Sucessful Marketing with NLP – Bagian 2

Dan, untuk kelompok yang terakhir atau ketiga adalah VALUE. Tujuan dari value adalah untuk mendapatkan heart share dari pelanggan. Bagian ini terdiri dari:

7. Brand
Brand atau merek adalah value indicator dari sebuah produk. Sebuah merek memiliki nilai yang nilainya bisa melampaui seluruh aset perusahaan (pabrik, mesin, tanah, dsb.) apabila dijual. Sebuah merek misalnya; Coca cola, apabila dijual bisa melampaui seluruh nilai aset fisiknya di seluruh dunia.

Merek memainkan peranan yang sangat penting. Dua buah merek berbeda akan memiliki value yang berbeda. Sebuah sepatu olah rage, dengan model dan kualitas yang sama buatan Tangerang akan memiliki value yang berbeda apabila dilekatkan dengan merek Nike dan yang satu lagi merek Spotec.

8. Process
Perusahaan yang berorientasi pada pelanggan juga harus memperhatikan proses dari awal sampai akhir sebuah proses transaksi berjalan. Perusahaan harus memastikan bahwa proses penerimaan order, proses produksi, sampai proses pengiriman barang ke konsumen, bahkan sampai after sales service-nya berjalan dengan lancar. Tidak bisa dibayangkan apabila produk yang sudah di order pelanggan, misalnya kulkas, sampainya sebulan kemudian. Tentu pelanggan manapun akan kecewa terhadap proses perusahaan yang tersendat-sendat. Untuk itu diperlukan sebuah supply chain yang kuat agar perusahaan dapat melayani pelanggannya dengan baik.

9. Service
Pada akhirnya semua perusahaan adalah perusahaan jasa. Walaupun produk yang dijual adalah produk tangible (produk yang memiliki bentuk secara fisik). Namun perlu diperhatikan bahwa sepanjang perjalanan mengkonversikan penjualan, banyak melibatkan service atau proses pelayanan.

Meningkatnya pendidikan suatu negara akan mengakibatkan pelanggan semakin demanding. Mereka tidak mudah dipuaskan karena mereka tahu akan hak-haknya. Agar dapat sukses sebagai perusahaan yang berorientasi marketing, Anda harus memperhatikan bagaimana front liner Anda berhubungan dengan pelanggan apabila Anda tidak mau kehilangan pelanggan potensial Anda.

Ada satu cerita lucu sehubungan dengan pelayanan yang saya alami berkenaan pada waktu saya dengan keluarga masuk ke sebuah restaurant untuk makan siang di sebuah mall di daerah Puri Indah, Jakarta Barat. Sewaktu pelayannya menghampiri meja saya untuk take order, mukanya cemberut. Tentu ini bukan kondisi yang ideal. Siapapun pasti tidak ingin dilayani oleh pelayan yang cemberut. By design saya berkata: “Kalau mau saya order, senyum dulu dong. Kalau belum senyum saya tidak akan order”. Mungkin kaget karena belum ada pelanggan yang melakukan itu sebelumnya, pelayan itupun kemudian tersenyum dan saya pun memesan makanan yang saya ingin makan. Dengan linguistic yang sederhana, state pelayan itu berubah dari cemberut menjadi tersenyum. Dan sayapun happy karena bisa mengubah orang tersebut menjadi lebih bersumber daya sehingga dia dapat melayani pelanggan lainnya dengan hati riang gembira dan senyum mengembang. Dengan senyum yang mengembang, saya tambahkan, “Nah begitu dong. Dengan senyumkan lebih baik”. Dan, senyumnya pun semakin mengembang.

Sebagai penutup, selling bukanlah marketing dan marketing bukanlah hanya 4P (product, price, place, & promotion). Marketing lebih dari itu, yang minimal terdiri dari: 1. STRATEGY (1. Segmentasi, 2. Targeting, 3. Positioning), 2. TACTIC (4. Marketing Mix, 5. Differentiation, 6. Selling), dan 3. VALUE (7. Brand, 8. Process, 9. Service).

Sebelum Anda melahirkan sebuah produk, lakukanlah 9 Marketing Fundamental diatas sehingga kans suksesnya semakin besar. Semoga bermanfaat.

