Category Archives: Belajar NLP

Teknik NLP: Swish Pattern

NLPACADEMIA.comSwish Pattern adalah teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, merokok, gugup, demam panggung dan kebiasaan buruk lainnya.

Elemen kunci dalam Swish Pattern adalah “switching” atau menggantikan dua buah state, yaitu melepaskan state yang tidak diinginkan dan menggantikannya dengan state yang diinginkan sehingga tercipta suatu keadaan “going away” dari masalah yang ada dan “moving toward” keadaan yang diinginkan dalam bentuk lahirnya perilaku baru menggantikan perilaku lama.

Bagaimana Teknik Swish Pattern Bekerja
Munculnya sebuah perilaku adalah karena adanya sebuah trigger atau pemicu dalam pikiran yang mengaktifasi suatu perilaku. Pemicu inilah yang digantikan dengan perilaku baru atau gambar diri (self image) yang lebih bermanfaat atau disebut dengan desired state (keadaan yang diinginkan). Dalam hal ini, Swish Pattern bekerja dengan cara membentuk sebuah pengkodean baru atas gambar, suara, atau perasaan dalam pikiran bawah sadar dengan cara memodifikasi isi dari submodalitas dimana kualitas submodalitas dari perilaku baru dan atau gambar diri minimal dibuat sama dengan kualitas submodalitas dari pemicu.

Sehingga apabila awalnya pada saat pemicu lama muncul, misalnya, melihat kuku jari tangan (trigger visual), maka langsung muncul perilaku buruk, yaitu: menggigit kuku maka setelah dilakukan Swish Pattern maka perilaku tersebut tidak muncul lagi dan digantikan dengan perilaku atau gambar diri yang diinginkan, yaitu: gambar diri dengan jari tangan yang bagus dengan kualitas submodalitas (misal: ukuran dan tingkat kecerahan gambar) yang minimal atau lebih kuat dari gambar pemicu.

Dengan Teknik Swish Pattern, kita dapat membantu orang-orang yang memiliki masalah seperti di atas dengan membantu mereka me-reprogram pikiran bawah sadarnya. Dalam keadaan normal perubahan ini sulit dilakukan karena kebiasaan buruk adalah program pikiran bawah sadar yang harus diakses dan di-reprogram secara bawah sadar juga.

Pemilihan “Cue Selection / Trigger
Sebelum melakukan teknik Swish Pattern, sangat penting  untuk mengidentifikasi sebuah cue selection atau trigger (pemicu) yang menyebabkan munculnya sebuah perilaku yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, melihat jari tangan untuk kasus menggigit kuku jari tangan untuk pemicu visual, perasaan mual pada saat hendak maju memberikan presentasi untuk pemicu kinesthetic, dan suara yang membuat demotivasi untuk pemicu auditory.

Dengan mengetahui pemicunya (berupa gambar, suara, maupun perasaan) maka kita dapat mendesain teknik Swish Pattern yang tepat untuk digunakan. Hal ini disebabkan karena lead system (sistem pikiran yang mendahului perilaku tertentu) setiap orang berbeda. Apabila pemicunya adalah gambar (visual) maka Visual Swish Pattern adalah cara yang paling tepat untuk konteks ini. Visual Swish Pattern biasanya adalah teknik yang umumnya diajar dalam kelas NLP practitioner. Sedangkan Auditory Swish Pattern dan Kinesthetic Swish Pattern merupakan variasi teknik lainnya dari Swish Pattern.

Mendesain Swish Pattern – Gambaran Menyeluruh
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan perilaku apa yang ingin diubah. Setelah itu, mencari tahu modalitas dan sub modalitas mana yang penting dan memiliki peran besar dalam sebuah trigger. Dalam Swish Pattern standard (Visual Swish Pattern) modalitas itu adalah dalam bentuk gambar (visual) dan sub modalitasnya adalah misalnya ukuran dan tingkat terang/redupnya gambar tersebut. Kemudian tentukan perilaku baru atau gambar diri yang diinginkan yang akan menggantikan perilaku lama. Dan, hal yang terakhir adalah melakukan “switching” atau penggantian state diantara keduanya dengan teknik Swish Pattern.

Berikut ini adalah langkah demi langkahnya untuk Visual Swish Pattern:

Langkah 1
Tentukan perilaku yang ingin diubah.

