Category Archives: Metaphors

Ketika Semuanya Menjadi Tidak Terkendali

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak masalah yang kita hadapi. Terkadang masalah yang satu belum selesai, sudah muncul lagi masalah yang lain. Capek rasanya secara fisik maupun mental untuk mengatasi masalah yang ada. Dalam artikel kali ini, saya akan bercerita mengenai keadaan yang sangat chaotic atau tidak terkendali dan bagaimana yang harus kita lakukan. Semoga tulisan ini dapat menghibur Anda dan memberikan semangat baru lagi dalam mengatasi masalah yang ada. Nah, apa yang harus kita lakukan pada saat kondisi yang sama terjadi pada diri kita? Silakan nikmati tulisan dibawah ini.

Sudrun dan Kegalauannya
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang jatuh cinta dengan teman kuliahnya. Sebutlah nama pemuda itu Sudrun dan cewek yang ditaksirnya itu bernama Sandra. Karena saking ngebetnya Sudrun sudah tidak tahan lagi ingin “nembak” Sandra. Namun, Sudrun ternyata bukanlah tipe orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Dia menuliskan pemikirannya tersebut dalam selembar surat yang dimasukkan ke dalam amplop dan kemudian Sudrun meminta bantuan adiknya Sandra untuk memberikan kepada kakaknya tersebut dengan iming-iming akan diberikan sejumlah uang apabila misinya tersebut berhasil. Berhubung adik Sandra ini masih polos maka dia langsung membawa surat tersebut pulang ke rumah.

Sehari berlalu, dua hari, tiga hari, sampai seminggu masih belum ada kabar dari Sandra. Rasa cemaspun menghinggapi diri Sudrun. Dengan rasa penasaran yang besar dia menemui adiknya Sandra dan menanyakan ada apa gerangan hingga sampai sekarang masih belum ada jawaban dari Sandra. Dengan polosnya adik Sandra berkata, bahwa suratnya sudah dicoba diberikan kepada Sandra. Namun pada saat surat itu ingin diberikan, kakaknya tidak berada di rumah maka surat ini diberikan kepada ayahnya. “Mati aku!”, kata Sudrun dalam hati. “Terus, apa yang terjadi kemudian?”, kejar Sudrun. Dengan perasaan tidak bersalah, sang adik berkata, “Setelah dibaca, suratnya diminta oleh ayah saya dikembalikan kepada Kak Sudrun”.

Pikiran Sudrun pun tambah galau karena sampai sekarang suratnya tidak sampai pada dirinya. Dia kembali bertanya, “Kepada siapa surat itu kamu berikan? Sampai sekarang saya belum menerimanya”. “Nah itulah masalahnya Kak Sudrun, berhubung waktu itu kakak tidak berada di rumah, yang ada cuma ayah Kak Sudrun, maka surat itu saya berikan kepada ayah kak Sudrun” kata si adik. Sekonyong-konyong kaki Sudrun langsung lemas tidak bertenaga karena kegalauannya sudah memuncak.

Cerita diatas mungkin mengundang senyum dan tawa ketika melihat permasalahan yang dialami tokoh kita, si Sudrun. Namun, tidak demikian halnya apabila masalah yang sebenarnya dialami oleh diri kita. Bisa pusing tujuh keliling.

Nah, kalau begitu apa dong yang harus kita lakukan pada saat kita berada pada situasi yang tidak terkendali? Ini adalah tipsnya:

  1. Tenangkan dulu diri kita karena semakin panik pikiran kita, semakin kacau tindakan kita. Ingat!, “Orang yang emosinya sedang berada di titik tertinggi, logikanya berada di titik yang paling rendah”.
  2. Terima dahulu kenyataan yang ada. Semakin cepat kita menerima kenyataan yang ada semakin cepat kita berdamai dengan diri kita dan semakin cepat stress juga tersebut mereda. Semakin kita memberontak, maka akan semakin besar energi yang kita keluarkan dan semakin lama proses pendamaian dalam hati akan terjadi.
  3. Apabila kita mampu untuk langsung menyelesaikan permasalahan yang ada, selesaikanlah saat itu juga.
  4. Namun, apabila permasalahan yang terjadi tersebut belum mampu diselesaikan, sadarilah. Dengan menyadari masalah yang ada, artinya kita tidak lari dari kenyataan yang ada dan secara berangsur-angsur konflik yang terjadi dalam pikiran kita akan mereda.
  5. Dan terakhir adalah dengan penuh semangat berusaha untuk menambah sumber daya – sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang ada sampai masalah tersebut dapat diselesaikan.

