Category Archives: Phobia Cure

Thank You 2012 & Welcome 2013

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2012. Banyak hal yang sudah dilewati selama tahun ini. Baik hal-hal yang menyenangkan maupun hal-hal yang tidak menyenangkan. Inilah dua hal yang paling diingat oleh manusia, yaitu hal yang paling membahagiakan dan hal yang paling tidak membahagiakan. Sisanya, pengalaman yang biasa-biasa saja, cenderung terlupakan atau tidak terlalu berbekas dalam ingatan. Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena pengalaman “biasa-biasa” yang tidak didasari oleh suatu emosi tertentu, terlepas dari apakah itu emosi positif atau emosi negatif cenderung untuk dilupakan. Contohnya adalah seperti ini, kalau saya tanya “apakah Anda masih ingat kaki mana yang pertama kali melangkah keluar dari pintu rumah pagi ini?” Apakah Anda dapat menjawabnya dengan 100% tingkat keyakinanan? Hmmm…. kelihatannya tidak mudah bukan? Memang benar, tidak segampang yang dipikirkan. Walaupun pilihan jawabannya cuma ada dua, yaitu kaki kanan dan kaki kiri, namun biasanya orang tidak yakin sepenuhnya dengan jawabannya tersebut.

Belum mau menyerah? Mau coba sekali lagi? :). Silahkan. Please take your time. Bagaimana? Tetap tidak 100% yakin bukan ….?

Ceritanya akan menjadi berbeda apabila pada saat melangkah melewati pintu tersebut, kaki kanan Anda menginjak sesuatu, misalnya seekor kecoa, dan Anda kaget karena tidak mengantisipasi hal itu. Dengan adanya kejadian ini, Anda pasti yakin 100% kaki mana yang melewati pintu rumah di pagi hari untuk yang pertama kalinya. Kenapa demikian? Tidak lain tidak bukan adalah karena ada emosi yang melandasinya, yaitu emosi kaget pada saat tidak sengaja menginjak kecoa.

Leave all the ngative emotions and preserve all the learnings. Jangan terjebak dalam keadaan emosi negatif yang tidak membuat diri kita lebih baik. Kuncinya adalah tinggalkan semua yang jelek (emosi-emosi negatif) dan simpan semua yang bagus (makna pembelajaran). Dalam setiap kejadian, dua hal ini; emosi dan makna pembelajaran selalu mengikuti setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Banyak orang yang salah dalam mengambil makna dari setiap kejadian, dimana mereka lebih sering menggenggam emosi negatif daripada mengambil makna pelajaran yang terkandung di balik kejadian tersebut. Misalnya, di tahun 2012 pernah gagal dalam berbisnis. Dari kejadian ini, orang cenderung untuk menggenggam emosi negatif (misalnya: takut, malu, minder, dsb.) dan tidak mengambil makna pembelajaran positif dari kejadian ini.

Daripada menggenggam emosi negatif, lebih baik lepaskan emosi negatif atas perasaan takut ini, dan ambil makna pembelajaran dari kejadian ini sehingga dikemudian hari apabila ketemu dengan kejadian yang serupa kita tidak perlu menghadapinya dari nol lagi karena sudah ada pembelajaran yang kita miliki.

Saya akan mengambil contoh lain yang agak ekstrim, misalnya pada suatu waktu di masa lampau pernah digigit oleh seekor ular. Akibatnya, terjadi emosi negatif berupa phobia atas ular. Daripada menggenggam emosi negatif, lebih baik tinggalkan emosi negatif tersebut dengan mencari cara untuk menghilangkan phobia tersebut (untuk cara menghilangkan phobia dengan teknik NLP, silakan baca teknik Fast Phobia Cure di sini). Dan, yang lebih penting lagi adalah mengambil makna pembelajaran dari kejadian digigit ular tersebut sehingga kapanpun di kemudian hari kita bertemu dengan ular maka kita sudah tahu (hasil dari pembelajaran  kejadian sebelumnya) bahwa ular adalah binatang yang dapat menggigit dan hasilnya bisa fatal. Dengan demikian maka kita tidak perlu takut lagi pada saat ketemu ular, alih-alih kita dapat menghadapi kejadian ini dengan baik berbekal pembelajaran yang kita miliki sebelumnya, misalnya jangan berdiri dekat-dekat dengan binatang berbisa ini.

Lebih lanjut lagi, kalau saya tanya “Dari skala 0 sampai 10, berapa nilai yang akan Anda berikan terhadap diri Anda untuk tahun 2012?” Kira-kira, berapa nilai yang Anda berikan? Coba ambil waktu sejenak untuk menjawabnya.

Excellent!, berapapun jawaban Anda, itu adalah hasil yang Anda lakukan selama tahun 2012. Ucapkan terima kasih atas apa yang telah Anda lalui di tahun 2012 karena banyak pengalaman dan pembelajaran yang dapat diambil dari sini. Untuk yang belum merasa puas dengan nilainya, jangan merasa sedih dan berputus asa karena kesempatan masih terbuka lebar di tahun 2013. Untuk yang nilainya sudah bagus, saya ucapkan “Selamat!” Silahkan dipertahankan dan apabila masih ada room for improvement, silahkan ditingkatkan lagi.

