Tag Archives: Programming

Life is so Kampret

Ya betul. “Life is so Kampret”. Begitu status dari Blackberry Messanger teman saya, yang secara harafiah dapat diterjemahkan sebagai “Hidup Sangat Menyebalkan”. Pada saat membaca status tersebut saya tersenyum simpul karena linguistic-nya yang kreatif. Namun di dalam hati kecil saya berkata, “Kasihan sekali, pasti hidupnya sedang berada dalam masalah”. Dari bahasa yang digunakan dapat menggambarkan apa yang terjadi pada orang yang mengungkapkannya. Bagaimana menurut Anda? Apa yang terbesit dalam pikiran Anda pada saat membaca judul di atas? Tertawa, tersenyum, prihatin, atau campuran dari semuanya?

Terlepas apapun tanggapan kita terhadap judul diatas, saya lebih tertarik untuk membahas dari sisi kenapa hal yang tidak menguntungkan terjadi dalam hidup dan bagaimana caranya untuk keluar dari keadaan yang tidak menguntungkan tersebut sehingga dapat diambil hikmahnya oleh kita semua agar kita tidak mengalami kejadian yang sama. Hal yang mana juga diajarkan oleh NLP, yaitu mengamati suatu kejadian, menstrukturkan polanya, dan dari pola yang ada kemudian dapat diajarkan baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Mari kita telisik lebih dalam mengapa teman saya sampai menuliskan status tersebut untuk mengekspresikan kekesalan yang terjadi pada dirinya. Dugaan saya mengatakan bahwa hidupnya sedang mengalami masalah sampai ia mengatakan hidup(nya) begitu kampret. Dugaan ini didasari pada kata “kampret” yang sepanjang pengetahuan saya adalah linguistic yang digunakan untuk mengungkapkan kekesalan, makian, dan sumpah serapah kepada orang atau keadaan yang menyebabkan kekesalan. Ternyata, dugaan saya ini tidak terlalu jauh dari kenyataannya. Sebagai bentuk simpati, saya menghubungi teman saya dan iapun mengiyakan dan menjawab, “Sometimes, sh*t happens in life”. Lagi-lagi linguistic negatif yang muncul akibat kejadian yang menyebabkan kekesalannya.

If there is anything can be blamed then it is the birth
Pertanyaannya adalah kenapa hidup ini bisa begitu mengesalkan? Banyak hal-hal yang terjadi dalam hidup ini yang mengakibatkan kepala kita pusing tujuh keliling dimana masalah yang satu belum selesai, muncul lagi masalah yang lain. Dr. Richard Bandler, The Father & Co-creator of NLP, mengatakan bahwa apabila ada yang dapat disalahkan dalam hidup ini maka hal itu adalah kelahiran. Ya betul karena adanya kelahiran maka kita merasakan penderitaan dalam hidup ini. Namun, berhubung kelahiran berada di luar rentang kendali kita maka sebenarnya tidak ada yang dapat disalahkan. Attitude atau sikap yang terbaik untuk hal ini adalah menyadari dan mensyukuri apa yang terjadi dalam hidup ini dan mengambil hikmah pembelajaran yang terkandung di balik kejadian tersebut. Banyak orang yang menjalankan strategi yang salah, mereka menggenggam emosi negatif, seperti: marah, sedih, kesal, dsb. namun melupakan makna pembelajarannya. Strategi yang benar adalah ambil makna pembelajarannya dan lupakan emosi yang menyertainya. As simple and as difficult as that if you allow it to be.  Ya, sesederhana dan sesulit itu apabila Anda mengijinkannya terjadi.

One option is not an option
Selain kelahiran, faktor penting lainnya adalah karena tidak tersedianya pilihan-pilihan yang bersumber daya dalam diri kita. NLP mengatakan bahwa satu pilihan sama dengan tidak ada pilihan sehingga kita dipaksa untuk menerima pilihan tersebut walaupun kita tidak menyukainya. Ambil contoh, misalnya Anda tidak menyukai pekerjaan Anda di kantor. Namun berhubung Anda tidak memiliki pilihan source of income atau sumber penghasilan yang lain maka mau tidak mau, suka tidak suka Anda harus melakukan pekerjaan tersebut. Inilah salah satu sebab utama yang menjadi sumber penderitaan dalam hidup.