Langkah 2
Buat gambar pemicu secara asosiasi (melihat dari mata sendiri) yang menyebabkan munculnya perilaku tersebut. Misal: Gambar jari tangan. Cari submodalitas dari gambar tersebut yang paling mempengaruhi kekuatan dari gambar pemicu, misalnya: ukuran dan tingkat kecerahan gambar. Untuk mempermudah penjelasan, kita sebut gambar ini sebagai “Gambar #1”.

Langkah 3
Break state. Misal, memikirkan hal yang lain atau melihat pohon di luar jendela. Tujuannya, agar proses #2 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 4
Buat gambar yang lain, kali ini disosiasi (melihat dari kejauhan), melihat diri sendiri dengan perilaku baru yang diinginkan. Misal: Gambar diri sendiri dengan kuku tangan yang bagus. Untuk mempermudah penjelasan, kita sebut gambar ini sebagai “Gambar #2”.

Langkah 5
Cek ekologi dengan menanyakan: “Saat melihat gambar ini (Gambar #2), apakah ada penolakan untuk menjadi pribadi yang baru tersebut?” Lakukan pengecekan ekologis.

Langkah 6
Sekarang, buat gambar pemicu (Gambar #1) dalam keadaan besar, terang, dan posisi asosiasi. Kemudian letakkan gambar yang diinginkan (Gambar #2) dalam bentuk kecil (seperti insert foto kecil) di pojok kiri bawah dari gambar yang tidak diinginkan (Gambar #1). Lihat gambar di bawah ini.

Gambar 1.1

Langkah 7
Selanjutnya, lakukan proses “swish” dengan cara Gambar #1 memudar dan mengecil sedangkan Gambar #2 mendekat, membesar, lebih terang, dan secara cepat menutupi tempat yang ditempati sebelumnya oleh Gambar #1. Untuk proses ini dapat ditambahkan suara “Swissssh……” dan menggerakkan telapak tangan kiri menjauh dari wajah untuk Gambar #1 dan mendekatkan telapak tangan kanan ke wajah untuk Gambar #2 secara bersamaan untuk membantu proses swish lebih efektif. Ulangi proses ini sebanyak lima kali dan lakukan break state sebelum memulai proses swish yang baru. Salah satu tanda berhasilnya teknik ini adalah apabila Gambar #1 terasa sulit untuk di-recall.

Langkah 8
Lakukan pengujian – dalam kasus ini sodorkan kembali jari tangannya ke arah mulut dan amati apakah masih ada keinginan untuk menggigit kuku tersebut. Apabila sudah tidak ada silakan maju ke proses selanjutnya. Apabila masih ada, ulangi langkah pada poin #6 diatas sampai Gambar #1 tidak dapat di-recall.

Langkah 9
Future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila melihat trigger Gambar #1 apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

Variasi Teknik Swish Pattern
Untuk teknik Auditory Swish Pattern klik disini.
Untuk teknik Kinesthetic Swish Pattern klik disini.

Teknik NLP: Auditory Swish Pattern

NLPACADEMIA.comSwish Pattern adalah teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, merokok, gugup, demam panggung dan kebiasaan buruk lainnya. Selain Visual Swish Pattern, Teknik Swish Pattern juga dapat dilakukan dalam bentuk Auditory Swish Pattern.

Langkah demi langkah Teknik Auditory Swish Pattern:

Langkah 1
Tentukan submodalitas auditory mana yang paling kuat dalam keadaan yang tidak diinginkan. Cari tahu apakah volume dan jarak adalah yang paling mempengaruhi perilaku yang tidak diinginkan tersebut. Biasanya ini adalah submodalitas auditory pada banyak orang.

Langkah 2
Bentuk keadaan disosiasi bagaimana “keadaan yang diinginkan” itu bersuara/berbunyi seperti yang diinginkan, misal dengan menanyakan: “Dengarkan seperti apa suara/self talk Anda dengan tambahan pilihan bersumber daya”, atau “Dengarkan suara itu seperti ada orang lain yang berbicara pada Anda”, atau “Apa kualitas yang Anda dengar sekarang?”.

Langkah 3
Cari submodalitas auditory mana yang menjadi penggeraknya, misal: submodalitas mana yang kalau ditambah akan meningkatkan intensitas perilaku. Apabila memungkinkan, cari dua submodalitas yang terkuat untuk keadaan “sebelum” dan “sesudah”. Sebagai contoh, untuk suara internal dengan submodalitas keras dan dekat akan berkurang intensitasnya ketika meredup dan menjauh. Sehingga untuk keadaan “sesudah” tambahkan volume suaranya dan dekatkan. Dengan demikian maka intensitasnya akan meningkat.

