Category Archives: Presupposition

Rahasia Sukses & Bahagia dengan Teknik REFRAMING

Setiap event atau peristiwa yang terjadi dalam hidup kita adalah bernilai netral. Namun, pada saat pikiran kita memberikan makna atau penilaian terhadap suatu peristiwa maka pada detik itu juga peristiwa tersebut memiliki nilai dan muatan emosi. Apabila makna positif yang dilekatkan, maka peristiwa tersebut akan memiliki muatan positif. Sebaliknya, apabila makna negatif yang diberikan maka peristiwa tersebut akan memiliki muatan negatif. Sebagai contoh, coba jawab pertanyaan ini sebelum Anda membaca lebih lanjut. “Apa makna yang akan Anda berikan pada saat Anda mengetahui bahwa gaji Anda tidak naik tahun ini?”

Makna Negatif:

  1. Bosnya pelit!
  2. Perusahaan payah!
  3. Tidak berperikemanusiaan!
  4. Dsb.

Makna Positif:

  1. Mungkin kinerja saya kurang baik di tahun lalu. Kini saatnya meningkatkan kompetensi saya lagi.
  2. Perusahaan mungkin sedang mengalami masa sulit ditengah bayang-bayang resesi global. Saya harus dapat membantu perusahaan keluar dari masa sulit ini dengan bekerja lebih baik lagi.
  3. Atau, kini saatnya berusaha sendiri sebagai seorang entrepreneur.
  4. Dsb.

Berbagai makna dapat Anda berikan dalam kejadian diatas, baik yang positif maupun yang negatif. Makna yang negatif akan membawa orang pada keadaan yang tidak bersumber daya dan cenderung menghabiskan banyak energi. Sedangkan makna yang positif akan membawa orang pada keadaan yang lebih bersumber daya dan menciptakan peluang-peluang baru untuk lebih sukses dan juga lebih bahagia.

Kabar buruknya adalah makna yang kita berikan terhadap suatu peristiwa cenderung muncul secara otomatis tanpa kita sadari, sehingga apabila makna yang diberikan lebih banyak yang negatif dan tidak bermanfaat maka hidup kitapun menjauh dari sukses dan bahagia.

Kabar baiknya adalah setelah Anda selesai membaca tulisan ini, Anda akan memiliki pengetahuan dan pilihan yang lebih baik dalam memberikan makna yang lebih positif dan bermanfaat dalam berbagai peristiwa yang Anda lalui dalam hidup Anda. Dalam NLP, kemampuan untuk memberikan makna positif dan bermanfaat dari suatu event atau peristiwa disebut dengan REFRAMING atau membingkai ulang makna dari suatu kejadian dengan bingkai yang lebih baik (baca: positif dan bermanfaat). Kabar baik berikutnya lagi adalah bahwa keterampilan ini dapat dilatih dan di-install menjadi kebiasaan yang positif dalam hidup Anda.

Dalam tulisan ini kita akan mempelajari dua jenis reframing. Yang pertama adalah MEANING REFRAMING dan yang kedua adalah CONTEXT REFRAMING.

MEANING REFRAMING
MEANING REFRAMING atau sering juga disebut sebagai CONTENT REFRAMING adalah membingkai ulang makna dari suatu peristiwa dengan memberikan arti baru yang lebih positif dan bermanfaat atas sebuah peristiwa. Misalnya: jalanan macet. Setiap orang bisa memberikan makna yang berbeda-beda dan reaksi yang berbeda-beda atas peristiwa ini, seperti: marah, kesal, benci, dongkol, dan lain sebagainya. Namun, sahabat saya Juliyanto memiliki meaning reframing yang luar biasa atas kejadian macet ini, yaitu dengan BERSYUKUR. Ia memberi makna kemacetan yang sedang dihadapi dengan bersyukur karena dia berada di dalam kemacetan berarti ia masih memiliki mobil untuk dikendarai. Luar biasa bukan?

CONTEXT REFRAMING
CONTEXT REFRAMING adalah membingkai ulang suatu keadaan dengan memindahkan atau mencari  konteks baru yang lebih sesuai. Hal ini didasari oleh presuposisi NLP yang mengatakan bahwa “ADA SATU KONTEKS YANG TEPAT UNTUK SETIAP PERILAKU”. Ini adalah contoh dari context reframing: Daripada merasa minder karena badannya terlalu tinggi, seorang remaja putri (tinggi badan 175 Cm) dapat melakukan reframing dengan memindahkan konteksnya ke dalam konteks lain. Misalnya, tinggi badan diatas rata-rata adalah modal yang bagus untuk menjadi model, artis, pramugari, dan atau konteks-konteks lainnya yang membutuhkan syarat tinggi badan tertentu dalam profesi tersebut.