NLP menyarankan untuk memiliki dan menambah pilihan-pilihan yang bersumber daya. Dengan adanya pilihan-pilihan yang bersumber daya tersebut maka Anda bebas memilih. Sebagai contoh, apabila Anda memiliki sumber penghasilan yang lain selain bekerja di kantor, misalnya memiliki toko, usaha kos-kosan, atau sumber penghasilan lainnya yang dapat Anda andalkan maka Anda tidak akan semenderita seperti kasus diatas karena dapat memilih yang mana yang Anda sukai. Selain itu, manusia selalu memilih pilihan yang terbaik yang tersedia waktu itu. Dengan demikian maka secara otomatis orang akan memilih pilihan yang paling baik yang tersedia dalam hidupnya.

Merefleksikan apa yang dihadapi teman saya dalam tulisan diatas, coba lihat ke dalam diri Anda sendiri apakah kekurangan pilihan menjadi penyebab utama dalam masalah yang Anda alami sekarang? Apabila jawabannya adalah YA, maka solusinya adalah tambahlah pilihan-pilihan yang bersumber daya dalam diri Anda.

Pertanyaan berikutnya adalah apa bentuk dari pilihan-pilihan yang bersumber daya tersebut dan bagaimana caranya untuk memiliki pilihan-pilihan yang bersumber daya tersebut? Pilihan-pilihan itu dapat berupa: pengetahuan, keterampilan, network (jaringan pertemanan), modal, dsb. Sedangkan cara untuk memiliki pilihan-pilihan yang bersumber daya tersebut adalah dengan belajar, berusaha, berlatih, dan melakukannya dalam betuk tindakan yang nyata terus dan terus sampai pilihan tersebut tersedia dalam hidup Anda.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita kembali sejenak ke kata kampret yang menjadi teaser dalam artikel ini. Ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) ”kampret” itu artinya, “kelelawar kecil pemakan serangga dengan hidung yang berlipat-lipat” atau dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan Microchiroptera.

Hmmm …….. menarik sekali. Lain kali kalau ada yang meneriaki Anda seperti ini, “Eh, Kampret lu!”, Anda tidak usah marah dan emosi. Itu artinya, ia sedang berkata, “Eh, Kamu kelelawar”, ha ha ha ….. Atau kalau kita kembali ke judul diatas maka, “Life is so Kampret” maka judulnya dapat kita ubah  menjadi “Hidup Sangat Kelelawar”, ha ha ha ………

NLP is about changing your thinking (neuro), changing the way you communicate (linguistic), and changing your behaviour (programming). Dengan merubah cara kita berpikir, cara kita berkomunikasi maka akan merubah perilaku kita. Semoga bermanfaat.

NLP Presupposition – Prinsip Berpikir dan Berperilaku Orang NLP

Neuro-Linguistic Programming adalah sebuah study mengenai excellence. Untuk mencapai excellence ini maka sejumlah asumsi mengenai realitas dibuat dimana asumsi-asumsi ini di presuppose atau dianggap benar. Asumsi-asumsi yang dianggap benar ini kemudian disebut dengan presupposition yang menjadi dasar pijakan dalam Neuro-Linguistic Programming. Presuposisi ini apabila diintegrasikan dalam pola berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari maka akan membantu seseorang dalam melakukan transformasi dalam hidupnya menuju kehidupan yang lebih sukses dan lebih bahagia.

Berikut ini disajikan beberapa presuposisi yang diambil dari rujukan The Society of NLP, USA, sebagai berikut:

The ability to change the process by which we experience reality is more often valuable than changing the content or experience of reality.

  • Kemampuan untuk merubah proses dimana kita mengalami realita lebih sering bernilai dibanding dengan merubah isi atau pengalaman dari realita tersebut.

Kemampuan seseorang dalam merubah proses tentang bagaimana pikiran bekerja dalam menghadapi stimuli eksternal atau stimuli internal dan memberikan respon yang tepat adalah lebih bernilai dibandingkan dengan hanya merubah isi pengalaman dalam memori pikiran orang tersebut. Singkatnya, presuposisi ini menekankan pada perubahan inti (core) dari suatu permasalahan, bukan menitikberatkan pada perubahan gejalanya (symptom).

The meaning of the communication is the response you get.

  • Makna dari komunikasi adalah respon yang Anda peroleh.

Makna utama dari sebuah komunikasi adalah respon yang ingin kita dapatkan. Apabila respon yang diberikan oleh partner bicara kita bertolak belakang dengan respon yang ingin kita dapatkan maka hal itu berarti bahwa cara berkomunikasi kita tidak tepat untuk mendapatkan respon yang diinginkan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu kepekaan indrawi untuk mengetahui apakah komunikasi yang kita lakukan tersebut sudah sesuai atau belum. Apabila belum, maka diperlukan adanya suatu fleksibilitas sampai memperoleh respon yang diinginkan dengan cara merubah cara komunikasi kita.