Public Speaking with NLP

Pada NLP Indonesia Conference 2013, 20 April yang lalu, Owen Fitzpatrick, Master Trainer of NLP dan pengarang beberapa buku best seller, seperti: “Conversation with Richard Bandler”, “The Charisma Edge”, dsb. membawakan tema Public Speaking di hadapan para peserta. Pembawaannya yang lugas dan sangat berpengalaman menyihir para pendengar. Hal ini juga termasuk caranya menjawab pertanyaan peserta pada saat Advanced NLP Skills di malam hari. Tidak salah kalau beliau diberikan title Licensed Master Trainer of NLP oleh Dr. Richard Bandler pada usia yang sangat muda, 23 tahun.

Special thanks untuk Pak Hingdranata Nikolay, Master Trainer Indonesia yang telah membawa master trainers lainnya seperti Owen Fitzpatrick dan Anders Pipers ke Jakarta. Dan juga atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbicara (Successful Marketing with NLP) di forum yang luar biasa ini. Artikel berikutnya saya akan menulis mengenai tema yang saya bawakan dalam NLP Conference yang baru saja berlalu.

Tulisan ini mencoba merangkum apa yang disampaikan oleh Owen, sehingga bagi yang tidak sempat mengikuti seminarnya dapat juga mencicipi Public Speaking yang dibawakannya. Owen memulai seminar ini dengan pertanyaan “WHY”. Apa alasan utama seorang public speaker berprofesi di bidang public speaking. Apabila dimulai oleh “WHY” yang kuat maka public speaking yang dibawakan akan membawa IMPACT bagi pendengarnya dan juga pembicaranya. Public speaking seperti ini yang dikatakan Owen sebagai Charisma Public Speaking, sebuah public speaking yang penuh energi dan membawa manfaat. Selain itu, pertanyaan “WHY” akan membawa pada alasan utama seorang pembicara untuk membawakan sebuah public speaking yang berbeda dengan kualitas yang berbeda juga. Selaras dengan ini, bagi seorang Owen, “WHY”-nya adalah untuk memberikan IMPACT kepada para pendengarnya yang pada ujungnya akan memberikan IMPACT juga pada dirinya. So, langkah pertama adalah tanyakan “WHY” Anda sebelum masuk dalam dunia public speaking.

Langkah ke-dua adalah bagaimana membuat koneksi yang kuat dengan para audiens sehingga public speaking yang dilakukan berjalan lancar (flowing) dan menarik (interesting). Ada 4 pertanyaan yang dapat membantu seorang pembicara untuk connect dengan para audiensnya, yaitu:

  1. What do I like about them? – Apa yang saya sukai dari para audiens?
  2. How are they similar to me? – Bagaimana mereka kelihatan sama dengan saya?
  3. How do I make them look good? – Bagaimana saya dapat membuat mereka lebih baik?
  4. What can I do for them? – Apa yang dapat saya lakukan untuk mereka?

Dengan menanyakan pertanyaan diatas maka akan tercipta “connection” atau “rapport” antara pembicara dengan audiens.

Langkah ketiga adalah menyusun dan mempersiapkan sebuah public speaking dengan baik. Menurut Owen ada tiga bagian yang harus disusun dan dipersiapkan sebelum membawakan sebuah public speaking, yaitu:

1. Introduction
Bagian ini adalah penjelasan singkat mengapa audiens merasa perlu mendengarkan Anda sebagai seorang pembicara. Jelaskan siapa Anda, pengalaman, dan yang Anda lakukan yang membuat orang lain mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan Anda.

Kemudian, berikan gambaran singkat tentang pesan utama dari public speaking yang akan Anda sampaikan. Jangan lupa untuk menarik perhatian (grab attention)  audiens dari awal seperti menceritakan sebuah quote, joke, kisah, berinteraksi dengan peserta, melempar pertanyaan yang menarik minat peserta, dsb. Tujuannya adalah untuk membentuk emosi positif dan ketertarikan peserta kepada pembicara dan apa yang akan disampaikan.

