Category Archives: Aplikasi

Aplikasi seputar penggunaan NLP

Sucessful Marketing with NLP – Bagian 2

Dan, untuk kelompok yang terakhir atau ketiga adalah VALUE. Tujuan dari value adalah untuk mendapatkan heart share dari pelanggan. Bagian ini terdiri dari:

7. Brand
Brand atau merek adalah value indicator dari sebuah produk. Sebuah merek memiliki nilai yang nilainya bisa melampaui seluruh aset perusahaan (pabrik, mesin, tanah, dsb.) apabila dijual. Sebuah merek misalnya; Coca cola, apabila dijual bisa melampaui seluruh nilai aset fisiknya di seluruh dunia.

Merek memainkan peranan yang sangat penting. Dua buah merek berbeda akan memiliki value yang berbeda. Sebuah sepatu olah rage, dengan model dan kualitas yang sama buatan Tangerang akan memiliki value yang berbeda apabila dilekatkan dengan merek Nike dan yang satu lagi merek Spotec.

8. Process
Perusahaan yang berorientasi pada pelanggan juga harus memperhatikan proses dari awal sampai akhir sebuah proses transaksi berjalan. Perusahaan harus memastikan bahwa proses penerimaan order, proses produksi, sampai proses pengiriman barang ke konsumen, bahkan sampai after sales service-nya berjalan dengan lancar. Tidak bisa dibayangkan apabila produk yang sudah di order pelanggan, misalnya kulkas, sampainya sebulan kemudian. Tentu pelanggan manapun akan kecewa terhadap proses perusahaan yang tersendat-sendat. Untuk itu diperlukan sebuah supply chain yang kuat agar perusahaan dapat melayani pelanggannya dengan baik.

9. Service
Pada akhirnya semua perusahaan adalah perusahaan jasa. Walaupun produk yang dijual adalah produk tangible (produk yang memiliki bentuk secara fisik). Namun perlu diperhatikan bahwa sepanjang perjalanan mengkonversikan penjualan, banyak melibatkan service atau proses pelayanan.

Meningkatnya pendidikan suatu negara akan mengakibatkan pelanggan semakin demanding. Mereka tidak mudah dipuaskan karena mereka tahu akan hak-haknya. Agar dapat sukses sebagai perusahaan yang berorientasi marketing, Anda harus memperhatikan bagaimana front liner Anda berhubungan dengan pelanggan apabila Anda tidak mau kehilangan pelanggan potensial Anda.

Ada satu cerita lucu sehubungan dengan pelayanan yang saya alami berkenaan pada waktu saya dengan keluarga masuk ke sebuah restaurant untuk makan siang di sebuah mall di daerah Puri Indah, Jakarta Barat. Sewaktu pelayannya menghampiri meja saya untuk take order, mukanya cemberut. Tentu ini bukan kondisi yang ideal. Siapapun pasti tidak ingin dilayani oleh pelayan yang cemberut. By design saya berkata: “Kalau mau saya order, senyum dulu dong. Kalau belum senyum saya tidak akan order”. Mungkin kaget karena belum ada pelanggan yang melakukan itu sebelumnya, pelayan itupun kemudian tersenyum dan saya pun memesan makanan yang saya ingin makan. Dengan linguistic yang sederhana, state pelayan itu berubah dari cemberut menjadi tersenyum. Dan sayapun happy karena bisa mengubah orang tersebut menjadi lebih bersumber daya sehingga dia dapat melayani pelanggan lainnya dengan hati riang gembira dan senyum mengembang. Dengan senyum yang mengembang, saya tambahkan, “Nah begitu dong. Dengan senyumkan lebih baik”. Dan, senyumnya pun semakin mengembang.

Sebagai penutup, selling bukanlah marketing dan marketing bukanlah hanya 4P (product, price, place, & promotion). Marketing lebih dari itu, yang minimal terdiri dari: 1. STRATEGY (1. Segmentasi, 2. Targeting, 3. Positioning), 2. TACTIC (4. Marketing Mix, 5. Differentiation, 6. Selling), dan 3. VALUE (7. Brand, 8. Process, 9. Service).

Sebelum Anda melahirkan sebuah produk, lakukanlah 9 Marketing Fundamental diatas sehingga kans suksesnya semakin besar. Semoga bermanfaat.