All distinction human beings are able to make concerning our environment and our behaviour can usefully represented through the visual, auditory, kinesthetic, olfactory, and gustatory senses.

  • Semua pembedaan yang dapat dilakukan manusia sehubungan dengan lingkungan eksternal dan perilakunya dapat diwakilkan secara bermanfaat melalui indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan pengecapan.

Pikiran merepresentasikan informasi yang diperoleh melalui input internal dan input eksternal dalam bentuk gambar (visual), suara (auditory), perasaan (kinesthetic), bau/wangi (olfactory), dan rasa (gustatory). Kemampuan untuk merepresentasikan dan mengorganisir informasi ini secara bermanfaat dan bersumber daya akan membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain.

The resources an individual needs to effect a change are already within them.

  • Sumber daya yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk menghasilkan perubahan sudah ada dalam diri mereka.

Dalam diri setiap individu telah memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan. Banyak orang tidak mengetahui hal ini sehingga tidak dapat menggunakan sumber daya ini untuk melakukan suatu perubahan yang diinginkan. Body and mind (badan dan pikiran) adalah contoh konkrit dari sumber daya yang ada dalam diri setiap orang. Kemampuan untuk menggunakan kedua sumber daya ini dengan baik dan benar akan sangat membantu dalam menghasilkan perubahan yang diinginkan.

The map is not the territory.

  • Peta bukanlah wilayah yang sebenarnya.

Neuro-Linguistic Programming mengasumsikan bahwa orang berperilaku berdasarkan apa yang dipersepsikannya mengenai dunia luar, bukan berdasarkan pada realitas yang sebenarnya. Persepsi yang dibuat merupakan representasi atau perwakilan dari dunia luar yang ada di dalam otaknya. Persepsi inilah yang kemudian disebut dengan peta. Menurut Alfred Korzibski, orang yang mempopulerkan istilah “the map is not the territory”, sebuah peta bukanlah wilayah yang sebenarnya dari wilayah yang diwakilkannya, namun, apabila peta tersebut memiliki struktur yang sama dengan wilayah yang diwakilinya, maka peta ini akan sangat bermanfaat.

The positive worth of the individual is held constant, while the value and appropriateness of internal and/or external behaviour is questioned.

  • Nilai positif dari seseorang dipertahankan secara konstan, sementara nilai dan kesesuaian dari perilaku internal dan/atau eksternal yang dipertanyakan.

Setiap orang memiliki nilai positif dari perilaku yang dilakukannya. Dalam Neuro-Linguistic Programming, nilai positif ini dipertahankan secara konstan karena dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat. Namun, perilaku yang dilakukan harus dipertanyakan apakah sudah sesuai dengan konteksnya atau belum, ekologis atau tidak, membawa dari present state menuju desired state atau tidak, dan lain sebagainya.

There is a positive intention motivating every behavior; and a context in which every behaviour has value.

  • Ada sebuah niat positif yang mendasari setiap perilaku; dan ada sebuah konteks yang sesuai untuk sebuah perilaku dimana perilaku tersebut bernilai/bermanfaat.

Apapun perilaku yang dilakukan seseorang, selalu ada niat positif dibalik perilaku tersebut. Suatu perilaku dikatakan tidak congruent atau tidak selaras apabila digunakan di dalam konteks yang salah. Hal ini dapat terjadi karena tidak ada satu perilaku yang cocok untuk seluruh konteks. Namun, selalu ada sebuah konteks yang sesuai dengan suatu perilaku tertentu yang mana kesesuaian ini akan menghasilkan nilai atau manfaat bagi orang tersebut. Contoh sederhana untuk presuposisi ini adalah perilaku “lupa”. Dalam konteks ujian, lupa adalah suatu perilaku yang sangat tidak bermanfaat. Namun, dalam konteks trauma, kemampuan untuk melupakan kejadian traumatis adalah suatu hal yang sangat bermanfaat.

Feedback vs. Failure – All results and behaviour are achievements, whether they are desired outcomes for a given task/context or not.

  • Umpan balik vs. Kegagalan – Semua hasil dan perilaku adalah pencapaian, terlepas apakah hasil atau perilaku tersebut adalah outcome yang diinginkan atau tidak dalam suatu lingkup pekerjaan/konteks.