Orang-orang yang sukses dan bahagia adalah orang-orang  yang piawai dalam membingkai ulang apapun peristiwa yang terjadi dalam hidupnya dengan makna yang lebih positif dan bermanfaat. Ini adalah rahasianya. Sekarang Anda sudah mengetahui rahasia tersebut. Pertanyaannya adalah apakah Anda mau menerapkannya setelah selesai membaca artikel ini?

Semoga bermanfaat.

~ LIVE THE LIFE YOU WANT TO LIFE & MAKE SURE IT IS USEFUL.

Apa itu Future Pacing?

Dalam NLP, merasakan pengalaman di masa depan disebut sebagai future pacing. Future pacing merupakan langkah terakhir dari semua teknik dalam NLP dan merupakan hal yang wajib dilakukan untuk menguji sebuah change atau intervensi yang dilakukan berhasil atau tidak.

Penasaran dengan apa itu future pacing dan ingin tahu bagaimana proses dari future pacing bekerja? Berikut ini adalah apa yang dilakukan dalam teknik future pacing, yaitu masuk dalam sebuah situasi masa depan dengan membawa semua sumber daya baru yang ada dan rasakan kembali dalam situasi dimana Anda memiliki masalah sebelumnya. Sebagai contoh, future pacing dalam akhir teknik Change Personal History adalah meminta orang tersebut membayangkan situasi yang sama di masa depan dengan membawa semua sumber daya baru yang dimilikinya. Tugas seorang NLP practitioner adalah memperhatikan dan mengkalibrasi apakah orang tersebut sudah berada dalam keadaan state yang diinginkan atau masih berada dalam keadaan state yang tidak diinginkan (tidak ada perubahan). Apabila masih berada dalam state yang tidak diinginkan, maka itu artinya kita harus menambah sumber daya-sumber daya baru lagi dalam diri orang tersebut. Sebaliknya apabila dalam melakukan future pacing orang tersebut tidak mengalami lagi state yang tidak diinginkan maka itu artinya apa yang kita lakukan terhadap orang tersebut sudah ok atau works (berhasil).

Secara singkat, future pacing adalah test atau pengujian untuk melihat apakah intervensi atau change yang kita lakukan terhadap seseorang tersebut sudah berhasil atau belum. Namun harus diingat, test yang sebenarnya tetap terletak pada kejadian riil (sebenarnya) yang dialami oleh orang tersebut dalam dunia nyata.

Future pacing is a form of mental rehearsal. Ya, future pacing adalah sebuah bentuk latihan pikiran. Mental rehearsal adalah sebuah pola yang konsisten dilakukan oleh top performers, seperti: pembicara, trainer, atlit, musisi, salesman, dsb. Mental rehearsal adalah sebuah latihan dalam bentuk imajinasi yang sangat efektif sebelum sebuah action dilakukan. Hal ini sesuai dengan presuposisi NLP yang mengatakan bahwa “mind and body is part of the same system”. Dengan melakukan mental rehearsal maka akan mempersiapkan dan mengarahkan seseorang  mencapai apa yang diinginkan. Teknik ini sering saya pakai sebelum melakukan training atau memberikan public speaking. Hasilnya luar biasa maknyus!

Memberikan pikiran gambaran-gambaran positif yang kuat maka akan memprogram pikiran untuk bekerja dalam kerangka tersebut. Sukses akan lebih terarah dan lebih mungkin untuk dicapai. Future pacing dan mental rehearsal dapat digunakan setiap hari dalam menghasilkan sebuah perilaku baru. Sangat disarankan untuk melakukan future pacing dan mental rehearsal setiap hari sebelum menjelang tidur.

Repetition is the mother of skills demikian kata Tony Robbins. Berikut ini ada latihan sederhana dari future pacing dan mental rehearsal yang sangat bermanfaat. Sebelum tidur, coba evaluasi lagi hari yang baru saja Anda jalani. Pilih sebuah kejadian Anda melakukannya dengan sangat baik. Masuk kembali dalam kejadian tersebut secara asosiasi, lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasakan. Setelah selesai, keluar dari keadaan tersebut dan tanyakan pada diri Anda: “Apa yang dapat saya lakukan secara berbeda”, “Apa pilihan-pilihan yang lebih baik untuk kejadian ini?”, “Bagaimana kejadian yang sudah baik ini menjadi lebih baik lagi?” Jawab dalam diri Anda sendiri dan kemudian, masuk kembali ke dalam kejadian tersebut dengan membawa sumber daya baru yang lebih bersumber daya yang baru saja Anda lakukan. Bagaimana kelihatannya sekarang? Apakah lebih baik?