Public Speaking with NLP

Pada NLP Indonesia Conference 2013, 20 April yang lalu, Owen Fitzpatrick, Master Trainer of NLP dan pengarang beberapa buku best seller, seperti: “Conversation with Richard Bandler”, “The Charisma Edge”, dsb. membawakan tema Public Speaking di hadapan para peserta. Pembawaannya yang lugas dan sangat berpengalaman menyihir para pendengar. Hal ini juga termasuk caranya menjawab pertanyaan peserta pada saat Advanced NLP Skills di malam hari. Tidak salah kalau beliau diberikan title Licensed Master Trainer of NLP oleh Dr. Richard Bandler pada usia yang sangat muda, 23 tahun.

Special thanks untuk Pak Hingdranata Nikolay, Master Trainer Indonesia yang telah membawa master trainers lainnya seperti Owen Fitzpatrick dan Anders Pipers ke Jakarta. Dan juga atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbicara (Successful Marketing with NLP) di forum yang luar biasa ini. Artikel berikutnya saya akan menulis mengenai tema yang saya bawakan dalam NLP Conference yang baru saja berlalu.

Tulisan ini mencoba merangkum apa yang disampaikan oleh Owen, sehingga bagi yang tidak sempat mengikuti seminarnya dapat juga mencicipi Public Speaking yang dibawakannya. Owen memulai seminar ini dengan pertanyaan “WHY”. Apa alasan utama seorang public speaker berprofesi di bidang public speaking. Apabila dimulai oleh “WHY” yang kuat maka public speaking yang dibawakan akan membawa IMPACT bagi pendengarnya dan juga pembicaranya. Public speaking seperti ini yang dikatakan Owen sebagai Charisma Public Speaking, sebuah public speaking yang penuh energi dan membawa manfaat. Selain itu, pertanyaan “WHY” akan membawa pada alasan utama seorang pembicara untuk membawakan sebuah public speaking yang berbeda dengan kualitas yang berbeda juga. Selaras dengan ini, bagi seorang Owen, “WHY”-nya adalah untuk memberikan IMPACT kepada para pendengarnya yang pada ujungnya akan memberikan IMPACT juga pada dirinya. So, langkah pertama adalah tanyakan “WHY” Anda sebelum masuk dalam dunia public speaking.

Langkah ke-dua adalah bagaimana membuat koneksi yang kuat dengan para audiens sehingga public speaking yang dilakukan berjalan lancar (flowing) dan menarik (interesting). Ada 4 pertanyaan yang dapat membantu seorang pembicara untuk connect dengan para audiensnya, yaitu:

  1. What do I like about them? – Apa yang saya sukai dari para audiens?
  2. How are they similar to me? – Bagaimana mereka kelihatan sama dengan saya?
  3. How do I make them look good? – Bagaimana saya dapat membuat mereka lebih baik?
  4. What can I do for them? – Apa yang dapat saya lakukan untuk mereka?

Dengan menanyakan pertanyaan diatas maka akan tercipta “connection” atau “rapport” antara pembicara dengan audiens.

Langkah ketiga adalah menyusun dan mempersiapkan sebuah public speaking dengan baik. Menurut Owen ada tiga bagian yang harus disusun dan dipersiapkan sebelum membawakan sebuah public speaking, yaitu:

1. Introduction
Bagian ini adalah penjelasan singkat mengapa audiens merasa perlu mendengarkan Anda sebagai seorang pembicara. Jelaskan siapa Anda, pengalaman, dan yang Anda lakukan yang membuat orang lain mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan Anda.

Kemudian, berikan gambaran singkat tentang pesan utama dari public speaking yang akan Anda sampaikan. Jangan lupa untuk menarik perhatian (grab attention)  audiens dari awal seperti menceritakan sebuah quote, joke, kisah, berinteraksi dengan peserta, melempar pertanyaan yang menarik minat peserta, dsb. Tujuannya adalah untuk membentuk emosi positif dan ketertarikan peserta kepada pembicara dan apa yang akan disampaikan.

2.The Body Part
Bagian ini adalah bagian utama dari pesan yang Anda ingin sampaikan kepada para audiens yang terdiri dari beberapa pesan. Setiap pesan yang disampaikan hendaknya disampaikan dengan jelas dan didukung oleh fakta dan data pendukung dengan tujuan untuk meningkatkan keyakinan audiens terhadap pesan yang Anda sampaikan. Berikan juga contoh-contoh, bukti, fact & figure, pengalaman, atau cerita yang menguatkan pesan utama yang Anda sampaikan.

