Category Archives: Neuro-Linguistic Programming

Guru Besar itu Bernama Konfusius

“Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tapi hebat dalam tindakan”

“Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu.”

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setelah kita jatuh”

~ Konfusius

Pada tanggal 4 April 2013 kemarin saya mendapat kesempatan yang sangat berharga mengunjungi tempat kelahiran Konfusius di Qufu, Propinsi Shandong, China. Beliau mendapat tempat yang sangat terhormat bagi banyak orang di dunia karena ajarannya yang begitu luar biasa. Bahkan di zaman lampau, 12 raja dari berbagai dinasti datang ke tempat beliau khusus untuk memberikan apresiasi atas kontribusinya yang besar. Termasuk mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew juga mengunjungi tempat beliau untuk memberikan penghormatan atas sumbangsihnya yang besar bagi negara dan umat manusia.

Sekilas mengenai tempat Konfusius di Qufu, China. Tempat ini dibagi dalam dua bagian besar. Yang pertama disebut sebagai Confucius’s Temple, seluas 24 hektar. Dan yang kedua adalah areal pemakaman keluarga Kong seluas 240 hektar. Disinilah Konfusius dimakamkan bersama dengan semua orang yang memiliki nama keluarga atau bermarga Kong, sesuai dengan nama keluarga Konfusius, yaitu Kong.

Ajarannya dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar yaitu: 1. Sebagai Agama, yaitu agama Kong Hu Cu, dan 2. Sebagai falsafah hidup. Dapat dikatakan bahwa semua keturunan China baik itu di negara China sendiri maupun China perantauan pasti menggunakan falsafah hidup yang diajarkan oleh Konfusius. Yang menarik adalah, tidak semua orang Chinese beragama Kong Hu Cu. Namun, dapat dipastikan bahwa semua orang Chinese menggunakan falsafah Konfusius sebagai pedoman hidupnya.

Selain itu, bukan hanya orang China saja, baik di mainland China maupun yang bertebaran di seluruh dunia atau dikenal dengan sebutan Hoakiao – China perantauan, yang menggunakan salah satu atau kedua ajarannya diatas. Bangsa-bangsa besar di luar China, seperti Jepang dan Korea banyak menggunakan pemikiran-pemikiran Konfusius dalam menjalankan pemerintahannya menuju pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Itu sebabnya selain sebagai seorang guru, Konfusius juga dikenang sebagai seorang statesman, ahli tata negara.

Sekilas mengenai Konfusius
Konfusius lahir pada tahun 551 SM dan meninggal pada tahun 479 SM di daerah Qufu, Propinsi Shandong, China. Walaupun beliau adalah seorang guru besar, namun hidup beliau penuh dengan penderitaan. Konfusius lahir di keluarga miskin dan pada usia 3 tahun ayah beliau meniggal dunia. Pada usia 24 tahun, ibunda beliau meninggal dunia. Dan 3 tahun sebelum beliau meninggal, putera satu-satunya meninggal dunia. Namun dibalik semua ini, beliau masih dapat mengeluarkan yang terbaik dari dirinya dan memberikan yang terbaik bagi dunia. Konfusius pernah menjabat beberapa posisi dalam pemerintahan, namun sebagian besar hidupnya dicurahkan untuk mengajar murid-murid beliau. Tercatat ada 3,000 orang yang menjadi murid beliau. Beberapa yang terkenal diantaranya adalah Mensius (Mengzi) dan Yan Hui.

Memodel Konfusius
NLP lahir dari usaha Richard Bandler dan John Grinder dalam memodel tiga orang luar biasa di zamannya, yaitu: Virginia Satir, Fritz Perls, dan Milton H. Erickson. Dari modeling ini lahirlah NLP, sebuah ilmu luar biasa yang mempelajari pikiran, ucapan, dan perilaku seseorang untuk menuju kesuksesan dan kebahagiaan.