Langkah 4
Break state. Misal, memikirkan hal yang lain atau melihat pohon di luar jendela. Tujuannya, agar Langkah #3 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 5
Lakukan swish sehingga suara “sebelum” meredup dan menjauh sedangkan “suara yang diinginkan” mendekat dan menambah volume suaranya.

Langkah 6
Break state.

Langkah 7
Ulangi langkah 5 sebanyak lima kali dan setiap kali lebih cepat daripada sebelumnya

Langkah 8
Lakukan future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila mendengarkan trigger “suara sebelum” apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

Note:
Kadang kala orang merespon lebih baik pada suara internal yang lembut daripada suara yang keras. Jika demikian maka, sesuaikan swish yang dilakukan sehingga keadaan “sebelum” dan suara “diinginkan” dimulai dari keras menjadi lembut. Selain itu, arah datangnya suara juga memainkan peran yang penting.

Teknik NLP: Kinesthetic Swish Pattern

NLPACADEMIA.comSwish Pattern adalah teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, merokok, gugup, demam panggung dan kebiasaan buruk lainnya. Selain Visual Swish Pattern, Teknik Swish Pattern juga dapat dilakukan dalam bentuk Kinesthetic Swish Pattern.

Langkah demi langkah Teknik Kinesthetic Swish Pattern:

Langkah 1
Identifikasi perasaan yang tidak diinginkan.

Langkah 2
Tanyakan apa maksud positif dari perasaan ini. Tanya: “Apa yang ingin perasaan ini sampaikan kepada saya, yang perlu saya ketahui sekarang?”

Langkah 3
Identifikasi sebuah perasaan yang diinginkan.

Langkah 4
Cek ekologi dengan menanyakan: “Apakah oke apabila memiliki perasaan baru ini sekarang?”

Langkah 5
Susutkan perasaan yang diinginkan ini dalam sebuah bola energi kecil (sebesar bola pingpong)

Langkah 6
Break State. Misal, memikirkan hal yang lain atau melihat pohon di luar jendela. Tujuannya, agar langkah #5 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 7
Masuk ke dalam keadaan yang tidak diinginkan dan letakkan bola energi tersebut sekitar daerah ulu hati (area solar plexus) dan secara perlahan biarkan bola energi tersebut membesar dan menggantikan perasaan lama tersebut sampai menyelimuti seluruh tubuh.

Langkah 8
Break State

Langkah 9
Ulangi langkah 7 sebanyak lima kali dan setiap kali lebih cepat daripada sebelumnya

Langkah 10
Lakukan future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila merasakan trigger “perasaan sebelum” apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

Teknik NLP: Asosiasi & Disosiasi

Dalam NLP sering dijumpai technical terms berupa association dan dissociation atau dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai ASOSIASI dan DISOSIASI. Kedua hal ini sebenarnya terdapat dalam diri setiap orang. Namun, mungkin karena tidak disadari maka orang tidak merasakannya. Dan yang lebih jelek lagi, dalam penggunaannya, orang sering salah dan terbalik antara yang satu dengan yang lain. Hasilnya, tentu tidak maksimal dan malah menjauhkan orang dari kesuksesan dan kebahagiaan.

Lebih lanjut lagi, asosiasi dan disosiasi adalah landasan dari berbagai teknik dalam NLP. Salah satunya adalah teknik Fast Phobia Cure untuk mengatasi fobia yang sangat terkenal keefektifannya itu. Untuk detail dari teknik Fast Phobia Cure silakan baca “Terbentuknya Fobia & Cara Mengatasinya”.

ASOSIASI
Orang yang berada dalam keadaan asosiasi akan akan mengakses memorinya baik itu di masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang, melalui VAKOG (panca inderanya) sendiri secara penuh, seperti: melihat dari mata sendiri, mendengar dari telinga sendiri, merasakan sendiri, mencium dari hidung sendiri dan mencecap dengan lidah sendiri.

Untuk mengetahui bagaimana asosiasi bekerja, coba lakukan latihan sederhana sebagai berikut: Coba bayangkan suatu kejadian yang sangat membahagiakan bagi Anda, misalnya: kelahiran anak pertama, mendapatkan rumah impian, mendapatkan kejutan di hari ulang tahun, dan lain sebagainya. Masuk kembali dalam pengalaman tersebut dan lihat dari mata Anda sendiri, dengarkan dari telinga Anda sendiri, dan rasakan apa yang Anda rasakan saat itu. Ulang beberapa kali sampai Anda mendapatkan feel-nya. Dari skala 0 s/d 10 (0 paling rendah dan 10 paling tinggi) di angka berapa emosi Anda setelah melakukan asosiasi diatas? Untuk hasil asosiasi yang bagus adalah apabila angkanya berada di titik optimum (10) atau mendekati angka 10.