2.The Body Part
Bagian ini adalah bagian utama dari pesan yang Anda ingin sampaikan kepada para audiens yang terdiri dari beberapa pesan. Setiap pesan yang disampaikan hendaknya disampaikan dengan jelas dan didukung oleh fakta dan data pendukung dengan tujuan untuk meningkatkan keyakinan audiens terhadap pesan yang Anda sampaikan. Berikan juga contoh-contoh, bukti, fact & figure, pengalaman, atau cerita yang menguatkan pesan utama yang Anda sampaikan.

Dalam membawakan seminar atau training terkadang ada peserta yang bertanya atau ragu dengan apa yang Anda sampaikan. Untuk mengatasi hal ini, hindari berdebat dengan peserta karena hal ini akan mengakibatkan hilangnya koneksi dengan para audiens. Cara yang paling tepat adalah lakukan pacing & leading. Iyakan atau setujui dulu apa yang menjadi concern penanya, kemudian baru leading ke arah yang Anda inginkan. Anda bisa memberikan bukti, fakta,  data, metaphors, dsb.

Dalam menyampaikan bagian ini juga, jangan lupa untuk menjaga emosi audiens agar mereka tetap memberikan fokusnya pada pembicara dan juga untuk menciptakan good feeling peserta.

3. Conclusion
Dalam bagian penutup, tarik perhatian dari pendengar dan rangkum semua poin-poin utama dari pesan yang Anda sampaikan sebelumnya. Jangan lupa untuk call for action, misalnya untuk sales: call of action-nya adalah membeli produk yang Anda presentasikan. Sampaikan dengan spesifik dan jelaskan apa yang Anda inginkan dari mereka.Dalam bagian penutup ini tetap perlu dijaga emosi positif dari peserta sehingga pada saat meninggalkan public speaking tersebut mereka meninggalkan lokasi dengan perasaan yang bahagia dan yang paling penting lagi apa yang disampaikan memberikan IMPACT dalam hidup mereka.

Susunlah public speaking Anda dengan baik, termasuk tulis berapa lama durasi yang akan Anda bawakan untuk setiap bagiannya. Catat menit per menitnya sehingga Anda dapat mengontrol waktu Anda. Tidak terlalu singkat dan juga tidak terlalu panjang melewati batas waktu yang ada.

Langkah ke-empat adalah, persiapkan diri Anda dengan baik dengan cara melakukan future pacing atau latihan mental (mental rehearsal) dengan cara membayangkan jalannya public speaking yang akan Anda bawakan dalam pikiran Anda sampai Anda mendapatkan suatu feeling yang mantap.

Delivery
Pada saat membawakan public speaking (delivery), ini adalah bagian dimana Anda benar-benar melakukan eksekusi atas apa yang telah Anda rencanakan sebelumnya. Disini pembicara akan berhubungan langsung dengan para audiens dan menyampaikan poin-poin tersebut. Tips untuk delivery adalah:

1. Be Expressive
Sampaikan apa yang akan Anda sampaikan dengan ekspresif. Jiwai apa yang akan Anda sampaikan. Menjadi selaras (congruent) dengan isi pesan yang Anda sampaikan. Kalau pesan yang disampaikan adalah mengenai hal-hal yang lucu maka seluruh tubuh Anda juga harus mengekspresikan kelucuan tersebut. Singkatnya adalah rasakan apa yang Anda katakan (feel what you say) yaitu terciptanya keselarasan antara physiology, tone, dan word.

2. Don’t worry about other people think of you
Banyak pembicara, terutama pembicara yang baru mulai di bidang public speaking yang cemas mengenai apa yang audiens pikirkan tentang dirinya. Ini adalah strategi yang salah karena pada saat Anda cemas dengan apa yang dipikirkan oleh audiens maka state Anda akan menjadi jelek dan delivery-nya menjadi jelek juga.

Lebih lanjut lagi, banyak pembicara yang takut kalau audiens mengetahui bahwa mereka lupa akan apa yang akan Anda sampaikan. Tipsnya untuk ini adalah lanjutkan saja (keep moving), tidak perlu takut karena audiens tidak mengetahui apa isi kepala Anda. Terus saja sampaikan pesan Anda, kalau Anda ingat dengan apa yang terlupa, sampaikan lagi. Kalau Anda tidak ingat sama sekali sampai akhir acara, audiens juga tidak tahu bahwa mereka melewatkan sesuatu. Don’t worry about it! Anda sebagai pembicara yang memegang kontrol sepenuhnya pada saat Anda di atas panggung, bukan audiens!

