NEGATIVE THINKING: BAGUS ATAU JELEK?

NLPACADEMIA.com – Penilaian apa yang akan Anda berikan pada saat mendengar suara raungan sirene mobil ambulans di siang hari? Bagus atau jelek? Coba ambil waktu sebentar untuk memikirkannya sebelum memberikan jawaban karena jawaban yang diberikan akan mengarah pada suatu kesimpulan yang ujung-ujungnya akan menentukan perbuatan kita bermanfaat atau tidak bermanfaat.

Pada umumnya orang akan menjawab jelek pada saat mendengar raungan sirene. Jarang ada orang yang mengatakan bagus. Namun, seorang praktisi NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang terampil, tidak akan langsung loncat pada suatu judgement atau penilain karena judgement akan memiliki value tertentu yang akan mempengaruhi baik atau buruknya perilaku seseorang.

Jadi apa jawabannya kalau begitu? Menurut saya, jawaban yang paling pas untuk pertanyaan diatas adalah “TERGANTUNG!”

Loh kok “Tergantung?”.

“Iya benar, jawabannya adalah TERGANTUNG. Spesifiknya adalah TERGANTUNG PADA KONTEKS APA.”

Penjelasannya adalah seperti ini, bagi orang umum suara sirene artinya jelek karena ada orang yang sedang sakit. Namun, bagi orang yang sedang sakit, suara sirene ambulans itu justru bagus karena ambulans sudah datang untuk membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Contoh yang lain, “Macet, bagus atau jelek?”

Ya, benar sekali! Jawabannya adalah, “TERGANTUNG!”.

Tergantung dari konteks mana kita melihatnya. Dari konteks pembangunan ekonomi, macet artinya bagus karena salah satu idikator semakin maju ekonomi suatu negara adalah ditandai dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang di jalan. Namun, macet akan menjadi sangat jelek sekali bagi orang-orang yang sedang berada terkena macet tersebut, apalagi bagi seorang ibu yang akan melahirkan bayinya.

Pertanyaan terakhir, “Lupa, bagus atau jelek?”.

Apa respon Anda terhadap pernyataan ini?

Ya, sekali lagi benar! Jawabannya adalah “TERGANTUNG!”.

Tergantung dilihat dalam KONTEKS apa. Lupa pada saat ujian bisa menjadi malapetaka karena bisa berujung pada tidak naik kelas. Namun lupa justru diperlukan pada konteks melupakan pengalaman-pengalaman traumatis di masa lalu.

Lebih lanjut lagi, banyak orang yang tidak suka dengan kata-kata negative thinking. Apalagi kalau kita yang disebut sebagai orang yang negative thinking. Apa benar negative thinking itu sedemikian negatifnya sampai tidak ada manfaat sama sekali? Bagaimana pandangan NLP mengenai negative thinking ini? Mari kita lihat lebih lanjut.

Salah satu presuposisi NLP mengatakan bahwa, “Segala sesuatu memiliki manfaat pada konteks tertentu”. Hal ini berarti, semua perilaku memiliki manfaat atau makna positif dalam konteks yang tepat. Termasuk negative thinking. Salah satu manfaat utamanya adalah untuk menjaga agar jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita.

Setelah mengetahui manfaat dari negative thinking yang begitu bermanfaat, pertanyaannya adalah “Apakah kita masih mau membuang negative thinking dari diri kita?” Saran saya, coba dipikirkan lagi baik-baik.

Analogi kendaraan bermotor mungkin adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini. Apabila pedal gas adalah positive thinking maka pedal rem adalah negative thinking-nya. Kedua pedal ini sangat dibutuhkan. Itu sebabnya pada setiap kendaraan dilengkapi dengan kedua pedal ini. Lebih lanjut lagi, kita tidak dapat mengatakan bahwa pedal gas lebih bermanfaat daripada pedal rem dan atau sebaliknya, karena dua-duanya memiliki fungsinya masing-masing. Dua-duanya sama-sama bermanfaat dan sama-sama penting dalam konteksnya masing-masing.

Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa negative thinking tidak ada manfaatnya sama sekali. Pertanyaan ini sama seperti menanyakan apakah rem sama sekali tidak bermanfaat? Rem justru sangat bermanfaat pada konteks untuk menghentikan laju kendaraan. Bahkan rem dapat menyelamatkan nyawa orang karena dapat menyelamatkan orang dari tabrakan. Bayangkan apa yang akan terjadi apabila tidak ada rem.

Di dalam perusahaan, peraturan-peraturan yang dibuat adalah contoh hasil dari negative thinking yang memiliki manfaat untuk menjaga perusahaan agar tetap berada di jalur yang tepat.

Dalam diri kita, self talk negatif yang diberikan oleh bawah sadar kita adalah tanda-tanda yang diberikan oleh tubuh untuk melindungi diri kita agar jangan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dalam kehidupan sehari-hari; norma-norma, peraturan lalu lintas, perangkat hukum, dan lain sebagainya adalah contoh dari hasil negative thinking agar masyarakat tidak berbenturan satu sama lain pada saat berinteraksi.

Sekali lagi, segala sesuatu memiliki manfaat positif pada konteks tertentu. Dalam konteks yang salah, positive thinking juga dapat menjadi salah. Contohnya adalah, apa yang akan terjadi apabila di hadapan kita ada orang jahat yang ingin mencelakai diri kita dan kita masih ber-positive thinking terhadap orang tersebut? Atau, seandainya di depan kita ada lubang besar namun kita masih ber-positive thinking untuk maju ke depan? Tentu hasilnya adalah sesuatu yang tidak kita harapkan.

Singkatnya adalah apabila suatu perilaku digunakan pada konteks yang tepat maka hasilnya akan bagus. Sebaliknya, apabila suatu perilaku digunakan pada konteks yang salah maka hasilnya akan jelek, terlepas itu negative thinking atau positive thinking.

Sebagai penutup, positive thinking akan bermanfaat apabila digunakan dalam konteks yang tepat dan negative thinking akan bermanfaat apabila digunakan dalam konteks yang tepat. Selaras dengan ini, apabila positive thinking digunakan dalam konteks yang salah maka hasilnya akan jelek dan negative thinking apabila digunakan dalam konteks yang salah, hasilnya juga akan jelek.

Dengan demikian maka apabila kita kembali pada judul artikel di atas, “Apakah Negative Thinking itu bagus atau jelek?” Maka jawabannya adalah TERGANTUNG 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image