Asosiasi dapat membuat Anda mengalami sepenuhnya pengalaman atau kejadian baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi (misalnya visualisasi pencapaian impian) melalui seluruh panca indera Anda. Proses kebalikan dari Asosiasi adalah Disosiasi.

DISOSIASI
Orang yang berada dalam keadaan disosiasi akan mengakses memorinya baik itu di masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang melalui VAKOG (panca inderanya) sendiri dari kejauhan. Dalam hal ini, orang tersebut akan melihat dirinya dari kejauhan ibarat melihat fotonya sendiri.

Untuk mengetahui bagaimana disosiasi bekerja, coba lakukan latihan berikut ini. Coba pilih pengalaman atau kejadian yang kurang menyenangkan. Saran saya pilihlah pengalaman yang emosinya tidak terlalu intens karena ini hanya sebatas latihan, misalnya kesal karena teman terlambat. Jangan memilih kejadian yang memiliki emosi yang intens seperti kehilangan orang yang dicintai, fobia, dsb. kecuali Anda didampingi oleh seorang NLP Practitioner yang berpengalaman.

Masuk kembali dalam pengalaman tersebut dan lihat diri Anda dalam kejadian tersebut seperti Anda melihat foto Anda. Sama halnya juga dengan apa yang Anda dengarkan, seolah-olah mendengar dari kejauhan. Apabila Anda melakukan hal ini dengan benar maka emosi yang dirasakan tidak akan terlalu intens karena proses pembuatan jarak antara (emotional detachment). Apabila menggunakan skala seperti yang disebutkan sebelumnya diatas, emosi ideal yang dirasakan dalam posisi disosiasi adalah mendekati nol. Disosiasi sangat membantu dalam menangani emosi negatif, seperti stres, sedih, kecewa, dsb.

Virginia Satir adalah seorang family therapist yang sangat piawai dalam menggunakan linguistic-nya dalam membantu seorang klien yang mengalami masalah dalam hidupnya. Ia sering menggunakan kata-kata sebagai berikut: “Coba lihat diri Anda yang sedang mengalami masalah tersebut”. Seketika itu juga, klien yang tadinya sangat terasosiasi dengan masalahnya berganti menjadi posisi disosiasi (melihat dirinya dari kejauhan) dan emosi negatifnya menjadi berkurang.

Lebih lanjut lagi, Bandler (The Father & Co-creator of NLP) menggunakan posisi disosiasi, bahkan sampai triple dissociation (tiga kali disosiasi), dalam melakukan terapi terhadap orang-orang yang memiliki fobia. Tujuannya adalah untuk melemahkan emosi negatif karena orang-orang yang fobia akan mengalami emosi negatif yang sangat intens pada saat mengunjungi kembali pengalaman fobianya tersebut. Dengan cara ini proses terapi berlangsung dengan sukses.

Dengan mengetahui cara kerja asosiasi dan disosiasi maka kita dapat menggunakannya dalam konteks yang tepat. Untuk konteks yang bahagia dan menyenangkan maka asosiasi adalah pilihan yang tepat. Namun, apabila dalam konteks yang kurang bahagia dan kurang menyenangkan maka disosiasi adalah pilihan yang paling tepat agar kita tidak merasakan emosi yang terlalu intens dalam hal ini. Apakah Anda sudah dapat membedakan dan menggunakan asosiasi dan disosiasi secara tepat?

Semoga bermanfaat.

~ Live a life you want to live & make sure it is useful.

Rahasia Sukses & Bahagia dengan Teknik REFRAMING

Setiap event atau peristiwa yang terjadi dalam hidup kita adalah bernilai netral. Namun, pada saat pikiran kita memberikan makna atau penilaian terhadap suatu peristiwa maka pada detik itu juga peristiwa tersebut memiliki nilai dan muatan emosi. Apabila makna positif yang dilekatkan, maka peristiwa tersebut akan memiliki muatan positif. Sebaliknya, apabila makna negatif yang diberikan maka peristiwa tersebut akan memiliki muatan negatif. Sebagai contoh, coba jawab pertanyaan ini sebelum Anda membaca lebih lanjut. “Apa makna yang akan Anda berikan pada saat Anda mengetahui bahwa gaji Anda tidak naik tahun ini?”