Semoga bermanfaat.

~ Live the life you want to live & make sure it is useful!

Belajar dari Sebuah Sikat Gigi Tua

Virginia Satir, seorang family therapist, yang juga adalah salah seorang dari 3 orang yang dimodel oleh Bandler dan Grinder mengatakan bahwa basic instinct manusia bukanlah survival atau bertahan hidup, namun “to keep things familiar. Atau dengan kata lain, manusia memiliki sifat atau kecenderungan untuk mempertahankan dan melakukan hal-hal yang sama. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan orang susah berubah karena adanya dorongan dari bawah sadar untuk mempertahankan dan melakukan hal-hal yang sama.

Suatu hari saya merasa bahwa sudah waktunya bagi saya untuk mengganti sikat gigi saya yang sudah tidak layak pakai lagi. Sikat gigi tua yang mau dipensiunkan ini sudah tidak nyaman untuk digunakan karena bulu sikatnya sudah melebar kemana-mana sehingga kalau digunakan menyebabkan gusi menjadi sakit karena bulu sikatnya ikut menyikati gusi saya.

Pada saat itu juga saya mengatakan pada diri saya sendiri setelah sikat gigi kali ini saya akan menggantinya dengan sikat gigi yang baru. Setelah selesai, saya meletakkan sikat gigi itu kembali ke tempatnya semula. Bencana kembali terjadi karena pada saat malam sebelum tidur saya kembali menggunakan sikat yang sama. Kembali saya mengatakan setelah sikatan terakhir ini saya akan segera mengganti sikat gigi tua ini dengan sikat gigi yang baru. Setelah proses sikat gigi selesai saya kembali meletakkan sikat gigi ini kembali ke tempatnya semula. Perubahan tetap tidak terjadi! Walaupun saya sudah mengatakan untuk menggantinya berulang kali. Keesokan paginya saya tetap menggunakan sikat gigi yang sama.

Benar kata Virginia Satir bahwa basic instinct manusia bukanlah survival, namun mempertahankan melakukan hal-hal yang sama. Hal ini terjadi karena suatu kebiasaan dilakukan terus menerus melalui jalur neuron yang sama dan tersimpan dalam program bawah sadar. Semua program yang tersimpan di bawah sadar akan bekerja secara otomatis. Untuk mengetahui bagaimana terbentuknya suatu kebiasaan dan bagaimana cara meng-uninstall kebiasaan buruk baca: Jalur Neuron & Kebiasaan.

Melanjutkan cerita sikat gigi diatas, sampailah saya pada suatu hari dimana setelah sikat gigi yang terakhir saya langsung membuang sikat gigi tua itu ke tong sampah walaupun dengan risiko tidak sikat gigi pada esok pagi karena belum tentu ada stok sikat gigi di rumah. Dan benar, esok paginya saya kalang kabut karena tidak menemukan sikat gigi tua tersebut di tempatnya dan tidak ada stok sikat gigi baru di rumah. Namun, Voila! Perubahan terjadi. Sayapun melangkah ke minimarket terdekat untuk membeli sikat gigi baru.

Change will never take place if it is not put into action & miracle only happens in the real actions. Belajar dari cerita sederhana diatas, perubahan tidak pernah akan terjadi apabila tidak dilakukan & keajaiban hanya terjadi dalam aksi nyata. Proses perubahan tidak cukup hanya dipikirkan dan diucapkan saja. Namun, harus dilakukan. Itu sebabnya orang yang sering membuat rencana, terlepas apakah itu  rencana bisnis, rencana merubah kebiasaan buruk, dan rencana-rencana lainnya, tidak akan berhasil apabila tidak dilakukan.

Sebagai penutup, apabila outcome atau goal sudah dibuat, langkah berikutnya adalah melakukannya dalam bentuk ACTION. Pertanyaannya adalah, “Apakah Anda sudah melakukan apa yang sudah Anda rencanakan?”

Semoga bermanfaat.

~ Live the life you want to live & make sure it is useful.

Masukkan Seekor Ikan Hiu Dalam Tangki Hidup Anda

Seperti biasa, begitu bangun pagi saya langsung membuka laptop saya. Waktu 24 jam terasa tidak cukup. Jadi harus pintar-pintar membagi waktu agar dapat menyelesaikan tugas-tugas yang harus dilakukan, termasuk menulis artikel ini agar dapat selesai tepat pada waktunya.

