Category Archives: Well-formed Outcome

SUCCESS with WELL-FORMED OUTCOME

Outcome adalah sebuah goal yang dibuat dengan jelas dan disempurnakan dengan kondisi-kondisi yang membuatnya well-formed. Hal inilah yang membuatnya berbeda dari Goal. Goal dapat dianalogikan sebagai sebatang pensil yang belum diserut, sedangkan well-formed outcome adalah sebuah pensil yang sudah diserut dan siap untuk digunakan. Dengan membuat suatu outcome menjadi well-formed maka outcome ini memiliki serangkaian kondisi yang apabila semua kondisinya terpenuhi maka akan membuat hasilnya menjadi efektif dan ekologis.

Untuk mempermudah menjelaskan proses pembuatan well-formed outcome, dalam artikel ini akan digunakan akronim atau singkatan dari kata “SUCCESS”:

tate in positive.
Outcome harus dinyatakan dalam kalimat positif. Adapun tujuannya adalah untuk tidak berbeli-belit dan langsung kepada outcome yang diinginkan. Selain itu juga, pikiran tidak langsung memproses kata-kata negatif yang dapat mengarah pada self fulfilling prophecy (apa yang diucapkan terjadi pada diri sendiri). Misalnya: “Saya tidak ingin gagal”.  Setelah mengatakan hal ini, yang langsung terbetik dipikiran adalah “gagal”. Hal ini sama dengan “Jangan membayangkan pohon warnanya merah”, maka yang muncul adalah pohon warna merah dan baru kemudian pikiran memproses kata “jangan”. Oleh karena itu maka, daripada mengatakan “Saya tidak ingin gagal”, lebih baik katakan secara positif, yaitu: “Saya ingin berhasil”.

ndeniable reality.
Undeniable reality adalah bukti yang tidak terbantahkan pada saat outcome tersebut tercapai. Bentuk mental rehearsal untuk menciptakan bukti yang tidak terbantahkan apabila outcome tersebut tercapai. Apabila outcome-nya adalah mobil, maka bukti yang tidak terbantahkan adalah melihat STNK mobil tersebut tertulis dengan nama sendiri, atau secara auditory mendengarkan orang memuji nama kita apabila kita berhasil mendapatkan outcome tersebut, dan secara kinesthetic merasakan sendiri outcome yang sudah direalisasikan tersebut, misalnya merasakan “seolah-olah” duduk di dalam mobil tersebut.

ontextualised.
Bentuk sejelas mungkin dalam konteks apa outcome tersebut diinginkan. Untuk mempermudah melakukan contextualised, tanyakan:

  1. Apa outcome yang saya inginkan?
  2. Kapan outcome ini ingin saya realisasikan?
  3. Bagaimana cara untuk mencapai outcome tersebut?
  4. Berapa banyak (jumlah), besar (intensitas) outcome tersebut ingin saya capai?
  5. Dimana saya menginginkan outcome ini?
  6. Dengan siapa saya menginginkan outcome ini ?

ongruent with Meta outcome.
Outcome yang dibuat harus sejalan dengan outcome atau tujuan yang lebih tinggi. Dengan kata lain outcome yang diciptakan tidak boleh bertentangan dengan outcome lain yang lebih tinggi. Misalnya meta outcome atau outcome yang tertinggi adalah menjadi dokter namun yang dilakukan sekarang adalah kuliah akuntansi. Hal ini akan membuat outcome yang dibuat tidak congruent atau tidak selaras karena apa yang dilakukan bertentangan dengan outcome yang lebih tinggi.

cological.
Outcome yang dibuat harus ekologis, artinya bermanfaat untuk diri sendiri (Win 1), bermanfaat untuk orang banyak (Win 2), dan juga bermanfaat untuk lingkungan (Win 3) atau selaras dengan konsep 3 Win: 1. Saya Win, 2. Orang lain Win, dan 3. Lingkungan juga WinOutcome yang tidak ekologis akan membuat ketidakseimbangan dan menjauhi kesuksesan dan kebahagiaan yang diinginkan. Tanyakan: “Apa yang akan terjadi pada diri saya, keluarga dan lingkungan sekitar kalau outcome ini tercapai?”, “Apa yang akan terjadi pada aspek kehidupan saya pada saat outcome ini terealisasi?”