Merupakan suatu hal yang luar biasa apabila kita dapat memodel seorang luar biasa seperti Konfusius, yang sumbangsihnya terlihat jelas bagi dunia sampai dengan saat ini. Pertanyaannya adalah apa yang harus kita model? Bagi saya, ada dua hal penting yang dapat dimodel dari orang sekaliber Konfusius ini.

Yang pertama adalah pribadi Konfusius sendiri. Konfusius adalah orang yang terpelajar, sederhana, menjunjung tinggi moralitas, dan walk the talk (melakukan apa yang dikatakan). Untuk mengubah status sosial seseorang, beliau menyarankan untuk belajar (sekolah). Dengan demikian maka orang akan berpendidikan dan dapat mengubah statusnya sekaligus nasibnya. Sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah hidup berfoya-foya. Kesederhanaan adalah kesehariannya. Dalam hal moralitas, beliau adalah orang yang mengedepankan kesusilaan, sopan santun, tata krama, dan budi pekerti. Salah satu ucapan beliau yang terkenal selaras dengan walk the talk adalah “Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu.”

Dan, yang kedua adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh beliau. Nilai-nilai seperti: bakti kepada orang tua, rendah hati, kesetiaan, dapat dipercaya, kesusilaan, kebijaksanaan, hidup sederhana, dan tahu malu, adalah nilai-nilai universal yang dapat kita model dan install dalam diri kita. Nilai-nilai ini adalah nilai-nilai yang akan membawa kemajuan bagi orang-orang yang mau meng-install-nya dalam dirinya.

Apabila kita memodel dan mempraktekkan karakteristik dan nilai-nilai yang diajarkan oleh beliau maka kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dari sisi kualitas maupun moralitas. Dari kumpulan pribadi-pribadi yang berkualitas ini maka kita akan menjadi bangsa yang besar. Dari bangsa yang besar akan menjadi negara yang besar dan sejahtera. Dan negara itu adalah Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Teknik NLP: Swish Pattern

NLPACADEMIA.comSwish Pattern adalah teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, merokok, gugup, demam panggung dan kebiasaan buruk lainnya.

Elemen kunci dalam Swish Pattern adalah “switching” atau menggantikan dua buah state, yaitu melepaskan state yang tidak diinginkan dan menggantikannya dengan state yang diinginkan sehingga tercipta suatu keadaan “going away” dari masalah yang ada dan “moving toward” keadaan yang diinginkan dalam bentuk lahirnya perilaku baru menggantikan perilaku lama.

Bagaimana Teknik Swish Pattern Bekerja
Munculnya sebuah perilaku adalah karena adanya sebuah trigger atau pemicu dalam pikiran yang mengaktifasi suatu perilaku. Pemicu inilah yang digantikan dengan perilaku baru atau gambar diri (self image) yang lebih bermanfaat atau disebut dengan desired state (keadaan yang diinginkan). Dalam hal ini, Swish Pattern bekerja dengan cara membentuk sebuah pengkodean baru atas gambar, suara, atau perasaan dalam pikiran bawah sadar dengan cara memodifikasi isi dari submodalitas dimana kualitas submodalitas dari perilaku baru dan atau gambar diri minimal dibuat sama dengan kualitas submodalitas dari pemicu.

Sehingga apabila awalnya pada saat pemicu lama muncul, misalnya, melihat kuku jari tangan (trigger visual), maka langsung muncul perilaku buruk, yaitu: menggigit kuku maka setelah dilakukan Swish Pattern maka perilaku tersebut tidak muncul lagi dan digantikan dengan perilaku atau gambar diri yang diinginkan, yaitu: gambar diri dengan jari tangan yang bagus dengan kualitas submodalitas (misal: ukuran dan tingkat kecerahan gambar) yang minimal atau lebih kuat dari gambar pemicu.

Dengan Teknik Swish Pattern, kita dapat membantu orang-orang yang memiliki masalah seperti di atas dengan membantu mereka me-reprogram pikiran bawah sadarnya. Dalam keadaan normal perubahan ini sulit dilakukan karena kebiasaan buruk adalah program pikiran bawah sadar yang harus diakses dan di-reprogram secara bawah sadar juga.