3. How you can impact the people
Dalam menyampaikan inti pesan Anda yang perlu Anda perhatikan adalah bagaimana Anda memberikan impact kepada para audiens. Bukan berpikir pada kecemasan-kecemasan seperti yang dijelaskan pada poin 2 diatas. Dengan menanyakan apa yang Anda bisa lakukan untuk memberikan impact yang bermanfaat bagi para audiens maka otak Anda akan dalam state yang positif dan otak akan memberikan ide-ide untuk public speaking yang impactful.

Demikian summary dari apa yang disampaikan oleh Owen Fitzpatrick dalam Public Speaking di NLP Indonesia Conference 2013. Semoga membawa manfaat bagi Anda yang ingin menekuni profesi public speaking.

Guru Besar itu Bernama Konfusius

“Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tapi hebat dalam tindakan”

“Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu.”

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setelah kita jatuh”

~ Konfusius

Pada tanggal 4 April 2013 kemarin saya mendapat kesempatan yang sangat berharga mengunjungi tempat kelahiran Konfusius di Qufu, Propinsi Shandong, China. Beliau mendapat tempat yang sangat terhormat bagi banyak orang di dunia karena ajarannya yang begitu luar biasa. Bahkan di zaman lampau, 12 raja dari berbagai dinasti datang ke tempat beliau khusus untuk memberikan apresiasi atas kontribusinya yang besar. Termasuk mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew juga mengunjungi tempat beliau untuk memberikan penghormatan atas sumbangsihnya yang besar bagi negara dan umat manusia.

Sekilas mengenai tempat Konfusius di Qufu, China. Tempat ini dibagi dalam dua bagian besar. Yang pertama disebut sebagai Confucius’s Temple, seluas 24 hektar. Dan yang kedua adalah areal pemakaman keluarga Kong seluas 240 hektar. Disinilah Konfusius dimakamkan bersama dengan semua orang yang memiliki nama keluarga atau bermarga Kong, sesuai dengan nama keluarga Konfusius, yaitu Kong.

Ajarannya dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar yaitu: 1. Sebagai Agama, yaitu agama Kong Hu Cu, dan 2. Sebagai falsafah hidup. Dapat dikatakan bahwa semua keturunan China baik itu di negara China sendiri maupun China perantauan pasti menggunakan falsafah hidup yang diajarkan oleh Konfusius. Yang menarik adalah, tidak semua orang Chinese beragama Kong Hu Cu. Namun, dapat dipastikan bahwa semua orang Chinese menggunakan falsafah Konfusius sebagai pedoman hidupnya.

Selain itu, bukan hanya orang China saja, baik di mainland China maupun yang bertebaran di seluruh dunia atau dikenal dengan sebutan Hoakiao – China perantauan, yang menggunakan salah satu atau kedua ajarannya diatas. Bangsa-bangsa besar di luar China, seperti Jepang dan Korea banyak menggunakan pemikiran-pemikiran Konfusius dalam menjalankan pemerintahannya menuju pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Itu sebabnya selain sebagai seorang guru, Konfusius juga dikenang sebagai seorang statesman, ahli tata negara.

Sekilas mengenai Konfusius
Konfusius lahir pada tahun 551 SM dan meninggal pada tahun 479 SM di daerah Qufu, Propinsi Shandong, China. Walaupun beliau adalah seorang guru besar, namun hidup beliau penuh dengan penderitaan. Konfusius lahir di keluarga miskin dan pada usia 3 tahun ayah beliau meniggal dunia. Pada usia 24 tahun, ibunda beliau meninggal dunia. Dan 3 tahun sebelum beliau meninggal, putera satu-satunya meninggal dunia. Namun dibalik semua ini, beliau masih dapat mengeluarkan yang terbaik dari dirinya dan memberikan yang terbaik bagi dunia. Konfusius pernah menjabat beberapa posisi dalam pemerintahan, namun sebagian besar hidupnya dicurahkan untuk mengajar murid-murid beliau. Tercatat ada 3,000 orang yang menjadi murid beliau. Beberapa yang terkenal diantaranya adalah Mensius (Mengzi) dan Yan Hui.