Makna Negatif:

  1. Bosnya pelit!
  2. Perusahaan payah!
  3. Tidak berperikemanusiaan!
  4. Dsb.

Makna Positif:

  1. Mungkin kinerja saya kurang baik di tahun lalu. Kini saatnya meningkatkan kompetensi saya lagi.
  2. Perusahaan mungkin sedang mengalami masa sulit ditengah bayang-bayang resesi global. Saya harus dapat membantu perusahaan keluar dari masa sulit ini dengan bekerja lebih baik lagi.
  3. Atau, kini saatnya berusaha sendiri sebagai seorang entrepreneur.
  4. Dsb.

Berbagai makna dapat Anda berikan dalam kejadian diatas, baik yang positif maupun yang negatif. Makna yang negatif akan membawa orang pada keadaan yang tidak bersumber daya dan cenderung menghabiskan banyak energi. Sedangkan makna yang positif akan membawa orang pada keadaan yang lebih bersumber daya dan menciptakan peluang-peluang baru untuk lebih sukses dan juga lebih bahagia.

Kabar buruknya adalah makna yang kita berikan terhadap suatu peristiwa cenderung muncul secara otomatis tanpa kita sadari, sehingga apabila makna yang diberikan lebih banyak yang negatif dan tidak bermanfaat maka hidup kitapun menjauh dari sukses dan bahagia.

Kabar baiknya adalah setelah Anda selesai membaca tulisan ini, Anda akan memiliki pengetahuan dan pilihan yang lebih baik dalam memberikan makna yang lebih positif dan bermanfaat dalam berbagai peristiwa yang Anda lalui dalam hidup Anda. Dalam NLP, kemampuan untuk memberikan makna positif dan bermanfaat dari suatu event atau peristiwa disebut dengan REFRAMING atau membingkai ulang makna dari suatu kejadian dengan bingkai yang lebih baik (baca: positif dan bermanfaat). Kabar baik berikutnya lagi adalah bahwa keterampilan ini dapat dilatih dan di-install menjadi kebiasaan yang positif dalam hidup Anda.

Dalam tulisan ini kita akan mempelajari dua jenis reframing. Yang pertama adalah MEANING REFRAMING dan yang kedua adalah CONTEXT REFRAMING.

MEANING REFRAMING
MEANING REFRAMING atau sering juga disebut sebagai CONTENT REFRAMING adalah membingkai ulang makna dari suatu peristiwa dengan memberikan arti baru yang lebih positif dan bermanfaat atas sebuah peristiwa. Misalnya: jalanan macet. Setiap orang bisa memberikan makna yang berbeda-beda dan reaksi yang berbeda-beda atas peristiwa ini, seperti: marah, kesal, benci, dongkol, dan lain sebagainya. Namun, sahabat saya Juliyanto memiliki meaning reframing yang luar biasa atas kejadian macet ini, yaitu dengan BERSYUKUR. Ia memberi makna kemacetan yang sedang dihadapi dengan bersyukur karena dia berada di dalam kemacetan berarti ia masih memiliki mobil untuk dikendarai. Luar biasa bukan?

CONTEXT REFRAMING
CONTEXT REFRAMING adalah membingkai ulang suatu keadaan dengan memindahkan atau mencari  konteks baru yang lebih sesuai. Hal ini didasari oleh presuposisi NLP yang mengatakan bahwa “ADA SATU KONTEKS YANG TEPAT UNTUK SETIAP PERILAKU”. Ini adalah contoh dari context reframing: Daripada merasa minder karena badannya terlalu tinggi, seorang remaja putri (tinggi badan 175 Cm) dapat melakukan reframing dengan memindahkan konteksnya ke dalam konteks lain. Misalnya, tinggi badan diatas rata-rata adalah modal yang bagus untuk menjadi model, artis, pramugari, dan atau konteks-konteks lainnya yang membutuhkan syarat tinggi badan tertentu dalam profesi tersebut.

Orang-orang yang sukses dan bahagia adalah orang-orang  yang piawai dalam membingkai ulang apapun peristiwa yang terjadi dalam hidupnya dengan makna yang lebih positif dan bermanfaat. Ini adalah rahasianya. Sekarang Anda sudah mengetahui rahasia tersebut. Pertanyaannya adalah apakah Anda mau menerapkannya setelah selesai membaca artikel ini?

Semoga bermanfaat.

~ LIVE THE LIFE YOU WANT TO LIFE & MAKE SURE IT IS USEFUL.