Pemilihan “Cue Selection / Trigger
Sebelum melakukan teknik Swish Pattern, sangat penting  untuk mengidentifikasi sebuah cue selection atau trigger (pemicu) yang menyebabkan munculnya sebuah perilaku yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, melihat jari tangan untuk kasus menggigit kuku jari tangan untuk pemicu visual, perasaan mual pada saat hendak maju memberikan presentasi untuk pemicu kinesthetic, dan suara yang membuat demotivasi untuk pemicu auditory.

Dengan mengetahui pemicunya (berupa gambar, suara, maupun perasaan) maka kita dapat mendesain teknik Swish Pattern yang tepat untuk digunakan. Hal ini disebabkan karena lead system (sistem pikiran yang mendahului perilaku tertentu) setiap orang berbeda. Apabila pemicunya adalah gambar (visual) maka Visual Swish Pattern adalah cara yang paling tepat untuk konteks ini. Visual Swish Pattern biasanya adalah teknik yang umumnya diajar dalam kelas NLP practitioner. Sedangkan Auditory Swish Pattern dan Kinesthetic Swish Pattern merupakan variasi teknik lainnya dari Swish Pattern.

Mendesain Swish Pattern – Gambaran Menyeluruh
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan perilaku apa yang ingin diubah. Setelah itu, mencari tahu modalitas dan sub modalitas mana yang penting dan memiliki peran besar dalam sebuah trigger. Dalam Swish Pattern standard (Visual Swish Pattern) modalitas itu adalah dalam bentuk gambar (visual) dan sub modalitasnya adalah misalnya ukuran dan tingkat terang/redupnya gambar tersebut. Kemudian tentukan perilaku baru atau gambar diri yang diinginkan yang akan menggantikan perilaku lama. Dan, hal yang terakhir adalah melakukan “switching” atau penggantian state diantara keduanya dengan teknik Swish Pattern.

Berikut ini adalah langkah demi langkahnya untuk Visual Swish Pattern:

Langkah 1
Tentukan perilaku yang ingin diubah.

Langkah 2
Buat gambar pemicu secara asosiasi (melihat dari mata sendiri) yang menyebabkan munculnya perilaku tersebut. Misal: Gambar jari tangan. Cari submodalitas dari gambar tersebut yang paling mempengaruhi kekuatan dari gambar pemicu, misalnya: ukuran dan tingkat kecerahan gambar. Untuk mempermudah penjelasan, kita sebut gambar ini sebagai “Gambar #1”.

Langkah 3
Break state. Misal, memikirkan hal yang lain atau melihat pohon di luar jendela. Tujuannya, agar proses #2 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 4
Buat gambar yang lain, kali ini disosiasi (melihat dari kejauhan), melihat diri sendiri dengan perilaku baru yang diinginkan. Misal: Gambar diri sendiri dengan kuku tangan yang bagus. Untuk mempermudah penjelasan, kita sebut gambar ini sebagai “Gambar #2”.

Langkah 5
Cek ekologi dengan menanyakan: “Saat melihat gambar ini (Gambar #2), apakah ada penolakan untuk menjadi pribadi yang baru tersebut?” Lakukan pengecekan ekologis.

Langkah 6
Sekarang, buat gambar pemicu (Gambar #1) dalam keadaan besar, terang, dan posisi asosiasi. Kemudian letakkan gambar yang diinginkan (Gambar #2) dalam bentuk kecil (seperti insert foto kecil) di pojok kiri bawah dari gambar yang tidak diinginkan (Gambar #1). Lihat gambar di bawah ini.