Memodel Konfusius
NLP lahir dari usaha Richard Bandler dan John Grinder dalam memodel tiga orang luar biasa di zamannya, yaitu: Virginia Satir, Fritz Perls, dan Milton H. Erickson. Dari modeling ini lahirlah NLP, sebuah ilmu luar biasa yang mempelajari pikiran, ucapan, dan perilaku seseorang untuk menuju kesuksesan dan kebahagiaan.

Merupakan suatu hal yang luar biasa apabila kita dapat memodel seorang luar biasa seperti Konfusius, yang sumbangsihnya terlihat jelas bagi dunia sampai dengan saat ini. Pertanyaannya adalah apa yang harus kita model? Bagi saya, ada dua hal penting yang dapat dimodel dari orang sekaliber Konfusius ini.

Yang pertama adalah pribadi Konfusius sendiri. Konfusius adalah orang yang terpelajar, sederhana, menjunjung tinggi moralitas, dan walk the talk (melakukan apa yang dikatakan). Untuk mengubah status sosial seseorang, beliau menyarankan untuk belajar (sekolah). Dengan demikian maka orang akan berpendidikan dan dapat mengubah statusnya sekaligus nasibnya. Sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah hidup berfoya-foya. Kesederhanaan adalah kesehariannya. Dalam hal moralitas, beliau adalah orang yang mengedepankan kesusilaan, sopan santun, tata krama, dan budi pekerti. Salah satu ucapan beliau yang terkenal selaras dengan walk the talk adalah “Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu.”

Dan, yang kedua adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh beliau. Nilai-nilai seperti: bakti kepada orang tua, rendah hati, kesetiaan, dapat dipercaya, kesusilaan, kebijaksanaan, hidup sederhana, dan tahu malu, adalah nilai-nilai universal yang dapat kita model dan install dalam diri kita. Nilai-nilai ini adalah nilai-nilai yang akan membawa kemajuan bagi orang-orang yang mau meng-install-nya dalam dirinya.

Apabila kita memodel dan mempraktekkan karakteristik dan nilai-nilai yang diajarkan oleh beliau maka kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dari sisi kualitas maupun moralitas. Dari kumpulan pribadi-pribadi yang berkualitas ini maka kita akan menjadi bangsa yang besar. Dari bangsa yang besar akan menjadi negara yang besar dan sejahtera. Dan negara itu adalah Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Teknik NLP: Swish Pattern

NLPACADEMIA.comSwish Pattern adalah teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, merokok, gugup, demam panggung dan kebiasaan buruk lainnya.

Elemen kunci dalam Swish Pattern adalah “switching” atau menggantikan dua buah state, yaitu melepaskan state yang tidak diinginkan dan menggantikannya dengan state yang diinginkan sehingga tercipta suatu keadaan “going away” dari masalah yang ada dan “moving toward” keadaan yang diinginkan dalam bentuk lahirnya perilaku baru menggantikan perilaku lama.

Bagaimana Teknik Swish Pattern Bekerja
Munculnya sebuah perilaku adalah karena adanya sebuah trigger atau pemicu dalam pikiran yang mengaktifasi suatu perilaku. Pemicu inilah yang digantikan dengan perilaku baru atau gambar diri (self image) yang lebih bermanfaat atau disebut dengan desired state (keadaan yang diinginkan). Dalam hal ini, Swish Pattern bekerja dengan cara membentuk sebuah pengkodean baru atas gambar, suara, atau perasaan dalam pikiran bawah sadar dengan cara memodifikasi isi dari submodalitas dimana kualitas submodalitas dari perilaku baru dan atau gambar diri minimal dibuat sama dengan kualitas submodalitas dari pemicu.

