Tag Archives: Cue

The Power of Habit – Part 2

Melanjutkan artikel sebelumnya (The Power of Habit – Part 1), study Duke University pada tahun 2006 menunjukkan bahwa 40 persen lebih tindakan yang dilakukan seseorang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan, melainkan kebiasaan.

Pada saat saya membaca buku The Power of Habit karangan Charles Duhigg, yang memuat study diatas, saya berhenti sejenak, menggunakan otak sadar saya untuk menganalisa mengenai pentingnya sebuah kebiasaan dalam menentukan sebuah keputusan. Kemudian analisa itu berlanjut. Pikiran saya mencoba menterjemahkan study diatas ke dalam contoh-contoh kehidupan sehari-hari. Rasanya kok make sense ya. Saya pulang pergi ke kantor bertahun-tahun melalui rute yang sama dan itu telah menjadi kebiasaan saya. Dan keputusan saya untuk pulang dan pergi sangat ditentukan oleh kebiasaan saya tersebut. Kebiasaan makan saya juga sangat ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan saya. Pada saat akan memilih restoran atau food court di mall, keputusan saya memilh makanan sangat ditentukan oleh kebiasaan saya yang suka makanan berkuah, pedas, dan gurih (daripada manis). Sama halnya juga dengan gaya berpakaian,  gaya kerja, pola pengambilan keputusan, dsb. semuanya sangat didominasi oleh kebiasaan-kebiasaan yang biasa saya lakukan.

Menurut Duhigg, sebuah kebiasaan mengikuti pola seperti ini: Cue – Routine – Reward. Penjelasannya seperti ini: Cue yang berarti tanda, adalah sebuah tanda yang bisa disadari oleh panca indera seseorang. Cue ini akan memicu munculnya sebuah Routine (Rutinitas/Kebiasaan). Setelah sebuah rutinitas dilakukan maka akan menghasilkan Reward. Lingkaran kebiasaan ini juga diperkuat oleh adanya Craving atau Keinginan yang sangat kuat (mengidam). Untuk memudahkan kita mencerna penjelasan diatas, ini saya berikan contohnya. Pada saat smartphone Anda berdering (Cue), yang Anda sadari dengan indera auditory (pendengaran), maka akan memunculkan sebuah keinginan yang sangat kuat untuk melihatnya (Craving). Karena ini adalah lingkaran kebiasaan yang sudah tersimpan di dalam bawah sadar maka tanpa disadari tangan Anda akan bergerak secara otomatis untuk mengecek dan melihat isi dari smartphone tersebut (Routine), walaupun Anda sedang ada meeting yang penting atau mengendarai mobil. Setelah melihat pesan tersebut Anda akan merasa puas (Reward) berupa rasa lega atau hanya sekedar memuaskan rasa penasaran Anda mengenai isi dari pesan tersebut walaupun isi pesan tersebut mungkin hanya iklan KTA (Kredit Tanpa Agunan) yang tidak Anda butuhkan.

Dengan mengetahui komponen-komponen yang menggerakkan sebuah kebiasaan maka ada 3 cara yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk mengubah sebuah kebiasaan, yaitu: 1. Mengubah Cue, 2. Mengubah Routine dan mensubstitusikannya, Dan 3. Memberi REWARD

1. Mengubah Cue (Tanda)
Cue atau tanda dapat berupa: 1. Tanda eksternal atau 2. Tanda Internal. Eksternal berarti ada tanda yang dapat dikenali dari luar diri kita. Misalnya bunyi smartphone menyebabkan kita mengangkatnya. Dengan men-silent-kan bunyi smartphone ini maka akan memutus pemicu untuk melakukan sebuah kebiasaan. Internal berarti apa yang bisa kita kenali melalui internal pikiran kita (bisa berupa gambar, suara, perasaan, penciuman, atau pengecapan). Pemicu ini dapat diubah dengan cara mengubah isi modalitas (VAKOG: Visual, Auditory, Kinesthetic, Olfactory, Gustatory) dan submodalitas (kualitas dari VAKOG) dari pemicu tersebut. Teknik NLP: Swish Pattern dapat mempermudah proses ini (untuk teknik swish pattern, silahkan baca: http://www.coachtatang.com/teknik-nlp-swish-pattern/)

2. Mengubah Routine (Rutinitas/Kebiasaan)
Mengubah Routine dapat dilakukan dengan berhenti melakukan kebiasaan lama dan mulai membangun dan melakukan sebuah kebiasaan baru secara terus-menerus sampai menjadi permanen. Sehingga jalur neuron kebiasaan lama yang biasa dipakai tidak dilewati lagi dan sebaliknya jalur neuron baru terbentuk dan digunakan secara rutin. Cara lainnya adalah dengan cara mensubstitusi Routine yang lama dengan Routine yang baru dimana Cue dan Reward dipertahankan tetap sama.