Gambar 1.1

Langkah 7
Selanjutnya, lakukan proses “swish” dengan cara Gambar #1 memudar dan mengecil sedangkan Gambar #2 mendekat, membesar, lebih terang, dan secara cepat menutupi tempat yang ditempati sebelumnya oleh Gambar #1. Untuk proses ini dapat ditambahkan suara “Swissssh……” dan menggerakkan telapak tangan kiri menjauh dari wajah untuk Gambar #1 dan mendekatkan telapak tangan kanan ke wajah untuk Gambar #2 secara bersamaan untuk membantu proses swish lebih efektif. Ulangi proses ini sebanyak lima kali dan lakukan break state sebelum memulai proses swish yang baru. Salah satu tanda berhasilnya teknik ini adalah apabila Gambar #1 terasa sulit untuk di-recall.

Langkah 8
Lakukan pengujian – dalam kasus ini sodorkan kembali jari tangannya ke arah mulut dan amati apakah masih ada keinginan untuk menggigit kuku tersebut. Apabila sudah tidak ada silakan maju ke proses selanjutnya. Apabila masih ada, ulangi langkah pada poin #6 diatas sampai Gambar #1 tidak dapat di-recall.

Langkah 9
Future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila melihat trigger Gambar #1 apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

Variasi Teknik Swish Pattern
Untuk teknik Auditory Swish Pattern klik disini.
Untuk teknik Kinesthetic Swish Pattern klik disini.

Teknik NLP: Auditory Swish Pattern

NLPACADEMIA.comSwish Pattern adalah teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, merokok, gugup, demam panggung dan kebiasaan buruk lainnya. Selain Visual Swish Pattern, Teknik Swish Pattern juga dapat dilakukan dalam bentuk Auditory Swish Pattern.

Langkah demi langkah Teknik Auditory Swish Pattern:

Langkah 1
Tentukan submodalitas auditory mana yang paling kuat dalam keadaan yang tidak diinginkan. Cari tahu apakah volume dan jarak adalah yang paling mempengaruhi perilaku yang tidak diinginkan tersebut. Biasanya ini adalah submodalitas auditory pada banyak orang.

Langkah 2
Bentuk keadaan disosiasi bagaimana “keadaan yang diinginkan” itu bersuara/berbunyi seperti yang diinginkan, misal dengan menanyakan: “Dengarkan seperti apa suara/self talk Anda dengan tambahan pilihan bersumber daya”, atau “Dengarkan suara itu seperti ada orang lain yang berbicara pada Anda”, atau “Apa kualitas yang Anda dengar sekarang?”.

Langkah 3
Cari submodalitas auditory mana yang menjadi penggeraknya, misal: submodalitas mana yang kalau ditambah akan meningkatkan intensitas perilaku. Apabila memungkinkan, cari dua submodalitas yang terkuat untuk keadaan “sebelum” dan “sesudah”. Sebagai contoh, untuk suara internal dengan submodalitas keras dan dekat akan berkurang intensitasnya ketika meredup dan menjauh. Sehingga untuk keadaan “sesudah” tambahkan volume suaranya dan dekatkan. Dengan demikian maka intensitasnya akan meningkat.

Langkah 4
Break state. Misal, memikirkan hal yang lain atau melihat pohon di luar jendela. Tujuannya, agar Langkah #3 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 5
Lakukan swish sehingga suara “sebelum” meredup dan menjauh sedangkan “suara yang diinginkan” mendekat dan menambah volume suaranya.

Langkah 6
Break state.

Langkah 7
Ulangi langkah 5 sebanyak lima kali dan setiap kali lebih cepat daripada sebelumnya

Langkah 8
Lakukan future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila mendengarkan trigger “suara sebelum” apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

Note:
Kadang kala orang merespon lebih baik pada suara internal yang lembut daripada suara yang keras. Jika demikian maka, sesuaikan swish yang dilakukan sehingga keadaan “sebelum” dan suara “diinginkan” dimulai dari keras menjadi lembut. Selain itu, arah datangnya suara juga memainkan peran yang penting.

Teknik NLP: Kinesthetic Swish Pattern

NLPACADEMIA.comSwish Pattern adalah teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, merokok, gugup, demam panggung dan kebiasaan buruk lainnya. Selain Visual Swish Pattern, Teknik Swish Pattern juga dapat dilakukan dalam bentuk Kinesthetic Swish Pattern.