Dalam membawakan seminar atau training terkadang ada peserta yang bertanya atau ragu dengan apa yang Anda sampaikan. Untuk mengatasi hal ini, hindari berdebat dengan peserta karena hal ini akan mengakibatkan hilangnya koneksi dengan para audiens. Cara yang paling tepat adalah lakukan pacing & leading. Iyakan atau setujui dulu apa yang menjadi concern penanya, kemudian baru leading ke arah yang Anda inginkan. Anda bisa memberikan bukti, fakta,  data, metaphors, dsb.

Dalam menyampaikan bagian ini juga, jangan lupa untuk menjaga emosi audiens agar mereka tetap memberikan fokusnya pada pembicara dan juga untuk menciptakan good feeling peserta.

3. Conclusion
Dalam bagian penutup, tarik perhatian dari pendengar dan rangkum semua poin-poin utama dari pesan yang Anda sampaikan sebelumnya. Jangan lupa untuk call for action, misalnya untuk sales: call of action-nya adalah membeli produk yang Anda presentasikan. Sampaikan dengan spesifik dan jelaskan apa yang Anda inginkan dari mereka.Dalam bagian penutup ini tetap perlu dijaga emosi positif dari peserta sehingga pada saat meninggalkan public speaking tersebut mereka meninggalkan lokasi dengan perasaan yang bahagia dan yang paling penting lagi apa yang disampaikan memberikan IMPACT dalam hidup mereka.

Susunlah public speaking Anda dengan baik, termasuk tulis berapa lama durasi yang akan Anda bawakan untuk setiap bagiannya. Catat menit per menitnya sehingga Anda dapat mengontrol waktu Anda. Tidak terlalu singkat dan juga tidak terlalu panjang melewati batas waktu yang ada.

Langkah ke-empat adalah, persiapkan diri Anda dengan baik dengan cara melakukan future pacing atau latihan mental (mental rehearsal) dengan cara membayangkan jalannya public speaking yang akan Anda bawakan dalam pikiran Anda sampai Anda mendapatkan suatu feeling yang mantap.

Delivery
Pada saat membawakan public speaking (delivery), ini adalah bagian dimana Anda benar-benar melakukan eksekusi atas apa yang telah Anda rencanakan sebelumnya. Disini pembicara akan berhubungan langsung dengan para audiens dan menyampaikan poin-poin tersebut. Tips untuk delivery adalah:

1. Be Expressive
Sampaikan apa yang akan Anda sampaikan dengan ekspresif. Jiwai apa yang akan Anda sampaikan. Menjadi selaras (congruent) dengan isi pesan yang Anda sampaikan. Kalau pesan yang disampaikan adalah mengenai hal-hal yang lucu maka seluruh tubuh Anda juga harus mengekspresikan kelucuan tersebut. Singkatnya adalah rasakan apa yang Anda katakan (feel what you say) yaitu terciptanya keselarasan antara physiology, tone, dan word.

2. Don’t worry about other people think of you
Banyak pembicara, terutama pembicara yang baru mulai di bidang public speaking yang cemas mengenai apa yang audiens pikirkan tentang dirinya. Ini adalah strategi yang salah karena pada saat Anda cemas dengan apa yang dipikirkan oleh audiens maka state Anda akan menjadi jelek dan delivery-nya menjadi jelek juga.

Lebih lanjut lagi, banyak pembicara yang takut kalau audiens mengetahui bahwa mereka lupa akan apa yang akan Anda sampaikan. Tipsnya untuk ini adalah lanjutkan saja (keep moving), tidak perlu takut karena audiens tidak mengetahui apa isi kepala Anda. Terus saja sampaikan pesan Anda, kalau Anda ingat dengan apa yang terlupa, sampaikan lagi. Kalau Anda tidak ingat sama sekali sampai akhir acara, audiens juga tidak tahu bahwa mereka melewatkan sesuatu. Don’t worry about it! Anda sebagai pembicara yang memegang kontrol sepenuhnya pada saat Anda di atas panggung, bukan audiens!

