Category Archives: Neuro Logical Level

Sukses dengan Neuro-Logical Levels – Bagian 2

CAPABILITY
Apakah menurut Anda capability atau kemampuan yang Anda miliki sekarang sudah mendukung untuk mencapai tujuan Anda? Kapabilitas ini berarti berbicara mengenai knowledge dan juga skill yang kita miliki. Semakin banyak knowledge yang kita miliki maka akan semakin besar juga map atau peta mental kita, yang mana hal ini akan membantu kita dalam mencapai apa yang kita inginkan. Sama halnya juga dengan skill atau keterampilan. Semakin banyak skill yang kita miliki maka akan menambah pilihan yang bersumber daya dalam diri kita.

BEHAVIOUR

Coba amati apa yang sering Anda pikirkan, ucapkan (baik keluar maupun ke dalam: self talk), dan juga apa yang Anda lakukan. Karena segala sesuatu dimulai dari pikiran maka apabila apa yang dipikirkan itu lebih sering yang negatif maka hasilnya akan negatif juga. Itu sebabnya ada istilah yang mengatakan “Garbage in, Garbage out” yang secara literal dapat diartikan sebagai “Sampah (pikiran negatif) masuk maka sampah juga outputnya (ucapan atau perbuatan)”

Selain pikiran yang harus kita awasi, ucapan juga sama pentingnya. Apa yang sering kita ucapkan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pikiran dan perbuatan kita. Ucapan dapat dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu: 1. Ucapan keluar dan 2. Ucapan kedalam (self talk/berbicara dalam hati). Ucapan yang keluar apabila sering bernuansa negatif maka orang yang mendengarkannya pun tidak akan senang. Alih-alih, orang yang mendengarnya kesal dan mungkin saja menyakiti kita secara fisik. Demikian juga halnya dengan ucapan yang kita arahkan bagi diri kita sendiri dalam bentuk internal dialog atau self talk/berbicara dalam hati tersebut. Apabila apa yang sering kita ucapkan itu lebih banyak negatif maka hasilnya akan kurang bermanfaat. Orang-orang yang sukses memiliki self talk yang positif, sedangkan orang-orang yang gagal memiliki self talk yang didominasi oleh kata-kata yang negatif dan tidak bermanfaat.

Output paling jelas dari suatu tindakan adalah dalam bentuk perbuatan. Tanpa adanya suatu action maka tidak akan ada artinya suatu perencanaan yang luar biasa. Selain itu, emotion is created by motion. Artinya, bukan menunggu semangat dulu baru kemudian kita melakukan action. Namun, dari action lah maka kemudian muncul suatu semangat. Oleh karena itu, pastikan setelah Anda memiliki sebuah rencana, jangan tunggu sampai semuanya menjadi perfect atau sempurna. Lakukan saja, just do it, dan lihat umpan balik dari apa yang Anda lakukan dan lakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.

ENVIRONMENT
Environment atau lingkungan merupakan salah satu faktor penentu sukses tidaknya seseorang. Lingkungan dapat berupa orang-orang yang sering kita luangkan waktunya bersama atau benda-benda yang paling menyita waktu kita, misalnya: TV, gadget, dsb. Apa atau dengan siapa kita paling sering meluangkan waktunya bersama akan mempengaruhi diri kita baik secara positif maupun negatif, tergantung apa yang di install. Hal ini dapat terjadi karena interaksi kita dengan orang atau benda-benda seperti tersebut di atas akan menginstall (baca: mempengaruhi) diri kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya: banyak orang mengikuti perilaku tokoh dalam sinetron TV yang ditontonnya walaupun itu cuma sekedar cerita fiksi semata.

Ada ungkapan yang menarik sehubungan dengan orang-orang yang sering kita temui. “Lima orang yang sering kita temui akan membentuk diri kita seperti mereka”. Misalnya: lima orang yang sering kita luangkan waktunya bersama adalah pengusaha maka kemungkinan besar kita mirip-mirip seperti mereka, namun apabila lima orang yang sering kita luangkan waktunya bersama adalah pengangguran, maka kita juga akan mirip-mirip dengan mereka. Oleh karena itu, pastikan Anda berada dalam lingkungan yang tepat dan mendukung perkembangan diri Anda.

Dengan mengetahui dan mengorganisasikan ulang konten dari Neuro-Logical Levels dalam pikiran kita maka hidup kita akan semakin sukses dan bahagia. Selamat mencoba.

