silahkan baca artikelnya pada link berikut: http://www.coachtatang.com/jalur-neuron-kebiasaan/

Bersambung ……

Life is so Kampret

Ya betul. “Life is so Kampret”. Begitu status dari Blackberry Messanger teman saya, yang secara harafiah dapat diterjemahkan sebagai “Hidup Sangat Menyebalkan”. Pada saat membaca status tersebut saya tersenyum simpul karena linguistic-nya yang kreatif. Namun di dalam hati kecil saya berkata, “Kasihan sekali, pasti hidupnya sedang berada dalam masalah”. Dari bahasa yang digunakan dapat menggambarkan apa yang terjadi pada orang yang mengungkapkannya. Bagaimana menurut Anda? Apa yang terbesit dalam pikiran Anda pada saat membaca judul di atas? Tertawa, tersenyum, prihatin, atau campuran dari semuanya?

Terlepas apapun tanggapan kita terhadap judul diatas, saya lebih tertarik untuk membahas dari sisi kenapa hal yang tidak menguntungkan terjadi dalam hidup dan bagaimana caranya untuk keluar dari keadaan yang tidak menguntungkan tersebut sehingga dapat diambil hikmahnya oleh kita semua agar kita tidak mengalami kejadian yang sama. Hal yang mana juga diajarkan oleh NLP, yaitu mengamati suatu kejadian, menstrukturkan polanya, dan dari pola yang ada kemudian dapat diajarkan baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Mari kita telisik lebih dalam mengapa teman saya sampai menuliskan status tersebut untuk mengekspresikan kekesalan yang terjadi pada dirinya. Dugaan saya mengatakan bahwa hidupnya sedang mengalami masalah sampai ia mengatakan hidup(nya) begitu kampret. Dugaan ini didasari pada kata “kampret” yang sepanjang pengetahuan saya adalah linguistic yang digunakan untuk mengungkapkan kekesalan, makian, dan sumpah serapah kepada orang atau keadaan yang menyebabkan kekesalan. Ternyata, dugaan saya ini tidak terlalu jauh dari kenyataannya. Sebagai bentuk simpati, saya menghubungi teman saya dan iapun mengiyakan dan menjawab, “Sometimes, sh*t happens in life”. Lagi-lagi linguistic negatif yang muncul akibat kejadian yang menyebabkan kekesalannya.

If there is anything can be blamed then it is the birth
Pertanyaannya adalah kenapa hidup ini bisa begitu mengesalkan? Banyak hal-hal yang terjadi dalam hidup ini yang mengakibatkan kepala kita pusing tujuh keliling dimana masalah yang satu belum selesai, muncul lagi masalah yang lain. Dr. Richard Bandler, The Father & Co-creator of NLP, mengatakan bahwa apabila ada yang dapat disalahkan dalam hidup ini maka hal itu adalah kelahiran. Ya betul karena adanya kelahiran maka kita merasakan penderitaan dalam hidup ini. Namun, berhubung kelahiran berada di luar rentang kendali kita maka sebenarnya tidak ada yang dapat disalahkan. Attitude atau sikap yang terbaik untuk hal ini adalah menyadari dan mensyukuri apa yang terjadi dalam hidup ini dan mengambil hikmah pembelajaran yang terkandung di balik kejadian tersebut. Banyak orang yang menjalankan strategi yang salah, mereka menggenggam emosi negatif, seperti: marah, sedih, kesal, dsb. namun melupakan makna pembelajarannya. Strategi yang benar adalah ambil makna pembelajarannya dan lupakan emosi yang menyertainya. As simple and as difficult as that if you allow it to be.  Ya, sesederhana dan sesulit itu apabila Anda mengijinkannya terjadi.

One option is not an option
Selain kelahiran, faktor penting lainnya adalah karena tidak tersedianya pilihan-pilihan yang bersumber daya dalam diri kita. NLP mengatakan bahwa satu pilihan sama dengan tidak ada pilihan sehingga kita dipaksa untuk menerima pilihan tersebut walaupun kita tidak menyukainya. Ambil contoh, misalnya Anda tidak menyukai pekerjaan Anda di kantor. Namun berhubung Anda tidak memiliki pilihan source of income atau sumber penghasilan yang lain maka mau tidak mau, suka tidak suka Anda harus melakukan pekerjaan tersebut. Inilah salah satu sebab utama yang menjadi sumber penderitaan dalam hidup.

NLP menyarankan untuk memiliki dan menambah pilihan-pilihan yang bersumber daya. Dengan adanya pilihan-pilihan yang bersumber daya tersebut maka Anda bebas memilih. Sebagai contoh, apabila Anda memiliki sumber penghasilan yang lain selain bekerja di kantor, misalnya memiliki toko, usaha kos-kosan, atau sumber penghasilan lainnya yang dapat Anda andalkan maka Anda tidak akan semenderita seperti kasus diatas karena dapat memilih yang mana yang Anda sukai. Selain itu, manusia selalu memilih pilihan yang terbaik yang tersedia waktu itu. Dengan demikian maka secara otomatis orang akan memilih pilihan yang paling baik yang tersedia dalam hidupnya.