Sehingga apabila awalnya pada saat pemicu lama muncul, misalnya, melihat kuku jari tangan (trigger visual), maka langsung muncul perilaku buruk, yaitu: menggigit kuku maka setelah dilakukan Swish Pattern maka perilaku tersebut tidak muncul lagi dan digantikan dengan perilaku atau gambar diri yang diinginkan, yaitu: gambar diri dengan jari tangan yang bagus dengan kualitas submodalitas (misal: ukuran dan tingkat kecerahan gambar) yang minimal atau lebih kuat dari gambar pemicu.

Dengan Teknik Swish Pattern, kita dapat membantu orang-orang yang memiliki masalah seperti di atas dengan membantu mereka me-reprogram pikiran bawah sadarnya. Dalam keadaan normal perubahan ini sulit dilakukan karena kebiasaan buruk adalah program pikiran bawah sadar yang harus diakses dan di-reprogram secara bawah sadar juga.

Pemilihan “Cue Selection / Trigger
Sebelum melakukan teknik Swish Pattern, sangat penting  untuk mengidentifikasi sebuah cue selection atau trigger (pemicu) yang menyebabkan munculnya sebuah perilaku yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, melihat jari tangan untuk kasus menggigit kuku jari tangan untuk pemicu visual, perasaan mual pada saat hendak maju memberikan presentasi untuk pemicu kinesthetic, dan suara yang membuat demotivasi untuk pemicu auditory.

Dengan mengetahui pemicunya (berupa gambar, suara, maupun perasaan) maka kita dapat mendesain teknik Swish Pattern yang tepat untuk digunakan. Hal ini disebabkan karena lead system (sistem pikiran yang mendahului perilaku tertentu) setiap orang berbeda. Apabila pemicunya adalah gambar (visual) maka Visual Swish Pattern adalah cara yang paling tepat untuk konteks ini. Visual Swish Pattern biasanya adalah teknik yang umumnya diajar dalam kelas NLP practitioner. Sedangkan Auditory Swish Pattern dan Kinesthetic Swish Pattern merupakan variasi teknik lainnya dari Swish Pattern.

Mendesain Swish Pattern – Gambaran Menyeluruh
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan perilaku apa yang ingin diubah. Setelah itu, mencari tahu modalitas dan sub modalitas mana yang penting dan memiliki peran besar dalam sebuah trigger. Dalam Swish Pattern standard (Visual Swish Pattern) modalitas itu adalah dalam bentuk gambar (visual) dan sub modalitasnya adalah misalnya ukuran dan tingkat terang/redupnya gambar tersebut. Kemudian tentukan perilaku baru atau gambar diri yang diinginkan yang akan menggantikan perilaku lama. Dan, hal yang terakhir adalah melakukan “switching” atau penggantian state diantara keduanya dengan teknik Swish Pattern.

Berikut ini adalah langkah demi langkahnya untuk Visual Swish Pattern:

Langkah 1
Tentukan perilaku yang ingin diubah.

Langkah 2
Buat gambar pemicu secara asosiasi (melihat dari mata sendiri) yang menyebabkan munculnya perilaku tersebut. Misal: Gambar jari tangan. Cari submodalitas dari gambar tersebut yang paling mempengaruhi kekuatan dari gambar pemicu, misalnya: ukuran dan tingkat kecerahan gambar. Untuk mempermudah penjelasan, kita sebut gambar ini sebagai “Gambar #1”.

Langkah 3
Break state. Misal, memikirkan hal yang lain atau melihat pohon di luar jendela. Tujuannya, agar proses #2 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 4
Buat gambar yang lain, kali ini disosiasi (melihat dari kejauhan), melihat diri sendiri dengan perilaku baru yang diinginkan. Misal: Gambar diri sendiri dengan kuku tangan yang bagus. Untuk mempermudah penjelasan, kita sebut gambar ini sebagai “Gambar #2”.

Langkah 5
Cek ekologi dengan menanyakan: “Saat melihat gambar ini (Gambar #2), apakah ada penolakan untuk menjadi pribadi yang baru tersebut?” Lakukan pengecekan ekologis.

Langkah 6
Sekarang, buat gambar pemicu (Gambar #1) dalam keadaan besar, terang, dan posisi asosiasi. Kemudian letakkan gambar yang diinginkan (Gambar #2) dalam bentuk kecil (seperti insert foto kecil) di pojok kiri bawah dari gambar yang tidak diinginkan (Gambar #1). Lihat gambar di bawah ini.