~ Live a life you want to life and make sure it is useful!

 

 

Sukses dengan Neuro-Logical Levels – Bagian 1

Neuro-Logical Levels merupakan suatu model yang diadaptasi oleh Robert Dilts (salah seorang developer NLP) dari buah pemikiran Gregory Bateson (anthropologist Inggris) mengenai “Logical Levels” yang intinya menyatakan bahwa dalam pembelajaran, perubahan, dan komunikasi terdapat hirarki atau tingkatan dari klasifikasi. Fungsi dari masing-masing bagian adalah untuk mengorganisasi informasi level di bawahnya dan cara untuk melakukan perubahan pada satu level berbeda dari level yang berada di bawah.

Secara singkat Neuro-Logical Levels, atau sering juga disebut dengan Logical Level, adalah tingkatan-tingkatan logis dari proses pikiran dan tingkatan neurologis yang sangat bermanfaat untuk membantu perubahan dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diinginkan.

Berikut ini adalah tingkatan-tingkatand dari Neuro-Logical Levels, sebagai berikut:

1. Purpose

2. Identity

3. Value & Belief

4. Capability

5. Behaviour

6. Environment

 

 

PURPOSE
Merupakan gambaran besar dari misi hidup seseorang. Misi hidup akan menentukan arah hidup seseorang yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain.

Untuk mengetahui Purpose Anda, tanyakan:

  1. Untuk apa saya hidup di dunia ini?
  2. Kalau meninggal nanti, saya ingin dikenal sebagai apa?
  3. Untuk siapa semua yang saya kerjakan ini?

IDENTITY
Identity menjelaskan tentang siapa diri kira. Coba gambarkan diri Anda dalam sebuah kalimat, siapa diri Anda? Kebanyakan orang akan mengalami kesulitan untuk mendeskripsikan siapa dirinya. Namun, intinya adalah orang yang dapat mendeskripsikan dirinya secara positif akan lebih bermanfaat daripada orang yang tidak dapat mendeskripsikan identitas dirinya apalagi deskripsi identitas yang negatif.

Untuk membantu untuk mencari tahu identity, tanyakan:

  1. Menurut Anda siapa diri Anda?
  2. Bagaimana Anda menjelaskan tentang diri Anda?
  3. Bagaimana orang lain menjelaskan mengena diri Anda?

VALUE / BELIEF
Value adalah apa yang penting dalam diri seseorang. Apa yang penting bagi seseorang belum tentu memiliki arti penting yang sama bagi orang lain. Contoh value dalam diri seseorang: agama, keluarga, finansial, persahabatan, dsb. Apa urutan pertama dalam diri seseorang akan menentukan fokus terbesar dalam dirinya. Selain itu value juga merupakan motivator terutama dalam hidup seseorang. Sebagai contoh, apabila value yang pertama dalam hidup seseorang adalah keluarga, maka keluarga merupakan motivator terutama dalam hidupnya. Apapun akan dilakukannya pasti ditujukan untuk kebahagiaan dan kebaikan keluarganya karena keluarga merupakan sumber motivasinya yang terutama, yang juga adalah value utama dalam hidupnya.

Sedangkan belief adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Yang terpenting dari belief bukan mengenai benar atau salah, namun empowering atau disempowering. Belief yang empowering adalah keyakinan yang menambah sumber daya dalam diri seseorang sedangkan disempowering adalah belief yang tidak menambah sumber daya dalam diri seseorang.

Berikut ini adalah beberapa contoh empowering beliefs:

  1. Ala bisa karena biasa.
  2. Ada banyak jalan menuju Roma.
  3. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit
  4. Sesulit apapun pasti ada jalan keluarnya.
  5. Tidak ada yang namanya gagal. Yang ada hanyalah umpan balik.
  6. Dst.

Sedangkan contoh dari disempowering beliefs adalah:

  1. Tidak mungkin bisa. Terlalu sulit.
  2. Itu sudah takdir. Tidak bisa diubah lagi.
  3. Latar belakang saya sudah seperti ini, tidak mungkin bisa bisa berubah.
  4. Santai saja. Nanti juga beres sendiri.
  5. Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah.
  6. Dst.

Bersambung …….. (Sukses dengan Neuro-Logical Levels – Bagian 2)

~ Live a life you want to life and make sure it is useful!