Akhir kata, inti dari semuanya ini adalah mari ambil makna pembelajaran dari setiap kejadian yang ada dan tinggalkan emosi negatifnya. Dan yang tidak kalah penting lagi adalah jangan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat (perbuatan-perbuatan tidak bermanfaat yang dilakukan melalui pikiran, ucapan, dan badan jasmani). Sebaliknya perbanyak perbuatan yang bermanfaat; baik melalui pikiran, ucapan, maupun badan jasmani, yang dapat membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun 2013. Thank you 2012 & welcome 2013; the year of opportunities!

~ Live the life you want to life & make sure it is useful.

Terbentuknya Fobia dan Cara Mengatasinya

Tahukah Anda bahwa pada saat lahir di dunia, bayi hanya takut pada dua hal, yaitu: 1. Suara keras dan 2. Ketinggian. Namun kenapa banyak sekali ketakutan-ketakutan lainnya yang ada dalam diri seorang manusia? Bahkan tidak jarang berujung pada terciptanya fobia dari hal yang remeh temeh, misalnya: takut dengan cicak, bulu ayam, kancing baju, dan masih banyak lagi lainnya. Hal ini bisa dianggap aneh atau lucu bagi orang lain karena secara logika tidak mungkin selembar bulu ayam dapat mencelakai seseorang. Namun tidak demikian bagi orang yang mengalami fobia, bagi mereka hal itu sangat serius dan dapat menyebabkan ketakutan yang luar biasa. Temukan jawabannya dalam artikel ini beserta cara penanggulangannya.

TERBENTUKNYA FOBIA
Fobia merupakan suatu jangkar negatif (negative anchor) yang terbentuk bersamaan dengan munculnya suatu emosi intens negatif atas suatu hal. Dalam sebuah film dokumenter BBC diperlihatkan bagaimana terciptanya sebuah fobia dalam diri seorang anak kecil. Dalam film ini diperlihatkan anak tersebut diberikan sebuah boneka yang lucu. Pada saat ini si anak terlihat senang dan gembira atas pemberian ini. Namun kemudian boneka tersebut diambil dan diberikan kembali bersamaan dengan munculnya seorang badut dengan teriakan yang kencang dekat muka anak tersebut. Kaget atas kejadian ini si anak langsung menangis sambil memegang boneka tersebut. Setelah beberapa saat badut tersebut dikeluarkan beserta bonekanya. Setelah tangisnya reda, ia diberikan lagi boneka tersebut dan yang terjadi adalah ia kembali menangis seperti pada saat badut tersebut berteriak di dekatnya. Sejak saat itu, setiap kali dia melihat boneka tersebut, dia kembali menangis.

Dalam kasus yang lain, ada seorang wanita yang sangat fobia apabila melihat bulu unggas (bulu ayam, burung, dsb.). Dia bahkan dapat langsung lari meninggalkan anaknya yang sedang bermain di tepi pantai seorang diri apabila pada saat itu dia melihat selembar bulu ayam atau burung. Ternyata apa yang menyebabkan dirinya sangat fobia dengan bulu ayam adalah karena pada saat dia kecil sewaktu sedang sarapan di dapur, ada seekor burung Gagak yang nyasar masuk ke ruangan itu dan terbang menyambar-nyambar di atas kepalanya dengan suara melengking yang keras. Dikarenakan ruangan tersebut tidak terlalu besar maka banyak bulu-bulu burung Gagak yang rontok dan bulu Gagak ini diasosiasikan oleh dirinya sebagai pemicu bahwa dirinya berada dalam keadaan bahaya yang dapat mengancam dirinya. Sejak saat itu sampai dia dewasa dan memiliki anak, fobia atas bulu ini selalu berada dalam pikiran bawah sadarnya.

Secara singkat, terbentuknya fobia tidak berbeda dengan cara meng-install sebuah anchor atau “jangkar emosi” dalam diri kita. Namun perbedaannya adalah kalau anchor yang biasanya kita pasang adalah anchor positif, misalnya: percaya diri, sedangkan fobia adalah anchor negatif yang terbentuk dengan sendirinya. Kedua anchor ini memiliki suatu kesamaan syarat terbentuk, yaitu: kondisi emosi puncak dan kemudian tercipta atas suatu trigger atau pemicu yang dijangkarkan, misalnya melalui visual (melihat bulu Gagak).

V/K ASSOCIATION
Apabila dirinci apa yang dialami oleh orang yang mengalami fobia maka apa yang mereka alami itu dapat dirangkum dalam suatu pola yang disebut sebagai V/K Association (Asosiasi Visual/Kinestetik). Artinya, pada saat kapanpun orang yang fobia tersebut melihat (Visual) suatu trigger, misalnya boneka atau bulu pada kasus diatas, maka ia akan langsung berasosiasi atau menyatu kembali dengan kejadian yang menyebabkan dirinya fobia dan juga sekaligus merasakan (Kinestetik) sepenuhnya atas kejadian yang menyebabkan dirinya fobia. Dengan mengetahui pola terbentuknya fobia, yaitu: V/K Association ini maka dapat dibuatkan suatu cara untuk mengatasinya, yaitu kebalikan dari V/K Association atau lebih sering disebut sebagai V/K Dissociation.