elf initiated.
Outcome yang ingin dicapai adalah outcome dari diri sendiri bukanoutcome untuk orang lain. Misalnya: “Saya ingin adik saya sukses”. Contoh tersebut adalah tidak sesuai dengan well-formed outcome karena berada diluar rentang kendali diri kita. Outcome yang self initiated harus dimulai oleh diri sendiri, dilakukan dan dijaga kelangsungan prosesnya oleh diri sendiri dan diselesaikan oleh diri sendiri. Intinya adalah diri sendiri yang bertanggung jawab dari awal sampai akhir (sampai outcome tersebut tercapai).

ensed with all representational systems.
Outcome tersebut harus dapat dirasakan oleh seluruh sistem representasi VAKOG, minimal melibatkan tiga sensori iderawi, yaitu:VisualAuditory, dan KinestheticVisual: melihat dengan mata sendiri bahwa outcome tersebut sudah tercapai, Auditory: mendengar apa yang dikatakan orang pada saat outcome tersebut tercapai, dan Kinesthetic: merasakan apa yang dirasakan pada saat outcometersebut tercapai.

Bagaimana, mudah bukan? Pertanyaannya sekarang adalah kapan Anda mau membuat Well-formed Outcome agar SUKSES yang Anda inginkan dapat terealisasi?

~ Live the life you want to life & make sure it is useful.

Tips Membuat Well-formed Outcome

Komunikasi tanpa sebuah outcome adalah seperti perjalanan tanpa sebuah tujuan. Kita tidak pernah tahu dimana kita akan sampai; mungkin di tempat yang kita senangi atau tempat yang kita tidak senangi.

Outcome adalah sebuah goal yang telah diklarifikasi dan dibentuk dengan sempurna oleh kondisi yang membuatnya menjadi well-formed. Dengan kata lain, jika goal adalah seperti pensil yang baru keluar dari kotaknya, outcome adalah seperti pensil yang diruncingkan dan siap untuk digunakan. Sehingga outcome adalah hasil yang diinginkan yang dirinci dalam bentuk yang ingin kita lihat ketika outcome itu tercapai. Senada dengan ini, NLP berorientasi pada outcome, yang berarti bahwa kita berorientasi pada hal-hal yang berhasil dan menghasilkan outcome yang diinginkan.

Bagaimana caranya untuk membuat sebuah well-formed outcome? Inilah tipsnya:

1. State in Positive / Nyatakan dalam Kalimat Positif
Tanyakan:

  • Apa yang saya inginkan?

 2. Describe in sensory experience and has an evidence procedure / Nyatakan dalam pengalaman indrawi dan miliki bukti tak terbantahkan
Tanyakan:

  • Bagaimana saya tahu bahwa saya telah mencapai outcome saya?
  • Apa yang akan saya lihat dan dengar pada saat outcome tersebut tercapai?
  • Apa yang akan saya rasakan?

3. Contextualized appropiately / Sesuaikan Konteksnya
Tanyakan:

  • Dimana saya menginginkan outcome ini?
  • Kapan saya menginginkan outcome ini?
  • Dengan siapa saya menginginkan outcome ini tercapai?

4. Initiated and maintained by you – it’s within your control / Dimulai dan dipertahankan oleh diri sendiri – dalam rentang kendali diri sendiri
Tanyakan:

  • Apa yang bisa saya lakukan?
  • Sumber daya apa yang saya perlukan untuk mencapai outcome ini?
  • Apa yang dapat saya terus lakukan?

5. Ecological and maintain the system and relationship / Ekologis dengan mempertahankan sistem dan hubungan
Tanyakan:

  • Apa yang akan terjadi pada saat saya mencapai outcome ini?
  • Bagaimana outcome ini akan mempengaruhi aspek lain dari hidup saya?
  • Bagaimana outcome ini bermanfaat bagi saya, orang lain dan lingkungan?

Mudah bukan?

Selamat mendesain well-formed outcome yang Anda inginkan. Lihat, dengar dan rasakan manfaatnya sekarang.

SALAM NLP!