Merefleksikan apa yang dihadapi teman saya dalam tulisan diatas, coba lihat ke dalam diri Anda sendiri apakah kekurangan pilihan menjadi penyebab utama dalam masalah yang Anda alami sekarang? Apabila jawabannya adalah YA, maka solusinya adalah tambahlah pilihan-pilihan yang bersumber daya dalam diri Anda.

Pertanyaan berikutnya adalah apa bentuk dari pilihan-pilihan yang bersumber daya tersebut dan bagaimana caranya untuk memiliki pilihan-pilihan yang bersumber daya tersebut? Pilihan-pilihan itu dapat berupa: pengetahuan, keterampilan, network (jaringan pertemanan), modal, dsb. Sedangkan cara untuk memiliki pilihan-pilihan yang bersumber daya tersebut adalah dengan belajar, berusaha, berlatih, dan melakukannya dalam betuk tindakan yang nyata terus dan terus sampai pilihan tersebut tersedia dalam hidup Anda.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita kembali sejenak ke kata kampret yang menjadi teaser dalam artikel ini. Ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) ”kampret” itu artinya, “kelelawar kecil pemakan serangga dengan hidung yang berlipat-lipat” atau dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan Microchiroptera.

Hmmm …….. menarik sekali. Lain kali kalau ada yang meneriaki Anda seperti ini, “Eh, Kampret lu!”, Anda tidak usah marah dan emosi. Itu artinya, ia sedang berkata, “Eh, Kamu kelelawar”, ha ha ha ….. Atau kalau kita kembali ke judul diatas maka, “Life is so Kampret” maka judulnya dapat kita ubah  menjadi “Hidup Sangat Kelelawar”, ha ha ha ………

NLP is about changing your thinking (neuro), changing the way you communicate (linguistic), and changing your behaviour (programming). Dengan merubah cara kita berpikir, cara kita berkomunikasi maka akan merubah perilaku kita. Semoga bermanfaat.

Sucessful Marketing with NLP – Bagian 1

NLP ACADEMIA.com – NLP lahir dari modeling. Adalah Richard Bandler dan John Grinder, dua orang yang memodel para jagoannya therapist di tahun 1970-an. Ketiga orang therapist yang dimodel itu adalah Virginia Satir (FamilyTherapist), Fritz Perls (Gestalt Therapist), dan Milton H. Erickson (Hypnotherapist). Tidak berhenti sampai disini, NLP terus berkembang dan dalam perjalanannya banyak co-developer lainnya seperti Robert Dilts, Steve Andreas, dll. memodel para ahli di berbagai bidang, seperti: olah raga, management, marketing, selling, dan lain sebagainya.

Dengan mengetahui apa pola sukses dari seseorang atau sebuah perusahaan maka dapat dibuat sebuah model sukses yang kemudian dapat diajarkan atau dipelajari oleh orang-orang yang menginginkannya.

Berikut ini adalah summary dari apa yang saya bawakan dalam NLP Indonesia Conference 2013 yang baru selesai beberapa waktu lalu dan juga berdasarkan pengalaman selama saya berkecimpung di dunia korporat selama lebih dari 14 tahun dan yang terakhir adalah di perusahaan consumer health product: CAP LANG.

Perusahaan-perusahaan besar sebelum melakukan launching atas produknya, pasti mempersiapkan segala sesuatunya agar produk yang diluncurkan di pasar dapat mendapatkan sukses yang besar setelah produk tersebut beredar. Setidaknya ada 9 elemen marketing yang dapat dimodel dari perusahaan-perusahaan besar, yang kesembilan elemen ini dapat dikelompokkan kedalam 3 bagian besar, yaitu: STRATEGY, TACTIC, dan VALUE.

Mari kita bahas satu per satu. Kelompok yang pertama disebut dengan STRATEGY. Tujuan dari strategy adalah untuk mendapatkan mind share dalam benak pelanggan, yang terdiri dari:

1. Segmentation
Segmentasi adalah proses membagi-bagi konsumen yang heterogen menjadi kelompok-kelompok yang lebih homogen sehingga memudahkan perusahaan dalam melayani konsumen yang sudah disegmentasi tersebut dan juga untuk mengatur resource allocation (pengaturan sumber daya perusahaan). Biasanya segmentasi dibagi berdasarkan: 1. Geography (wilayah, ukuran kota, iklim, dsb.), 2. Demography atau kependudukan (jenis kelamin, usia, Socio Economic Status (SES), Agama, dsb), 3. Psychography (personilty, life style, dsb.), dan 4. Benefit (kualitas produk, harga, dsb.)

