Category Archives: Association & Dissociation

Teknik NLP: Asosiasi & Disosiasi

Dalam NLP sering dijumpai technical terms berupa association dan dissociation atau dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai ASOSIASI dan DISOSIASI. Kedua hal ini sebenarnya terdapat dalam diri setiap orang. Namun, mungkin karena tidak disadari maka orang tidak merasakannya. Dan yang lebih jelek lagi, dalam penggunaannya, orang sering salah dan terbalik antara yang satu dengan yang lain. Hasilnya, tentu tidak maksimal dan malah menjauhkan orang dari kesuksesan dan kebahagiaan.

Lebih lanjut lagi, asosiasi dan disosiasi adalah landasan dari berbagai teknik dalam NLP. Salah satunya adalah teknik Fast Phobia Cure untuk mengatasi fobia yang sangat terkenal keefektifannya itu. Untuk detail dari teknik Fast Phobia Cure silakan baca “Terbentuknya Fobia & Cara Mengatasinya”.

ASOSIASI
Orang yang berada dalam keadaan asosiasi akan akan mengakses memorinya baik itu di masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang, melalui VAKOG (panca inderanya) sendiri secara penuh, seperti: melihat dari mata sendiri, mendengar dari telinga sendiri, merasakan sendiri, mencium dari hidung sendiri dan mencecap dengan lidah sendiri.

Untuk mengetahui bagaimana asosiasi bekerja, coba lakukan latihan sederhana sebagai berikut: Coba bayangkan suatu kejadian yang sangat membahagiakan bagi Anda, misalnya: kelahiran anak pertama, mendapatkan rumah impian, mendapatkan kejutan di hari ulang tahun, dan lain sebagainya. Masuk kembali dalam pengalaman tersebut dan lihat dari mata Anda sendiri, dengarkan dari telinga Anda sendiri, dan rasakan apa yang Anda rasakan saat itu. Ulang beberapa kali sampai Anda mendapatkan feel-nya. Dari skala 0 s/d 10 (0 paling rendah dan 10 paling tinggi) di angka berapa emosi Anda setelah melakukan asosiasi diatas? Untuk hasil asosiasi yang bagus adalah apabila angkanya berada di titik optimum (10) atau mendekati angka 10.

Asosiasi dapat membuat Anda mengalami sepenuhnya pengalaman atau kejadian baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi (misalnya visualisasi pencapaian impian) melalui seluruh panca indera Anda. Proses kebalikan dari Asosiasi adalah Disosiasi.

DISOSIASI
Orang yang berada dalam keadaan disosiasi akan mengakses memorinya baik itu di masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang melalui VAKOG (panca inderanya) sendiri dari kejauhan. Dalam hal ini, orang tersebut akan melihat dirinya dari kejauhan ibarat melihat fotonya sendiri.

Untuk mengetahui bagaimana disosiasi bekerja, coba lakukan latihan berikut ini. Coba pilih pengalaman atau kejadian yang kurang menyenangkan. Saran saya pilihlah pengalaman yang emosinya tidak terlalu intens karena ini hanya sebatas latihan, misalnya kesal karena teman terlambat. Jangan memilih kejadian yang memiliki emosi yang intens seperti kehilangan orang yang dicintai, fobia, dsb. kecuali Anda didampingi oleh seorang NLP Practitioner yang berpengalaman.

Masuk kembali dalam pengalaman tersebut dan lihat diri Anda dalam kejadian tersebut seperti Anda melihat foto Anda. Sama halnya juga dengan apa yang Anda dengarkan, seolah-olah mendengar dari kejauhan. Apabila Anda melakukan hal ini dengan benar maka emosi yang dirasakan tidak akan terlalu intens karena proses pembuatan jarak antara (emotional detachment). Apabila menggunakan skala seperti yang disebutkan sebelumnya diatas, emosi ideal yang dirasakan dalam posisi disosiasi adalah mendekati nol. Disosiasi sangat membantu dalam menangani emosi negatif, seperti stres, sedih, kecewa, dsb.

Virginia Satir adalah seorang family therapist yang sangat piawai dalam menggunakan linguistic-nya dalam membantu seorang klien yang mengalami masalah dalam hidupnya. Ia sering menggunakan kata-kata sebagai berikut: “Coba lihat diri Anda yang sedang mengalami masalah tersebut”. Seketika itu juga, klien yang tadinya sangat terasosiasi dengan masalahnya berganti menjadi posisi disosiasi (melihat dirinya dari kejauhan) dan emosi negatifnya menjadi berkurang.

Lebih lanjut lagi, Bandler (The Father & Co-creator of NLP) menggunakan posisi disosiasi, bahkan sampai triple dissociation (tiga kali disosiasi), dalam melakukan terapi terhadap orang-orang yang memiliki fobia. Tujuannya adalah untuk melemahkan emosi negatif karena orang-orang yang fobia akan mengalami emosi negatif yang sangat intens pada saat mengunjungi kembali pengalaman fobianya tersebut. Dengan cara ini proses terapi berlangsung dengan sukses.

Dengan mengetahui cara kerja asosiasi dan disosiasi maka kita dapat menggunakannya dalam konteks yang tepat. Untuk konteks yang bahagia dan menyenangkan maka asosiasi adalah pilihan yang tepat. Namun, apabila dalam konteks yang kurang bahagia dan kurang menyenangkan maka disosiasi adalah pilihan yang paling tepat agar kita tidak merasakan emosi yang terlalu intens dalam hal ini. Apakah Anda sudah dapat membedakan dan menggunakan asosiasi dan disosiasi secara tepat?

Semoga bermanfaat.

~ Live a life you want to live & make sure it is useful.