Setelah membuka laptop, tiba-tiba saya teringat cerita ikan hiu inspiratif yang pernah saya baca dulu. Walaupun kondisi penyimpanan ikan dewasa ini sudah sangat maju dan mungkin juga kondisi penyimpanan ikan di bawah sudah tidak sesuai lagi dengan teknologi saat ini, namun efek dari morale story-nya sangat luar biasa. Saya tidak tahu siapa pertama sekali yang menulis cerita ini, namun tidak ada salahnya saya mengucapkan terima kasih atas ceritanya ini.

Berikut ini adalah ceritanya …..  Jepang adalah bangsa yang sangat menyukai ikan segar. Hal ini bisa dilihat dari makanannya yang banyak terdiri dari ikan-ikan segar dalam sushi atau sashimi yang dihidangkan. Kesegaran ikan adalah kunci utama dalam menentukan nikmat tidaknya sushi atau sashimi tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan ikan tetap dalam keadaan segar pada saat mencapai daratan.

Awalnya teknik penyimpanan ikan dalam kapal adalah dengan diberi es dan ditaburi garam. Dengan cara ini diharapkan ikan-ikan yang dimasukkan dalam tempat penyimpanan ini dapat tetap segar selama dalam perjalanan. Namun kenyataannya ikan tidak terlalu segar lagi pada saat mencapai daratan karena memang sudah mati waktu dalam perjalanan.

Belajar dari hal ini, nelayan Jepang memperbaiki metode penyimpanan ikannya dengan membuat tangki penampungan ikan yang lebih besar dengan air laut di dalamnya sehingga ikan-ikan yang ditangkap dapat berenang di dalam tangki berisi air laut ini. Cara ini lebih baik daripada cara sebelumnya. Namun sebelum sampai di daratan, ikan-ikan ini sudah mati lemas terlebih dahulu.

Nelayanpun kembali memutar otak untuk mencari cara yang lebih baik lagi. Kali ini, nelayan tetap menggunakan tangki seperti diatas, namun perbedaannya sekarang adalah tangki tersebut diisi dengan seekor ikan hiu kecil. Memang ikan hiu ini memangsa beberapa ikan yang ada di dekatnya namun mayoritas ikan tetap hidup pada saat sampai di daratan.

Kenapa ikan-ikan ini dapat tetap hidup tidak seperti ikan-ikan sebelumnya yang tidak memiliki ikan hiu dalam tangki penampungannya? Ternyata dengan hadirnya seekor ikan hiu membuat mereka lebih waspada terhadap predator yang dapat memangsa mereka setiap saat. Mereka terus berenang menjauhi ikan hiu yang bergerak mendekat ke arah mereka.

Morale of the story
Ikan hiu yang dimaksudkan dalam cerita diatas adalah masalah atau tantangan yang kita jumpai dalam hidup. Bisa dalam karir, rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Ikan hiu atau masalah, tantangan, ancaman, dsb. dapat kita gunakan untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat. Dengan adanya ikan hiu ini, ikan menjadi lebih waspada dan terus bergerak. Sama halnya dengan manusia, dengan adanya masalah, tantangan, ancaman yang ada disekitar kita, hal ini dapat membuat kita untuk lebih waspada, terus bergerak, dipaksa keluar dari comfort zone, menjadi fleksibel dengan cara-cara baru, stretching our limit (menembus limit kita sekarang), dsb.

Brian Tracy, seorang success coach, mengatakan ada 2 hal yang menghalangi manusia untuk maju: 1. Homeostatis, suatu keadaan untuk terus di status-quo dan 2. Psychosclerosis, suatu keadaan dimana manusia tidak fleksibel lagi terhadap keadaan. Kedua hal tersebut membuat orang takut meninggalkan comfort zone-nya.

Dengan memasukkan seekor ikan hiu dalam tangki hidup kita maka akan membuat kita dipaksa untuk keluar dari keadaan status-quo dan menjadi fleksibel mempelajari hal-hal baru yang dapat mendukung kita mencapai tujuan kita. Sudahkah Anda memasukkan seekor ikan hiu dalam tangki hidup Anda?

~ LIVE A LIFE YOU WANT TO LIFE & MAKE SURE IT IS USEFUL!