2. Targeting
Setelah sebuah pasar disegmentasikan, langkah berikutnya adalah menargetkan segmen mana yang akan dilayani. Syarat dari sebuah segmen yang potensial untuk menjadi target perusahaan adalah: 1. Ukurannya besar, 2. Pertumbuhannya positif dan menjanjikan, 3. Keunggulan kompetitif perusahaan, 4. Situasi persaingan yang manageable (mampu dihadapi oleh perusahaan).

3. Positioning
Positioning adalah “being strategy” yaitu bagaimana menancapkan image produk dalam pikiran konsumen sehingga setiap kali konsumen ingin membeli suatu produk, produk kita langsung muncul dalam benaknya sesuai dengan posisi yang kita ciptakan untuk diingat oleh pelanggan. Sebagai contoh, apa yang muncul dalam benak kita pada saat mendengar “THE BODY SHOP”? Ya, benar sekali! Itu adalah produk kosmetik yang sangat peduli dengan lingkungan dimana produk-produknya sangat ramah lingkungan dan tidak menggunakan animal testing.

Kelompok yang kedua adalah TACTIC. Tujuan dari tactic adalah untuk menguasai market share (pangsa pasar) yang ingin dicapai melalui produk perusahaan. Bagian ini terdiri dari:

4. Marketing Mix
Konsep Marketing Mix atau bauran pemasaran ini pertama kali dipopulerkan oleh Jerome McCharty, yang terdiri dari: 1. Product, 2. Price, 3. Place, dan 4. Promotion.

Salah satu Departemen yang saya pimpin adalah NPD (New Product Development). Saya merasakan sendiri bagaimana dahsyatnya sebuah produk yang dilahirkan dengan menggunakan konsep NLP (Neuro-Linguistic Programming). Hasilnyapun membanggakan hati, yaitu; Market Leader alias pemimpin pasar dalam kategorinya.

Sebagai contoh, produk yang saya kembangkan dengan konsep NLP adalah TELON LANG. Produk ini menggunakan modalitas VAK-O (Visual, Auditory, Kinesthetic, dan Olfactory) dan diterjemahkan dalam bentuk kemasan yang menarik. Secara singkat konsep penerapan NLP-nya dapat dijelaskan, sbb:

Visual = produk ini adalah satu-satunya minyak telon yang menggunakan gambar Ibu dan bayinya, dimana produk sejenisnya hanya menggunakan foto seorang bayi saja. Foto Ibu dan Anak akan membangkitkan perasaan yang mendalam dari seorang ibu terhadap buah hati kesayangannya.

Auditory = tutup yang digunakan adalah flip top cap dengan “click sound” yang berbeda dari model tutup lainnya (screw cap). Suara “klik” pada saat membuka tutup merupakan anchor auditory dimana setiap kali orang mendengar suara “klik” tersebut akan teringat pada produk TELON LANG.

Kinesthetic = Kesemua pembeda dari Visual, Auditory, Olfactory yang termuat dalam produk TELON LANG ditujukan pada terciptanya Kinesthetic atau perasaan suka dari konsumen.

Olfactory = wangi minyak TELON LANG sangat khas dengan aroma minyak anisi yang membuatnya “bayi banget” yang diformulasikan secara khusus oleh bagian R&D CAP LANG. Wangi minyak TELON LANG ini merupakan wangi yang diharapkan dapat menciptakan olfactory anchor bagi yang menciumnya. Sehingga setiap kali mencium produk dengan wangi minyak anisi mereka akan teringat dengan TELON LANG.

Note: Konsep diatas tidak melibatkan Gustatory karena produk TELON LANG hanya digunakan untuk penggunaan luar (bukan produk makanan / minuman).

 5. Differentiation
Setiap produk yang dilahirkan harus memiliki USP (Unique Selling Proposition) alias diferensiasi. Ini adalah mutlak hukumnya. Jangan pernah melahirkan sebuah produk yang tidak memiliki diferensiasi. Kenapa demikian? Jawabannya sangat sederhana, apabila produk kita tidak memiliki perbedaan, apa alasan konsumen harus menjatuhkan pilihannya pada produk kita? Bukankah membeli produk kompetitor juga sama saja? Jelas bukan?

6. Selling
Selling atau penjualan adalah satu-satunya proses dalam perusahaan yang mendatangkan pendapatan atau revenue. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus memastikan kalau mereka menguasai proses ini dengan baik apabila tidak mau gulung tikar sebelum waktunya. Pikirkan baik-baik bagaimana Anda dapat menjual produk Anda kepada target market yang dituju dan pastikan Anda dapat menagih uang dari hasil penjualan tersebut karena produk yang tidak tertagih tidak ada bedanya dengan membuang produk ke laut.

Berikut ini adalah skema dasar dari proses penjualan yang harus Anda kuasai agar sukses di dalam penjualan apapun yang Anda lakukan.

Bersambung ke: Successful Marketing with NLP – Bagian 2