3. How you can impact the people
Dalam menyampaikan inti pesan Anda yang perlu Anda perhatikan adalah bagaimana Anda memberikan impact kepada para audiens. Bukan berpikir pada kecemasan-kecemasan seperti yang dijelaskan pada poin 2 diatas. Dengan menanyakan apa yang Anda bisa lakukan untuk memberikan impact yang bermanfaat bagi para audiens maka otak Anda akan dalam state yang positif dan otak akan memberikan ide-ide untuk public speaking yang impactful.

Demikian summary dari apa yang disampaikan oleh Owen Fitzpatrick dalam Public Speaking di NLP Indonesia Conference 2013. Semoga membawa manfaat bagi Anda yang ingin menekuni profesi public speaking.

NEGATIVE THINKING: BAGUS ATAU JELEK?

NLPACADEMIA.com – Penilaian apa yang akan Anda berikan pada saat mendengar suara raungan sirene mobil ambulans di siang hari? Bagus atau jelek? Coba ambil waktu sebentar untuk memikirkannya sebelum memberikan jawaban karena jawaban yang diberikan akan mengarah pada suatu kesimpulan yang ujung-ujungnya akan menentukan perbuatan kita bermanfaat atau tidak bermanfaat.

Pada umumnya orang akan menjawab jelek pada saat mendengar raungan sirene. Jarang ada orang yang mengatakan bagus. Namun, seorang praktisi NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang terampil, tidak akan langsung loncat pada suatu judgement atau penilain karena judgement akan memiliki value tertentu yang akan mempengaruhi baik atau buruknya perilaku seseorang.

Jadi apa jawabannya kalau begitu? Menurut saya, jawaban yang paling pas untuk pertanyaan diatas adalah “TERGANTUNG!”

Loh kok “Tergantung?”.

“Iya benar, jawabannya adalah TERGANTUNG. Spesifiknya adalah TERGANTUNG PADA KONTEKS APA.”

Penjelasannya adalah seperti ini, bagi orang umum suara sirene artinya jelek karena ada orang yang sedang sakit. Namun, bagi orang yang sedang sakit, suara sirene ambulans itu justru bagus karena ambulans sudah datang untuk membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Contoh yang lain, “Macet, bagus atau jelek?”

Ya, benar sekali! Jawabannya adalah, “TERGANTUNG!”.

Tergantung dari konteks mana kita melihatnya. Dari konteks pembangunan ekonomi, macet artinya bagus karena salah satu idikator semakin maju ekonomi suatu negara adalah ditandai dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang di jalan. Namun, macet akan menjadi sangat jelek sekali bagi orang-orang yang sedang berada terkena macet tersebut, apalagi bagi seorang ibu yang akan melahirkan bayinya.

Pertanyaan terakhir, “Lupa, bagus atau jelek?”.

Apa respon Anda terhadap pernyataan ini?

Ya, sekali lagi benar! Jawabannya adalah “TERGANTUNG!”.

Tergantung dilihat dalam KONTEKS apa. Lupa pada saat ujian bisa menjadi malapetaka karena bisa berujung pada tidak naik kelas. Namun lupa justru diperlukan pada konteks melupakan pengalaman-pengalaman traumatis di masa lalu.

Lebih lanjut lagi, banyak orang yang tidak suka dengan kata-kata negative thinking. Apalagi kalau kita yang disebut sebagai orang yang negative thinking. Apa benar negative thinking itu sedemikian negatifnya sampai tidak ada manfaat sama sekali? Bagaimana pandangan NLP mengenai negative thinking ini? Mari kita lihat lebih lanjut.

Salah satu presuposisi NLP mengatakan bahwa, “Segala sesuatu memiliki manfaat pada konteks tertentu”. Hal ini berarti, semua perilaku memiliki manfaat atau makna positif dalam konteks yang tepat. Termasuk negative thinking. Salah satu manfaat utamanya adalah untuk menjaga agar jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita.

Setelah mengetahui manfaat dari negative thinking yang begitu bermanfaat, pertanyaannya adalah “Apakah kita masih mau membuang negative thinking dari diri kita?” Saran saya, coba dipikirkan lagi baik-baik.

Analogi kendaraan bermotor mungkin adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini. Apabila pedal gas adalah positive thinking maka pedal rem adalah negative thinking-nya. Kedua pedal ini sangat dibutuhkan. Itu sebabnya pada setiap kendaraan dilengkapi dengan kedua pedal ini. Lebih lanjut lagi, kita tidak dapat mengatakan bahwa pedal gas lebih bermanfaat daripada pedal rem dan atau sebaliknya, karena dua-duanya memiliki fungsinya masing-masing. Dua-duanya sama-sama bermanfaat dan sama-sama penting dalam konteksnya masing-masing.

Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa negative thinking tidak ada manfaatnya sama sekali. Pertanyaan ini sama seperti menanyakan apakah rem sama sekali tidak bermanfaat? Rem justru sangat bermanfaat pada konteks untuk menghentikan laju kendaraan. Bahkan rem dapat menyelamatkan nyawa orang karena dapat menyelamatkan orang dari tabrakan. Bayangkan apa yang akan terjadi apabila tidak ada rem.

Di dalam perusahaan, peraturan-peraturan yang dibuat adalah contoh hasil dari negative thinking yang memiliki manfaat untuk menjaga perusahaan agar tetap berada di jalur yang tepat.

Dalam diri kita, self talk negatif yang diberikan oleh bawah sadar kita adalah tanda-tanda yang diberikan oleh tubuh untuk melindungi diri kita agar jangan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dalam kehidupan sehari-hari; norma-norma, peraturan lalu lintas, perangkat hukum, dan lain sebagainya adalah contoh dari hasil negative thinking agar masyarakat tidak berbenturan satu sama lain pada saat berinteraksi.

Sekali lagi, segala sesuatu memiliki manfaat positif pada konteks tertentu. Dalam konteks yang salah, positive thinking juga dapat menjadi salah. Contohnya adalah, apa yang akan terjadi apabila di hadapan kita ada orang jahat yang ingin mencelakai diri kita dan kita masih ber-positive thinking terhadap orang tersebut? Atau, seandainya di depan kita ada lubang besar namun kita masih ber-positive thinking untuk maju ke depan? Tentu hasilnya adalah sesuatu yang tidak kita harapkan.

Singkatnya adalah apabila suatu perilaku digunakan pada konteks yang tepat maka hasilnya akan bagus. Sebaliknya, apabila suatu perilaku digunakan pada konteks yang salah maka hasilnya akan jelek, terlepas itu negative thinking atau positive thinking.

Sebagai penutup, positive thinking akan bermanfaat apabila digunakan dalam konteks yang tepat dan negative thinking akan bermanfaat apabila digunakan dalam konteks yang tepat. Selaras dengan ini, apabila positive thinking digunakan dalam konteks yang salah maka hasilnya akan jelek dan negative thinking apabila digunakan dalam konteks yang salah, hasilnya juga akan jelek.

Dengan demikian maka apabila kita kembali pada judul artikel di atas, “Apakah Negative Thinking itu bagus atau jelek?” Maka jawabannya adalah TERGANTUNG 🙂

4 Fase Krusial dalam Change Management

NLPACADEMIA.com – Melakukan perubahan bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan tekad yang bulat dan aksi yang nyata dalam strategy management perubahan yang tepat untuk mengelola suatu perubahan sehingga tujuan dari perubahan itu dapat tercapai dengan baik, apalagi kalau perubahan ini menyangkut orang banyak.

NLP adalah ilmu yang mempelajari pola-pola yang mendasari terjadinya sesuatu, termasuk perubahan. Dari semua proses perubahan yang terjadi, terdapat pola yang berulang. Apabila orang mengerti pola perubahan yang dibagi ke dalam 4 fase maka akan sangat membantu siapapun untuk mengantisipasi perubahan. 4 fase itu perubahan terdiri dari:

1.      Denial – Penyangkalan
Pada fase ini orang akan menyangkal perubahan yang terjadi. Secara mental orang belum siap menghadapi perubahan yang terjadi pada dirinya. Pertanyaan, “Kenapa saya?, Tidak mungkin hal ini terjadi pada diriku” dan pertanyaan penyangkalan lainnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di fase ini.

2.      Rejection – Penentangan
Setelah melalui Fase Denial, fase berikutnya adalah Rejection. Orang cenderung menolak perubahan tersebut karena belum dapat melihat manfaatnya. Alih-alih, malah melihat proses perubahan itu sebagai sesuatu beban yang berat karena harus menyesuaikan diri lagi, belajar lagi, dan lain sebagainya.

Di fase ini, orang yang belum dapat menerima perubahan ini cenderung menggalang kekuatan dengan teman-teman lain yang senasib untuk menggagalkan perubahan yang dilakukan.