 

Mengatasi Masalah dengan Nested Loops

Setiap hari setiap orang pasti menghadapi masalah. Bahkan satu masalah belum selesai, masalah yang lain sudah muncul, yang kalau muncul tidak jarang membuat orang kesulitan dan membuat orang menjadi stress. Sebenarnya apa sih masalah itu? Saya akan menjelaskannya dengan rangkaian cerita yang dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP) disebut dengan nama nested loops.

Seorang ibu paruh baya memiliki dua orang anak, yang satu berjualan payung dan yang satu lagi berjualan es krim. Setiap hari ibu ini kelihatan murung dan bersedih hati. Pada waktu hari terik ia bersedih mengingat anaknya yang berjualan payung tidak laku barang dagangannya. Dan pada saat hari hujan, ia juga bersedih mengingat anaknya yang berjualan es krim tidak laku barang dagangannya. Demikian setiap hari ia selalu bersedih mengingat kedua anaknya tersebut.

Di tempat yang lain, ada seorang bapak dengan lima orang anak yang baru saja melalui hari yang sangat berat. Ia baru saja di PHK karena kantor tempatnya bekerja harus tutup karena keadaan perekonomian yang memburuk akibat dari imbas krisis ekonomi global. Ia sangatstress memikirkan nasib lima anaknya yang masih kecil-kecil dan masih sekolah. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyambung hidup sementara hutang sudah gali lubang tutup lubang. Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia menaiki sebuah angkot yang kosong dan ia termenung meratapi nasibnya yang sangat buruk tersebut. Tidak lama kemudian naiklah seorang bapak dengan dua anaknya yang masih kecil ke dalam angkot tersebut. Mula-mula mereka duduk dengan tenang namun tidak lama berselang kedua anak kecil tersebut membuat kegaduhan. Mulai dari bercanda, berteriak dan bermain sesuka mereka. Hal ini sangat mengganggu bapak yang baru saja kena PHK tadi dan membuatnya naik pitam dan berkata kepada bapak dari kedua anak itu untuk mendiamkan kedua anaknya yang sangat berisik.

Suatu hari sepulang kerja tanpa disangka-sangka ada seorang tetangga baru yang mengata-ngatai tetangganya yang baru pulang kerja. Dengan pandangan sinis dan bibir sedikit mencibir dia mengatakan: “Dasar, begitu saja sombong!”. Mendengar hal ini, tentu saja tetangganya yang baru pulang kerja tersebut kaget bukan kepalang. Namun karena sudah capek dan tidak mau mencari masalah ia tidak memperdulikannya dan masuk ke dalam rumah walaupun dengan perasaan sedikit emosi. Keesokan harinya pada saat ia pulang kerja, kejadian yang sama kembali berulang. Hal ini membuatnya semakin emosi dan ia berkata dalam hati bahwa kalau besok orang tersebut mengatakan hal yang sama lagi maka ia akan membuat perhitungan dengan orang tersebut karena hal tersebut sudah diluar batas.

Di suatu kota terdapat dua orang kakak beradik yang lahir dari ayah dan ibu yang sama. Keadaan sang kakak sangat berbanding terbalik dengan sang adik, dimana sang kakak sangat terpuruk dalam hidupnya, berandalan dan dianggap sebagai sampah masyarakat. Berbeda halnya dengan sang adik, ia sangat berhasil dalam hidupnya. Ia sangat kaya, terpandang dan dicintai oleh masyarakat di lingkungan dimana ia tinggal. Suatu hari seorang wartawan sangat tertarik untuk mewawancarai kedua kakak beradik ini dan ingin mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan mereka berdua bisa seperti ini.  Waktu sang kakak diwawancara oleh wartawan tersebut mengenai kenapa ia bisa seperti sekarang ini, ia mengatakan bahwa ayahnya adalah penyebab kenapa ia bisa seperti ini. Ia menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang pemabuk, penjudi, sering memarahi dan memukul dirinya. Singkat cerita, alasan kenapa dia bisa seperti ini hari ini adalah karena apa yang dilakukan oleh ayahnya terhadap dirinya dan juga kepada keluarganya. Secara terpisah, wartawan tersebut juga mewawancarai sang adik. Dan alangkah kagetnya si wartawan tersebut karena sang adik mengatakan alasan dia sukses seperti ini adalah karena ayahnya juga. Sama seperti yang diceritakan oleh kakaknya, karena ayahnya adalah pemabuk, penjudi, suka memarahi dan memukuli ibunya, kakaknya dan dirinya maka ia bertekad untuk tidak mau menjadi sama seperti ayahnya.