Langkah demi langkah Teknik Kinesthetic Swish Pattern:

Langkah 1
Identifikasi perasaan yang tidak diinginkan.

Langkah 2
Tanyakan apa maksud positif dari perasaan ini. Tanya: “Apa yang ingin perasaan ini sampaikan kepada saya, yang perlu saya ketahui sekarang?”

Langkah 3
Identifikasi sebuah perasaan yang diinginkan.

Langkah 4
Cek ekologi dengan menanyakan: “Apakah oke apabila memiliki perasaan baru ini sekarang?”

Langkah 5
Susutkan perasaan yang diinginkan ini dalam sebuah bola energi kecil (sebesar bola pingpong)

Langkah 6
Break State. Misal, memikirkan hal yang lain atau melihat pohon di luar jendela. Tujuannya, agar langkah #5 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 7
Masuk ke dalam keadaan yang tidak diinginkan dan letakkan bola energi tersebut sekitar daerah ulu hati (area solar plexus) dan secara perlahan biarkan bola energi tersebut membesar dan menggantikan perasaan lama tersebut sampai menyelimuti seluruh tubuh.

Langkah 8
Break State

Langkah 9
Ulangi langkah 7 sebanyak lima kali dan setiap kali lebih cepat daripada sebelumnya

Langkah 10
Lakukan future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila merasakan trigger “perasaan sebelum” apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

NEGATIVE THINKING: BAGUS ATAU JELEK?

NLPACADEMIA.com – Penilaian apa yang akan Anda berikan pada saat mendengar suara raungan sirene mobil ambulans di siang hari? Bagus atau jelek? Coba ambil waktu sebentar untuk memikirkannya sebelum memberikan jawaban karena jawaban yang diberikan akan mengarah pada suatu kesimpulan yang ujung-ujungnya akan menentukan perbuatan kita bermanfaat atau tidak bermanfaat.

Pada umumnya orang akan menjawab jelek pada saat mendengar raungan sirene. Jarang ada orang yang mengatakan bagus. Namun, seorang praktisi NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang terampil, tidak akan langsung loncat pada suatu judgement atau penilain karena judgement akan memiliki value tertentu yang akan mempengaruhi baik atau buruknya perilaku seseorang.

Jadi apa jawabannya kalau begitu? Menurut saya, jawaban yang paling pas untuk pertanyaan diatas adalah “TERGANTUNG!”

Loh kok “Tergantung?”.

“Iya benar, jawabannya adalah TERGANTUNG. Spesifiknya adalah TERGANTUNG PADA KONTEKS APA.”

Penjelasannya adalah seperti ini, bagi orang umum suara sirene artinya jelek karena ada orang yang sedang sakit. Namun, bagi orang yang sedang sakit, suara sirene ambulans itu justru bagus karena ambulans sudah datang untuk membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Contoh yang lain, “Macet, bagus atau jelek?”

Ya, benar sekali! Jawabannya adalah, “TERGANTUNG!”.

Tergantung dari konteks mana kita melihatnya. Dari konteks pembangunan ekonomi, macet artinya bagus karena salah satu idikator semakin maju ekonomi suatu negara adalah ditandai dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang di jalan. Namun, macet akan menjadi sangat jelek sekali bagi orang-orang yang sedang berada terkena macet tersebut, apalagi bagi seorang ibu yang akan melahirkan bayinya.

Pertanyaan terakhir, “Lupa, bagus atau jelek?”.

Apa respon Anda terhadap pernyataan ini?

Ya, sekali lagi benar! Jawabannya adalah “TERGANTUNG!”.

Tergantung dilihat dalam KONTEKS apa. Lupa pada saat ujian bisa menjadi malapetaka karena bisa berujung pada tidak naik kelas. Namun lupa justru diperlukan pada konteks melupakan pengalaman-pengalaman traumatis di masa lalu.