Presuposisi ini menekankan bahwa apabila suatu perilaku tidak menghasilkan outcome yang diinginkan maka hal itu bukanlah kegagalan namun merupakan suatu feedback atau umpan balik yang menjelaskan bahwa apa yang dilakukan tidak membawa pada pencapaian outcome yang diinginkan. Selain itu, setiap output yang dihasilkan dari sebuah perilaku adalah suatu pencapaian juga. Namun, pertanyaannya adalah apakah pencapaian itu diinginkan atau tidak diinginkan. Dengan mengetahui bahwa umpan balik yang dihasilkan tidak mengarah pada hasil yang diinginkan maka dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan sampai outcome yang diinginkan tercapai.

~Live a life you want to live & make sure it is useful.

SUCCESS with WELL-FORMED OUTCOME

Outcome adalah sebuah goal yang dibuat dengan jelas dan disempurnakan dengan kondisi-kondisi yang membuatnya well-formed. Hal inilah yang membuatnya berbeda dari Goal. Goal dapat dianalogikan sebagai sebatang pensil yang belum diserut, sedangkan well-formed outcome adalah sebuah pensil yang sudah diserut dan siap untuk digunakan. Dengan membuat suatu outcome menjadi well-formed maka outcome ini memiliki serangkaian kondisi yang apabila semua kondisinya terpenuhi maka akan membuat hasilnya menjadi efektif dan ekologis.

Untuk mempermudah menjelaskan proses pembuatan well-formed outcome, dalam artikel ini akan digunakan akronim atau singkatan dari kata “SUCCESS”:

tate in positive.
Outcome harus dinyatakan dalam kalimat positif. Adapun tujuannya adalah untuk tidak berbeli-belit dan langsung kepada outcome yang diinginkan. Selain itu juga, pikiran tidak langsung memproses kata-kata negatif yang dapat mengarah pada self fulfilling prophecy (apa yang diucapkan terjadi pada diri sendiri). Misalnya: “Saya tidak ingin gagal”.  Setelah mengatakan hal ini, yang langsung terbetik dipikiran adalah “gagal”. Hal ini sama dengan “Jangan membayangkan pohon warnanya merah”, maka yang muncul adalah pohon warna merah dan baru kemudian pikiran memproses kata “jangan”. Oleh karena itu maka, daripada mengatakan “Saya tidak ingin gagal”, lebih baik katakan secara positif, yaitu: “Saya ingin berhasil”.

ndeniable reality.
Undeniable reality adalah bukti yang tidak terbantahkan pada saat outcome tersebut tercapai. Bentuk mental rehearsal untuk menciptakan bukti yang tidak terbantahkan apabila outcome tersebut tercapai. Apabila outcome-nya adalah mobil, maka bukti yang tidak terbantahkan adalah melihat STNK mobil tersebut tertulis dengan nama sendiri, atau secara auditory mendengarkan orang memuji nama kita apabila kita berhasil mendapatkan outcome tersebut, dan secara kinesthetic merasakan sendiri outcome yang sudah direalisasikan tersebut, misalnya merasakan “seolah-olah” duduk di dalam mobil tersebut.

ontextualised.
Bentuk sejelas mungkin dalam konteks apa outcome tersebut diinginkan. Untuk mempermudah melakukan contextualised, tanyakan:

  1. Apa outcome yang saya inginkan?
  2. Kapan outcome ini ingin saya realisasikan?
  3. Bagaimana cara untuk mencapai outcome tersebut?
  4. Berapa banyak (jumlah), besar (intensitas) outcome tersebut ingin saya capai?
  5. Dimana saya menginginkan outcome ini?
  6. Dengan siapa saya menginginkan outcome ini ?

ongruent with Meta outcome.
Outcome yang dibuat harus sejalan dengan outcome atau tujuan yang lebih tinggi. Dengan kata lain outcome yang diciptakan tidak boleh bertentangan dengan outcome lain yang lebih tinggi. Misalnya meta outcome atau outcome yang tertinggi adalah menjadi dokter namun yang dilakukan sekarang adalah kuliah akuntansi. Hal ini akan membuat outcome yang dibuat tidak congruent atau tidak selaras karena apa yang dilakukan bertentangan dengan outcome yang lebih tinggi.

cological.
Outcome yang dibuat harus ekologis, artinya bermanfaat untuk diri sendiri (Win 1), bermanfaat untuk orang banyak (Win 2), dan juga bermanfaat untuk lingkungan (Win 3) atau selaras dengan konsep 3 Win: 1. Saya Win, 2. Orang lain Win, dan 3. Lingkungan juga WinOutcome yang tidak ekologis akan membuat ketidakseimbangan dan menjauhi kesuksesan dan kebahagiaan yang diinginkan. Tanyakan: “Apa yang akan terjadi pada diri saya, keluarga dan lingkungan sekitar kalau outcome ini tercapai?”, “Apa yang akan terjadi pada aspek kehidupan saya pada saat outcome ini terealisasi?”