Gambar 1.1

Langkah 7
Selanjutnya, lakukan proses “swish” dengan cara Gambar #1 memudar dan mengecil sedangkan Gambar #2 mendekat, membesar, lebih terang, dan secara cepat menutupi tempat yang ditempati sebelumnya oleh Gambar #1. Untuk proses ini dapat ditambahkan suara “Swissssh……” dan menggerakkan telapak tangan kiri menjauh dari wajah untuk Gambar #1 dan mendekatkan telapak tangan kanan ke wajah untuk Gambar #2 secara bersamaan untuk membantu proses swish lebih efektif. Ulangi proses ini sebanyak lima kali dan lakukan break state sebelum memulai proses swish yang baru. Salah satu tanda berhasilnya teknik ini adalah apabila Gambar #1 terasa sulit untuk di-recall.

Langkah 8
Lakukan pengujian – dalam kasus ini sodorkan kembali jari tangannya ke arah mulut dan amati apakah masih ada keinginan untuk menggigit kuku tersebut. Apabila sudah tidak ada silakan maju ke proses selanjutnya. Apabila masih ada, ulangi langkah pada poin #6 diatas sampai Gambar #1 tidak dapat di-recall.

Langkah 9
Future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila melihat trigger Gambar #1 apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

Variasi Teknik Swish Pattern
Untuk teknik Auditory Swish Pattern klik disini.
Untuk teknik Kinesthetic Swish Pattern klik disini.

Teknik NLP: Auditory Swish Pattern

NLPACADEMIA.comSwish Pattern adalah teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, merokok, gugup, demam panggung dan kebiasaan buruk lainnya. Selain Visual Swish Pattern, Teknik Swish Pattern juga dapat dilakukan dalam bentuk Auditory Swish Pattern.

Langkah demi langkah Teknik Auditory Swish Pattern:

Langkah 1
Tentukan submodalitas auditory mana yang paling kuat dalam keadaan yang tidak diinginkan. Cari tahu apakah volume dan jarak adalah yang paling mempengaruhi perilaku yang tidak diinginkan tersebut. Biasanya ini adalah submodalitas auditory pada banyak orang.

Langkah 2
Bentuk keadaan disosiasi bagaimana “keadaan yang diinginkan” itu bersuara/berbunyi seperti yang diinginkan, misal dengan menanyakan: “Dengarkan seperti apa suara/self talk Anda dengan tambahan pilihan bersumber daya”, atau “Dengarkan suara itu seperti ada orang lain yang berbicara pada Anda”, atau “Apa kualitas yang Anda dengar sekarang?”.

Langkah 3
Cari submodalitas auditory mana yang menjadi penggeraknya, misal: submodalitas mana yang kalau ditambah akan meningkatkan intensitas perilaku. Apabila memungkinkan, cari dua submodalitas yang terkuat untuk keadaan “sebelum” dan “sesudah”. Sebagai contoh, untuk suara internal dengan submodalitas keras dan dekat akan berkurang intensitasnya ketika meredup dan menjauh. Sehingga untuk keadaan “sesudah” tambahkan volume suaranya dan dekatkan. Dengan demikian maka intensitasnya akan meningkat.

Langkah 4
Break state. Misal, memikirkan hal yang lain atau melihat pohon di luar jendela. Tujuannya, agar Langkah #3 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 5
Lakukan swish sehingga suara “sebelum” meredup dan menjauh sedangkan “suara yang diinginkan” mendekat dan menambah volume suaranya.

Langkah 6
Break state.

Langkah 7
Ulangi langkah 5 sebanyak lima kali dan setiap kali lebih cepat daripada sebelumnya

Langkah 8
Lakukan future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila mendengarkan trigger “suara sebelum” apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

Note:
Kadang kala orang merespon lebih baik pada suara internal yang lembut daripada suara yang keras. Jika demikian maka, sesuaikan swish yang dilakukan sehingga keadaan “sebelum” dan suara “diinginkan” dimulai dari keras menjadi lembut. Selain itu, arah datangnya suara juga memainkan peran yang penting.