Lebih lanjut lagi, banyak orang yang tidak suka dengan kata-kata negative thinking. Apalagi kalau kita yang disebut sebagai orang yang negative thinking. Apa benar negative thinking itu sedemikian negatifnya sampai tidak ada manfaat sama sekali? Bagaimana pandangan NLP mengenai negative thinking ini? Mari kita lihat lebih lanjut.

Salah satu presuposisi NLP mengatakan bahwa, “Segala sesuatu memiliki manfaat pada konteks tertentu”. Hal ini berarti, semua perilaku memiliki manfaat atau makna positif dalam konteks yang tepat. Termasuk negative thinking. Salah satu manfaat utamanya adalah untuk menjaga agar jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita.

Setelah mengetahui manfaat dari negative thinking yang begitu bermanfaat, pertanyaannya adalah “Apakah kita masih mau membuang negative thinking dari diri kita?” Saran saya, coba dipikirkan lagi baik-baik.

Analogi kendaraan bermotor mungkin adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini. Apabila pedal gas adalah positive thinking maka pedal rem adalah negative thinking-nya. Kedua pedal ini sangat dibutuhkan. Itu sebabnya pada setiap kendaraan dilengkapi dengan kedua pedal ini. Lebih lanjut lagi, kita tidak dapat mengatakan bahwa pedal gas lebih bermanfaat daripada pedal rem dan atau sebaliknya, karena dua-duanya memiliki fungsinya masing-masing. Dua-duanya sama-sama bermanfaat dan sama-sama penting dalam konteksnya masing-masing.

Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa negative thinking tidak ada manfaatnya sama sekali. Pertanyaan ini sama seperti menanyakan apakah rem sama sekali tidak bermanfaat? Rem justru sangat bermanfaat pada konteks untuk menghentikan laju kendaraan. Bahkan rem dapat menyelamatkan nyawa orang karena dapat menyelamatkan orang dari tabrakan. Bayangkan apa yang akan terjadi apabila tidak ada rem.

Di dalam perusahaan, peraturan-peraturan yang dibuat adalah contoh hasil dari negative thinking yang memiliki manfaat untuk menjaga perusahaan agar tetap berada di jalur yang tepat.

Dalam diri kita, self talk negatif yang diberikan oleh bawah sadar kita adalah tanda-tanda yang diberikan oleh tubuh untuk melindungi diri kita agar jangan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dalam kehidupan sehari-hari; norma-norma, peraturan lalu lintas, perangkat hukum, dan lain sebagainya adalah contoh dari hasil negative thinking agar masyarakat tidak berbenturan satu sama lain pada saat berinteraksi.

Sekali lagi, segala sesuatu memiliki manfaat positif pada konteks tertentu. Dalam konteks yang salah, positive thinking juga dapat menjadi salah. Contohnya adalah, apa yang akan terjadi apabila di hadapan kita ada orang jahat yang ingin mencelakai diri kita dan kita masih ber-positive thinking terhadap orang tersebut? Atau, seandainya di depan kita ada lubang besar namun kita masih ber-positive thinking untuk maju ke depan? Tentu hasilnya adalah sesuatu yang tidak kita harapkan.

Singkatnya adalah apabila suatu perilaku digunakan pada konteks yang tepat maka hasilnya akan bagus. Sebaliknya, apabila suatu perilaku digunakan pada konteks yang salah maka hasilnya akan jelek, terlepas itu negative thinking atau positive thinking.

Sebagai penutup, positive thinking akan bermanfaat apabila digunakan dalam konteks yang tepat dan negative thinking akan bermanfaat apabila digunakan dalam konteks yang tepat. Selaras dengan ini, apabila positive thinking digunakan dalam konteks yang salah maka hasilnya akan jelek dan negative thinking apabila digunakan dalam konteks yang salah, hasilnya juga akan jelek.

Dengan demikian maka apabila kita kembali pada judul artikel di atas, “Apakah Negative Thinking itu bagus atau jelek?” Maka jawabannya adalah TERGANTUNG 🙂