Gambar ini menjelaskan sebuah Cue (tanda bosan) muncul yang biasanya akan memicu munculnya kebiasaan merokok dan setelah merokok akan muncul Reward dalam bentuk perasaan lega. Dalam hal ini, pada saat Cue bosan muncul, maka carilah substitusi dari kebiasaan merokok yang menghasilkan Reward yang sama (perasaan lega). Misalnya dalam hal ini adalah minum kopi. Maka setiap kali muncul Cue bosan, substitusikanlah kebiasaan merokok dengan perilaku baru (minum kopi) secara teratur sampai program ini menjadi kebiasaan. Tentunya dalam mencari program perilaku substitusi carilah yang selaras dalam artian tidak merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

3. Memberi REWARD
Reward yang dimaksud disini adalah bukan Reward seperti yang dimaksud pada poin 2 diatas. Bedanya adalah kalau Reward pada poin no.2 diatas terjadi secara natural, misal orang ngopi dengan tujuan (Reward) untuk melepas penat sejenak dan agar pikiran segar kembali, REWARD disini sengaja ditulis dengan HURUF BESAR untuk membedakannya. REWARD yang dimaksud disini adalah benar-benar hadiah yang Anda berikan kepada diri Anda pada saat Anda berhasil mengubah suatu kebiasaan buruk yang tidak bermanfaat menjadi kebiasaan baru yang bermanfaat. Misalnya Anda berhasil mengubah kebiasaan malas berolah-raga menjadi rutin berolah raga. Pada saat ini terjadi, Anda menghadiahi diri Anda sebuah jam tangan, gadget yang Anda inginkan, dsb.

Semoga uraian di atas bermanfaat bagi kita dalam memahami kebiasaan dan juga bagaimana cara untuk mengubah kebiasaan jelek menjadi kebiasaan baik, serta mempertahankan kebiasaan yang sudah baik dalam hidup kita. Sehingga kualitas hidup kita semakin baik.

~Values creation for a better Indonesia.

The Power of Habit – Part 1

Keseharian hidup kita tidak terhindar dari kebiasaan. Dari bangun tidur sampai tidur kembali semua bersentuhan dengan kebiasaan. Kebiasaan menggunakan handphone pada saat bangun tidur adalah sebuah contoh sederhana dari sebuah kebiasaan. Kebiasaan membaca koran (misal dari belakang ke depan), kebiasaan mengemudikan kendaraan dari rumah ke kantor yang melalui rute itu-itu saja, kebiasaan nonton TV, kebiasaan mengecek email pada saat pertama kali membuka komputer adalah sedikit contoh dari segudang kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam diri seseorang.

Berita baiknya adalah kebiasaan sangat membantu kita dalam melaksanakan tugas kita sehari-hari tanpa harus dipikir-pikir terlebih dahulu sehingga apa yang kita lakukan dapat berjalan dengan lancar dan otomatis. Contohnya, seorang akuntan bisa mengerjakan laporan keuangannya dengan sangat lancar tanpa harus mengingat-ingat bagaimana jurnalnya, seorang pemain basket tidak perlu menghitung-hitung jarak dirinya dengan ring basket, seorang pengemudi dapat mengendarai mobilnya dengan mudah tanpa harus memperhatikan dimana letak gas dan perseneling,  seorang tukang masak dapat memasak dengan sangat baik tanpa harus menimbang-nimbang berapa timbangan garam atau merica untuk masakannya, dsb. Semuanya dilakukan dengan sangat otomatis.

Berita buruknya adalah kebiasaan (baik yang baik maupun yang buruk) tidak dibedakan atau difilter oleh bawah sadar kita. Misalnya, hanya yang positif yang boleh masuk dan yang negatif tidak boleh masuk. Tidak begitu. Bawah sadar ini bertindak sebagai domain atau gudang yang sifatnya netral dimana semua program yang bernama kebiasaan ini disimpan. Sepanjang sebuah perilaku yang dilakukan berulang-ulang tersebut masuk dan tersimpan di bawah sadar maka kebiasaan ini akan berada di dalam orang tersebut sampai ada program lainnya yang menggantikannya. Singkatnya pikiran bawah sadar manusia tidak diprogram untuk membedakan yang mana yang baik dan mana yang buruk, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Sepanjang dilakukan berulang-ulang maka sebuah perilaku memiliki potensi untuk menjadi kebiasaan yang bersifat otomatis dan disimpan di dalam pikiran bawah sadar manusia (unconscious mind). Itu sebabnya kenapa kebiasaan merokok, walaupun si perokok itu sendiri tahu tidak baik, namun terus dilakukan. Dan kebiasaan bangun pagi jam 05.00 menjadi sesuatu yang sangat otomatis walaupun tanpa menggunakan jam weker.

Merriam webster dictionary mendefenisikan habit atau kebiasaan sebagai: “Something that a person does often in a regular and repeated way”, atau dapat diterjemahkan sebagai “sesuatu (perilaku) yang sering dilakukan oleh seseorang secara teratur dan berulang-ulang”. Sedangkan American Journal of Psychology mendefenisikannya sebagai berikut: “A habit, from the standpoint of psychology, is a more or less fixed way of thinking, willing, or feeling acquired through previous repetition of a mental experience”, atau dalam bahasa Indonesianya berarti: “Sebuah kebiasaan, dari sudut pandang psikologi, kurang lebih adalah cara berpikir, keinginan, atau perasaan yang tertentu yang diperoleh dari pengulangan yang dilakukan sebelumnya dari sebuah pengalaman mental.

Note: Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan terbentuk dan bagaimana menghilangkan kebiasaan buruk silahkan baca artikelnya pada link berikut: http://www.coachtatang.com/jalur-neuron-kebiasaan/

Bersambung ……