Pilih sebuah kejadian yang lain, namun kali ini adalah kejadian dari pengalaman yang tidak terlalu baik yang Anda alami hari itu. Masuk kembali dalam kejadian tersebut secara asosiasi, lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasakan. Setelah selesai, keluar dari keadaan tersebut dan tanyakan pada diri Anda: “Apa yang dapat saya lakukan secara berbeda”, “Apa pilihan-pilihan yang lebih baik untuk kejadian ini?”, “Bagaimana kejadian ini dapat menjadi lebih baik lagi?” Jawab dalam diri Anda sendiri dan kemudian, masuk kembali ke dalam kejadian tersebut dengan membawa sumber daya baru yang lebih bersumber daya yang baru saja Anda lakukan. Bagaimana kelihatannya sekarang? Lebih baik bukan?

Apa yang Anda lakukan diatas akan membentuk pilihan-pilihan baru yang lebih bersumber daya dalam diri Anda. Pikiran Anda akan terlatih untuk mengindentifikasi perilaku-perilaku yang kurang baik dan secara otomatis akan menggantikannya dengan pilihan-pilihan perilaku baru yang lebih bersumber daya yang telah Anda latih dalam future pacing dan mental rehearsal sebelumnya. Anda dapat menggunakan teknik ini untuk menghasilkan perilaku baru atau merubah sesuatu untuk mencapai apa yang Anda inginkan. Selamat mencoba.

~ Live a life you want to live & make sure it is useful.

NLP Presupposition – Prinsip Berpikir dan Berperilaku Orang NLP

Neuro-Linguistic Programming adalah sebuah study mengenai excellence. Untuk mencapai excellence ini maka sejumlah asumsi mengenai realitas dibuat dimana asumsi-asumsi ini di presuppose atau dianggap benar. Asumsi-asumsi yang dianggap benar ini kemudian disebut dengan presupposition yang menjadi dasar pijakan dalam Neuro-Linguistic Programming. Presuposisi ini apabila diintegrasikan dalam pola berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari maka akan membantu seseorang dalam melakukan transformasi dalam hidupnya menuju kehidupan yang lebih sukses dan lebih bahagia.

Berikut ini disajikan beberapa presuposisi yang diambil dari rujukan The Society of NLP, USA, sebagai berikut:

The ability to change the process by which we experience reality is more often valuable than changing the content or experience of reality.

  • Kemampuan untuk merubah proses dimana kita mengalami realita lebih sering bernilai dibanding dengan merubah isi atau pengalaman dari realita tersebut.

Kemampuan seseorang dalam merubah proses tentang bagaimana pikiran bekerja dalam menghadapi stimuli eksternal atau stimuli internal dan memberikan respon yang tepat adalah lebih bernilai dibandingkan dengan hanya merubah isi pengalaman dalam memori pikiran orang tersebut. Singkatnya, presuposisi ini menekankan pada perubahan inti (core) dari suatu permasalahan, bukan menitikberatkan pada perubahan gejalanya (symptom).

The meaning of the communication is the response you get.

  • Makna dari komunikasi adalah respon yang Anda peroleh.

Makna utama dari sebuah komunikasi adalah respon yang ingin kita dapatkan. Apabila respon yang diberikan oleh partner bicara kita bertolak belakang dengan respon yang ingin kita dapatkan maka hal itu berarti bahwa cara berkomunikasi kita tidak tepat untuk mendapatkan respon yang diinginkan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu kepekaan indrawi untuk mengetahui apakah komunikasi yang kita lakukan tersebut sudah sesuai atau belum. Apabila belum, maka diperlukan adanya suatu fleksibilitas sampai memperoleh respon yang diinginkan dengan cara merubah cara komunikasi kita.

All distinction human beings are able to make concerning our environment and our behaviour can usefully represented through the visual, auditory, kinesthetic, olfactory, and gustatory senses.

  • Semua pembedaan yang dapat dilakukan manusia sehubungan dengan lingkungan eksternal dan perilakunya dapat diwakilkan secara bermanfaat melalui indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan pengecapan.