Pada saat sore hari sesampainya di depan pintu rumah, tetangga tersebut kembali mengatai tetangganya yang baru pulang kerja: “Dasar, begitu saja sombong!”. Berhubung kesabarannya sudah habis, orang yang baru pulang kerja tersebut menggulung lengan bajunya dan mendekati tetangga barunya untuk membuat perhitungan. Sesaat sebelum dirinya memukuli orang yang mengatainya itu, Pak RT lewat dan mengatakan bahwa orang tersebut memiliki kelainan jiwa alias gila. Sontak setelah mendengar hal tersebut emosinya hilang entah kemana dan dirinya tidak jadi membuat perhitungan lagi dengan orang gila tersebut.

Sewaktu bapak yang kena PHK tersebut dengan penuh emosi meminta kepada ayah dari kedua anak dalam angkot tersebut diatas untuk mendiamkan kedua anaknya yang ribut diluar batas, ayah dari kedua anak tersebut langsung meminta maaf kepada bapak tersebut. Ia mengatakan: “Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keributan yang ditimbulkan oleh kedua anak saya. Saya tahu mereka bertindak diluar batas, namun saya sengaja membiarkan mereka begitu karena baru sekarang saya melihat mereka dapat bermain seperti ini lagi. Sebenarnya kami baru saja melewati hari yang sangat berat dalam hidup kami karena kami baru saja pulang dari pemakaman ibu mereka”. Mendengar hal ini, bapak yang baru terkena PHK tidak dapat berkata apa-apa dan emosinya langsung reda dan mengatakan: “Tidak apa-apa Pak. Saya yang meminta maaf karena terlalu emosi. Anak-anaknya silakan bermain kembali, saya tidak merasa terganggu lagi”.

Suatu hari tetangga dari ibu paruh baya yang memiliki dua anak yang berjualan payung dan es krim merasa kasihan dengan ibu tersebut karena setiap hari selalu bersedih hati. Ia kemudian mencoba membantu ibu tersebut. Setelah mengetahui duduk persoalannya, ia kemudian meminta ibu tersebut untuk mengubah sudut pandangnya. Pada saat hujan, ia diminta untuk memikirkan anaknya yang berjualan payung. Pasti pada hari itu anaknya yang berjualan payung akan mendapatkan keuntungan yang besar karena payung-payungnya banyak terjual. Dan pada saat hari panas/terik, ibu tersebut diminta untuk memikirkan anaknya yang sedang berjualan es krim. Pasti hari tersebut dagangannya laku keras karena banyak orang yang membeli es krim di hari yang panas. Mulai sejak saat itu ibu tersebut selalu bersuka cita.

Kembali kepada pokok bahasan kita sesuai dengan judul yang tertulis diatas. APA ITU MASALAH? Melihat cerita-cerita yang dirangkai dengan nested loops diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa MASALAH ITU ADALAH BAGAIMANA CARA SESEORANG MEMANDANGNYA. Apabila sesuatu itu dipandang sebagai masalah maka hal tersebut akan menjadi masalah. Namun apabila sesuatu dipandang bukan sebagai masalah maka hal tersebut bukanlah masalah. Selamat mengatasi problem Anda :).

~Live a life you want to live & make sure it is useful.

Benar atau Salah?

Dalam hidup ini orang sering memperdebatkan sesuatu hal dari sudut pandang benar atau salah. Tidak jarang muncul konflik dari perdebatan yang terjadi.

Saya teringat dengan sebuah cerita dari Konfucius. Diceritakan bahwa pada suatu hari terjadi perdebatan antara penjual dan pembeli di sebuah pasar. Penjual mengatakan bahwa 8 x 3 = 24, namun pembeli mengatakan 8 x 3 = 25. Mereka berdua beragumentasi dengan sengit dan masing-masing merasa bahwa merekalah yang benar dan pihak lain yang salah.

Tak jauh dari tempat itu, Yan Hui seorang murid dari Konfucius mendengar pertikaian mereka dan mencoba menengahi. Namun, justru perdebatan menjadi semakin runyam dan beralih menjadi perdebatan antara Yan Hui dengan pembeli. Singkat cerita, si pembeli mengatakan: “Tuan, apabila Anda yang benar maka silahkan ambil kepala saya! Namun apabila saya yang benar maka tuan harus memberikan semua uang yang tuan miliki kepada saya!”. Setelah terjadi kesepakatan, mereka berdua menemui Konfucius untuk dimintai pandangannya mengenai siapa yang benar.