CARA MENGATASI
Dalam NLP, teknik Fast Phobia Cure dikenal sangat ampuh untuk mengatasi masalah fobia. Biasanya cuma diperlukan waktu beberapa menit. Selain dikenal sebagai Fast Phobia Cure, teknik ini juga dikenal sebagai teknik V/K Dissociation. 

Secara ringkas, cara bekerja teknik ini adalah melakukan triple dissociation dengan tujuan untuk mengurangi intensitas ketakutan pada diri seorang fobia yang sedang diterapi. Hal ini penting dilakukan karena pada saat dilakukan terapi, orang tersebut akan mengunjungi kembali fobianya. Teknik ini sering menggunakan ruang bioskop sebagai tempat favorit karena triple dissociation dapat dilakukan dengan sempurna disini, dimana orang yang diterapi tersebut diminta untuk duduk diantara kursi bioskop barisan depan, kemudian dia diminta untuk floating duduk di barisan atas sehingga dapat melihat dirinya duduk di barisan depan (second dissociation) dan floating kembali ke atas ruangan proyektor (triple dissociation) sehingga dari ruangan proyektor ini dia dapat melihat dirinya yang duduk dibarisan atas dan juga dirinya yang sedang duduk di barisan depan.

Langkah berikutnya adalah detaching the emotion (menanggalkan emosi yang menyebabkan fobia), yaitu dengan cara memutar kembali film mengenai dirinya yang mengalami fobia mundur dengan cepat dari moment sesaat setelah dia mengalami fobia sampai sebelum kejadian fobia itu terjadi. Hal ini dilakukan beberapa kali sampai emosi yang menyebabkan fobia ini hilang.

STEP BY STEP

  1. Minta subyek membayangkan duduk dalam sebuah teater dan minta dia untuk melihat layar putih kecil yang ada di depannya seperti layaknya menonton sebuah film. Katakan kepadanya bahwa sesaat lagi dia akan menonton film mengenai dirinya beserta dengan pengalaman traumatisnya secara aman dan nyaman, dimulai dari saat sebelum kejadian itu terjadi (Tempat Aman 1) dan berakhir pada saat dia selamat dan baik-baik saja setelah kejadian tersebut dan kemudian layarnya berubah menjadi putih (Tempat Aman 2).
  2. Yakinkan subyek bahwa dia dapat kembali ke keadaan normal, bebas dari kecemasan, kapanpun diinginkan.
  3. Buat subyek rileks dan anchor state rileks ini, kemudian minta dirinya untuk disosiasi dengan cara membayangkan dirinya keluar dari badannya dan melayang masuk ke dalam ruang proyektor, yang mana dia dapat mengendalikan jalannya film dan melihat dirinya yang sedang duduk dibawah menonton dirinya di layar. Apabila subyek masih juga cemas, disosiasikan lagi (minta dia untuk melihat dirinya yang sedang menonton film). Hal ini akan memberikan dirinya berada pada keadaan emosi yang dapat dihilangkan sehingga exercise ini dapat dilakukan dengan baik.
  4. Pegang anchor yang dibuat diawal, dan minta subyek untuk memutar film tentang pengalaman traumatiknya dari Tempat Aman 1 ke Tempat Aman 2, dengan sangat cepat, hitam putih, dan pastikan bahwa dia tetap terdisosiasi dari pengalaman traumanya tersebut.
  5. Ketika subyek selesai melakukan #4 diatas, minta dia melayang masuk ke dalam tubuhnya yang sedang duduk dikursi teater dan kemudian minta dia melayang masuk ke dalam akhir dari film yang ditontonnya (layar putih), asosiasikan dengan dirinya dan pengalamannya, kembalikan warna seperti apa adanya dan minta dia untuk memutar kembali seluruh kejadian tersebut secara terbalik, dari tempat aman 2 ke tempat aman 1. Tambahkan musik sirkus yang lucu dan menarik sebagai sound track-nya.
  6. Di tempat aman 1, minta subyek untuk kembali ke tempat duduknya dan melihat layarnya kembali dimana gambar hitam putih kecil tentang tempat aman tersebut dikembalikan seperti semula.
  7. Minta ia untuk melayang kembali masuk ke ruang proyektor dan ulangi proses dari langkah 3 sampai langkah 6.
  8. Ulangi Visual-Kinesthetic Dissociation Pattern ini tiga sampai lima kali, dan kemudian tes subyek tersebut dengan cara memintanya untuk memikirkan pemicu dari fobianya dan perhatikan responnya.
  9. Langkah terakhir adalah melakukan Future Pacing, untuk mengecek dan memastikan bahwa fobianya telah hilang.

Mengutip apa yang dikatakan Richard Bandler, “Apabila otak dapat merekam fobia dengan cepat, maka otak juga harusnya dapat meng-uninstall fobia dengan cepat juga”. Dan Fast Phobia Cure adalah caranya.  Semoga bermanfaat.

~ Live the life you want to live & make sure it is useful!