Pikiran merepresentasikan informasi yang diperoleh melalui input internal dan input eksternal dalam bentuk gambar (visual), suara (auditory), perasaan (kinesthetic), bau/wangi (olfactory), dan rasa (gustatory). Kemampuan untuk merepresentasikan dan mengorganisir informasi ini secara bermanfaat dan bersumber daya akan membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain.

The resources an individual needs to effect a change are already within them.

  • Sumber daya yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk menghasilkan perubahan sudah ada dalam diri mereka.

Dalam diri setiap individu telah memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan. Banyak orang tidak mengetahui hal ini sehingga tidak dapat menggunakan sumber daya ini untuk melakukan suatu perubahan yang diinginkan. Body and mind (badan dan pikiran) adalah contoh konkrit dari sumber daya yang ada dalam diri setiap orang. Kemampuan untuk menggunakan kedua sumber daya ini dengan baik dan benar akan sangat membantu dalam menghasilkan perubahan yang diinginkan.

The map is not the territory.

  • Peta bukanlah wilayah yang sebenarnya.

Neuro-Linguistic Programming mengasumsikan bahwa orang berperilaku berdasarkan apa yang dipersepsikannya mengenai dunia luar, bukan berdasarkan pada realitas yang sebenarnya. Persepsi yang dibuat merupakan representasi atau perwakilan dari dunia luar yang ada di dalam otaknya. Persepsi inilah yang kemudian disebut dengan peta. Menurut Alfred Korzibski, orang yang mempopulerkan istilah “the map is not the territory”, sebuah peta bukanlah wilayah yang sebenarnya dari wilayah yang diwakilkannya, namun, apabila peta tersebut memiliki struktur yang sama dengan wilayah yang diwakilinya, maka peta ini akan sangat bermanfaat.

The positive worth of the individual is held constant, while the value and appropriateness of internal and/or external behaviour is questioned.

  • Nilai positif dari seseorang dipertahankan secara konstan, sementara nilai dan kesesuaian dari perilaku internal dan/atau eksternal yang dipertanyakan.

Setiap orang memiliki nilai positif dari perilaku yang dilakukannya. Dalam Neuro-Linguistic Programming, nilai positif ini dipertahankan secara konstan karena dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat. Namun, perilaku yang dilakukan harus dipertanyakan apakah sudah sesuai dengan konteksnya atau belum, ekologis atau tidak, membawa dari present state menuju desired state atau tidak, dan lain sebagainya.

There is a positive intention motivating every behavior; and a context in which every behaviour has value.

  • Ada sebuah niat positif yang mendasari setiap perilaku; dan ada sebuah konteks yang sesuai untuk sebuah perilaku dimana perilaku tersebut bernilai/bermanfaat.

Apapun perilaku yang dilakukan seseorang, selalu ada niat positif dibalik perilaku tersebut. Suatu perilaku dikatakan tidak congruent atau tidak selaras apabila digunakan di dalam konteks yang salah. Hal ini dapat terjadi karena tidak ada satu perilaku yang cocok untuk seluruh konteks. Namun, selalu ada sebuah konteks yang sesuai dengan suatu perilaku tertentu yang mana kesesuaian ini akan menghasilkan nilai atau manfaat bagi orang tersebut. Contoh sederhana untuk presuposisi ini adalah perilaku “lupa”. Dalam konteks ujian, lupa adalah suatu perilaku yang sangat tidak bermanfaat. Namun, dalam konteks trauma, kemampuan untuk melupakan kejadian traumatis adalah suatu hal yang sangat bermanfaat.

Feedback vs. Failure – All results and behaviour are achievements, whether they are desired outcomes for a given task/context or not.

  • Umpan balik vs. Kegagalan – Semua hasil dan perilaku adalah pencapaian, terlepas apakah hasil atau perilaku tersebut adalah outcome yang diinginkan atau tidak dalam suatu lingkup pekerjaan/konteks.

Presuposisi ini menekankan bahwa apabila suatu perilaku tidak menghasilkan outcome yang diinginkan maka hal itu bukanlah kegagalan namun merupakan suatu feedback atau umpan balik yang menjelaskan bahwa apa yang dilakukan tidak membawa pada pencapaian outcome yang diinginkan. Selain itu, setiap output yang dihasilkan dari sebuah perilaku adalah suatu pencapaian juga. Namun, pertanyaannya adalah apakah pencapaian itu diinginkan atau tidak diinginkan. Dengan mengetahui bahwa umpan balik yang dihasilkan tidak mengarah pada hasil yang diinginkan maka dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan sampai outcome yang diinginkan tercapai.

~Live a life you want to live & make sure it is useful.