3.      Exploration – Pembelajaran
Setelah Fase Rejection dilewati, apakah secara sukarela atau terpaksa, orang akan masuk dalam Fase Exploration. Dalam fase ini orang akan belajar mengenai sesuatu yang baru tersebut. Proses pembelajaran ini selaras dengan 4 Fase Pembelajaran dimulai dari: 1. Unconscious incompetence, 2. Conscious incompetence, 3. Conscious competence, dan 4. Unconscious competence. Untuk detailnya silakan baca: “4 Tahapan Menuju Mastery”.

4.      Commitment – Komitmen
Setelah orang melalui Fase Exploration, orang biasanya baru dapat melihat manfaatnya secara utuh. Setelah melihat dan merasakan sendiri manfaat dari perubahan itu maka dirinya akan commit untuk melakukan perubahan tersebut. Dan bahkan dapat menjadi change agent yang menganjurkan teman-temannya melakukan perubahan seperti yang dia lakukan.

Change  Management dalam Perusahaan – Sebuah Contoh Kasus
Untuk memudahkan penjelasan mengenai keseluruhan fase diatas, saya akan mengambil contoh perubahan sistem pencatatan manual menuju komputerisasi. Pada saat perusahaan memutuskan untuk mengganti sistem pencatatan manual dengan menggunakan komputer maka sesuatu yang lama berakhir dan proses perubahan mulai terjadi.

Fase Denial
Dalam fase ini, orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan pencatatan manual akan sangat terganggu comfort zone-nya dan menyangkal realita yang sedang berlangsung. Orang-orang dalam fase ini seperti tidak percaya kalau sistem yang selama ini mereka gunakan akan digantikan dengan sistem baru yang mereka belum tahu manfaatnya. Bagi mereka tidak ada sistem lain yang lebih baik daripada sistem yang mereka gunakan sekarang.

Fase Rejection
Pada fase ini, mereka menolak sistem yang baru yang mengharuskan penggunaan komputer. Bahkan lebih buruk lagi, orang-orang yang tidak mau berubah bergabung menjadi satu kelompok, yaitu kelompok yang menolak terjadinya perubahan.

Fase Exploration
Pada fase ini, karena perusahaan sudah memutuskan untuk menggunakan komputer dan tidak bisa mundur lagi dari deadline yang ditetapkan maka perusahaan memutuskan bagi orang-orang yang tidak bisa mengikuti keputusan ini silakan mengundurkan diri, sedangkan yang mau menerima perubahan ini silakan melanjutkan penggunaan komputer. Berhubung ini sudah menjadi keputusan final perusahaan maka orang-orang yang memutuskan bergabung dengan perusahaan mulai mempelajari bagaimana mengoperasikan komputer.

Fase Commitment
Pada fase ini, orang-orang yang sudah melalui Fase Exploration mulai melihat manfaat yang luar biasa dari komputer, mulai dari penyimpanan data, analisa, komputasi, dan lain sebagainya yang sangat jauh manfaatnya apabila dibandingkan dengan cara manual. Setelah merasakan manfaatnya, mereka kemudian commit untuk melakukan pekerjaan dengan komputer dan bahkan mereka menjadi agent of change bagi rekan-rekannya yang lain agar mau menggunakan komputer. Setelah fase ini maka sesuatu yang baru (baca: perubahan) dimulai.

Time is the key success factor – waktu adalah faktor kunci penentu sukses change management.
Syarat sukses agar suatu perubahan dapat terjadi dengan sukses adalah waktu. Semakin lama suatu perubahan berada di Fase Denial dan Rejection maka tingkat kegagalan project ini makin tinggi. Sebaliknya, semakin cepat suatu perubahan melalui Fase Denial sampai pada Commitment maka tingkat sukses dari perubahan yang dilakukan akan semakin tinggi. Jadi, pastikan dalam melakukan perubahan Anda memperhatikan juga faktor waktu karena waktu memainkan faktor yang sangat penting dalam change management.