Setelah diceritakan, Konfucius mengatakan bahwa si pembelilah yang benar, 8 x 3 = 25. Kemudian, ia memerintahkan Yan Hui untuk menyerahkan semua uangnya kepada si pembeli tersebut.

Tidak menerima mengenai hal ini dan masih merasa dongkol, Yan Hui mohon pamit kepada gurunya tersebut untuk pulang ke kampungnya dengan alasan ada urusan penting yang harus diselesaikannya. Konfucius pun mengiayakan dan menitip pesan agar selama perjalanan agar Yan Hui jangan berteduh dibawah pohon yang tinggi dan jangan menggunakan pedang di rumah. Setelah menyanggupi kedua hal yang dipesankan oleh gurunya tersebut Yan Hui kemudian melakukan perjalanannya. Tak lama langit mulai mendung dan hujan deras mulai turun. Dia langsung berteduh di bawah pohon yang paling besar dan paling tinggi karena pohon itu dianggapnya paling bagus untuk berteduh. Namun pada saat itu juga dia teringat dengan apa yang dipesan oleh gurunya yaitu jangan berteduh di pohon yang tinggi, maka dia langsung pindah dari pohon tersebut. Tak lama kemudian, petir menyambar pohon tersebut sampai hancur dan terbakar. Menyaksikan hal itu, Yan Hui pun terkesima dan berterima kasih dalam hati atas apa yang dipesankan gurunya tersebut.

Setelah hujan mereda, dia melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di rumahnya, hari sudah larut malam. Takut membangunkan istrinya yang sedang tidur dia menggunakan bantuan pedangnya untuk membuka pintu rumah dan pintu kamar. Pada saat mendekati tempat tidur, alangkah kagetnya dia melihat bahwa istrinya tidur dengan orang lain. Secara refleks dia bersiap  menghunuskan pedangnya kepada orang yang tidur di samping istrinya tersebut. Namun, untungnya dia masih teringat dengan pesan gurunya agar tidak menggunakan pedang di dalam rumah. Ternyata setelah menyalakan pelita dia melihat bahwa orang yang tidur disamping istrinya tersebut adalah adalah adik perempuan istrinya sendiri. Detik itu juga dia langsung bersyukur karena telah diselamatkan dua kali oleh nasehat gurunya.

Singkat cerita, keesokan harinya dia langsung berangkat lagi untuk menemui gurunya. Pada saat bertemu dengan gurunya, dia meminta maaf atas kejadian sehari sebelumnya bahwa sebenarnya dia pulang ke kampung halamannya adalah karena dia kesal dengan jawaban yang diberikan oleh gurunya yang mengatakan bahwa 8 x 3 = 25. Namun sebelum guru menjawab kenapa 8 x 3 = 25, dia meminta gurunya menjelaskan bagaimana beliau tahu bahwa pohon yang dia pakainya  berteduh akan disambar petir dan kenapa juga gurunya tahu bahwa orang yang tidur disamping istri saya itu adalah adik dari istrinya? Gurunya dengan bijaksana mengatakan bahwa karena hari sedang mendung maka secara logika maka pada saat hujan turun orang pasti akan berteduh dibawah pohon yang paling besar dan tinggi yang mana pohon ini sangat berisiko terkena sambaran petir. Dan untuk pertanyaan yang kedua, karena dia pulang dalam keadaan emosi maka dia tidak akan segan-segan menggunakan pedangnya apabila ada hal yang menyulut emosinya.

Setelah mendengar penjelasan gurunya tersebut, Yan Hui kemudian menanyakan kepada gurunya kenapa 8 x 3 = 25? Sekali lagi dengan bijaksana gurunya mengatakan: “Yan Hui, bukan benar atau salah, namun mana yang lebih bermanfaat: uang yang kamu miliki atau kepala orang tersebut?” Mendengar pertanyaan gurunya ini, Yan Hui sontak tercerahkan dan mengatakan bahwa kepala orang tersebut lebih bermanfaat daripada uang yang ada di kantong bajunya.

Inti dari cerita diatas adalah bahwa hendaknya kita menilai sesuatu lebih pada manfaatnya sesuai dengan konteks keadaan, bukan pada dasar benar atau salah semata.

 

Live a life you want to live & make sure it is useful.