Ketika Semuanya Menjadi Tidak Terkendali

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak masalah yang kita hadapi. Terkadang masalah yang satu belum selesai, sudah muncul lagi masalah yang lain. Capek rasanya secara fisik maupun mental untuk mengatasi masalah yang ada. Dalam artikel kali ini, saya akan bercerita mengenai keadaan yang sangat chaotic atau tidak terkendali dan bagaimana yang harus kita lakukan. Semoga tulisan ini dapat menghibur Anda dan memberikan semangat baru lagi dalam mengatasi masalah yang ada. Nah, apa yang harus kita lakukan pada saat kondisi yang sama terjadi pada diri kita? Silakan nikmati tulisan dibawah ini.

Sudrun dan Kegalauannya
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang jatuh cinta dengan teman kuliahnya. Sebutlah nama pemuda itu Sudrun dan cewek yang ditaksirnya itu bernama Sandra. Karena saking ngebetnya Sudrun sudah tidak tahan lagi ingin “nembak” Sandra. Namun, Sudrun ternyata bukanlah tipe orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Dia menuliskan pemikirannya tersebut dalam selembar surat yang dimasukkan ke dalam amplop dan kemudian Sudrun meminta bantuan adiknya Sandra untuk memberikan kepada kakaknya tersebut dengan iming-iming akan diberikan sejumlah uang apabila misinya tersebut berhasil. Berhubung adik Sandra ini masih polos maka dia langsung membawa surat tersebut pulang ke rumah.

Sehari berlalu, dua hari, tiga hari, sampai seminggu masih belum ada kabar dari Sandra. Rasa cemaspun menghinggapi diri Sudrun. Dengan rasa penasaran yang besar dia menemui adiknya Sandra dan menanyakan ada apa gerangan hingga sampai sekarang masih belum ada jawaban dari Sandra. Dengan polosnya adik Sandra berkata, bahwa suratnya sudah dicoba diberikan kepada Sandra. Namun pada saat surat itu ingin diberikan, kakaknya tidak berada di rumah maka surat ini diberikan kepada ayahnya. “Mati aku!”, kata Sudrun dalam hati. “Terus, apa yang terjadi kemudian?”, kejar Sudrun. Dengan perasaan tidak bersalah, sang adik berkata, “Setelah dibaca, suratnya diminta oleh ayah saya dikembalikan kepada Kak Sudrun”.

Pikiran Sudrun pun tambah galau karena sampai sekarang suratnya tidak sampai pada dirinya. Dia kembali bertanya, “Kepada siapa surat itu kamu berikan? Sampai sekarang saya belum menerimanya”. “Nah itulah masalahnya Kak Sudrun, berhubung waktu itu kakak tidak berada di rumah, yang ada cuma ayah Kak Sudrun, maka surat itu saya berikan kepada ayah kak Sudrun” kata si adik. Sekonyong-konyong kaki Sudrun langsung lemas tidak bertenaga karena kegalauannya sudah memuncak.

Cerita diatas mungkin mengundang senyum dan tawa ketika melihat permasalahan yang dialami tokoh kita, si Sudrun. Namun, tidak demikian halnya apabila masalah yang sebenarnya dialami oleh diri kita. Bisa pusing tujuh keliling.

Nah, kalau begitu apa dong yang harus kita lakukan pada saat kita berada pada situasi yang tidak terkendali? Ini adalah tipsnya:

  1. Tenangkan dulu diri kita karena semakin panik pikiran kita, semakin kacau tindakan kita. Ingat!, “Orang yang emosinya sedang berada di titik tertinggi, logikanya berada di titik yang paling rendah”.
  2. Terima dahulu kenyataan yang ada. Semakin cepat kita menerima kenyataan yang ada semakin cepat kita berdamai dengan diri kita dan semakin cepat stress juga tersebut mereda. Semakin kita memberontak, maka akan semakin besar energi yang kita keluarkan dan semakin lama proses pendamaian dalam hati akan terjadi.
  3. Apabila kita mampu untuk langsung menyelesaikan permasalahan yang ada, selesaikanlah saat itu juga.
  4. Namun, apabila permasalahan yang terjadi tersebut belum mampu diselesaikan, sadarilah. Dengan menyadari masalah yang ada, artinya kita tidak lari dari kenyataan yang ada dan secara berangsur-angsur konflik yang terjadi dalam pikiran kita akan mereda.
  5. Dan terakhir adalah dengan penuh semangat berusaha untuk menambah sumber daya – sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang ada sampai masalah tersebut dapat diselesaikan.

Semoga bermanfaat.

~ Live the life you want to live & make sure it is useful!