elf initiated.
Outcome yang ingin dicapai adalah outcome dari diri sendiri bukanoutcome untuk orang lain. Misalnya: “Saya ingin adik saya sukses”. Contoh tersebut adalah tidak sesuai dengan well-formed outcome karena berada diluar rentang kendali diri kita. Outcome yang self initiated harus dimulai oleh diri sendiri, dilakukan dan dijaga kelangsungan prosesnya oleh diri sendiri dan diselesaikan oleh diri sendiri. Intinya adalah diri sendiri yang bertanggung jawab dari awal sampai akhir (sampai outcome tersebut tercapai).

ensed with all representational systems.
Outcome tersebut harus dapat dirasakan oleh seluruh sistem representasi VAKOG, minimal melibatkan tiga sensori iderawi, yaitu:VisualAuditory, dan KinestheticVisual: melihat dengan mata sendiri bahwa outcome tersebut sudah tercapai, Auditory: mendengar apa yang dikatakan orang pada saat outcome tersebut tercapai, dan Kinesthetic: merasakan apa yang dirasakan pada saat outcometersebut tercapai.

Bagaimana, mudah bukan? Pertanyaannya sekarang adalah kapan Anda mau membuat Well-formed Outcome agar SUKSES yang Anda inginkan dapat terealisasi?

~ Live the life you want to life & make sure it is useful.

4 Prinsip Sukses dalam NLP

Sukses dengan NLPTujuan setiap orang adalah melakukan perubahan atau transformasi dari “Keadaan Sekarang” menuju “Keadaan Diinginkan”. Dalam bahasa teknis NLP, “Keadaan Sekarang” disebut dengan “Present State” dan “Keadaan Diinginkan” disebut sebagai “Desired State”.

Pada saat seseorang menginginkan sesuatu, maka pada saat itu terjadi gap atau jarak antara “Keadaan Sekarang” dengan “Keadaan Diinginkan”. Jarak inilah yang perlu dikelola sehingga dari “Keadaan Sekarang” dapat bergerak menuju “Keadaan Diinginkan”. Untuk mencapai keadaan ini, ada 4 hal yang perlu dilakukan, yaitu:

1. OUTCOME
Outcome adalah merupakan suatu gambaran terperinci yang ingin dicapai. Tanpa adanya outcome maka ibarat orang bergerak tanpa arah. NLP mensyaratkan adanya Well-formed Outcome (lihat cara membuat Well-formed Outcome) agar “Keadaan Diinginkan” dapat dicapai secara efektif dan ekologis.

2. ACTION
Sesudah suatu Well-formed Outcome dibuat, maka langkah berikutnya adalah melakukan action atau mengambil tindakan. Tanpa adanya suatu tindakan maka semuanya hanya berada di tingkatan angan-angan saja. Ibarat pepatah “Sedikit sedikit lama-lama jadi bukit”, satu tindakan kecil setiap hari secara konsisten akan mengakibatkan akumulasi tindakan yang besar yang dapat merubah hidup seseorang.

3. SENSORY ACUITY
Dalam proses melakukan action dari “Keadaan Sekarang” menuju “Keadaan Diinginkan”, perlu adanya suatu sensory acuity atau kepekaan inderawi untuk memastikan bahwa apa yang dilakukan telah berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Ketiadaan sensory acuity dapat mengakibatkan orang tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan ternyata bergerak menjauhi tujuan yang diinginkan.

4. FLEXIBILITY
Selama proses diatas, diperlukan adanya suatu penyesuaian-penyesuaian perilaku untuk mencapai apa yang diinginkan. Hal ini disebabkan karena sepanjang perjalanan dari “Keadaan Sekarang” menuju “Keadaan Diinginkan” tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Ada kalanya keadaan di lapangan tidak berjalan sesuai dengan apa yang diperkirakan yang menuntut adanya penyesuaian.
Apabila proses-proses tersebut dianalogikan dalam perjalanan seorang pilot, misalnya dari Jakarta menuju Denpasar, maka outcome-nya dalam hal ini adalah adalah sampai di kota Denpasar. Untuk mencapai outcome tersebut maka pilot perlu mengambil action atau tindakan, yaitu menerbangkan pesawatnya dari Jakarta menuju Denpasar. Tanpa adanya suatu tindakan maka semua hal yang direncanakan menjadi tidak berguna sama sekali.

Sensory Acuity atau kepekaan inderawi diperlukan untuk menyadari jalannya aksi yang dilakukan apakah mengarah menuju pada “Keadaan Diinginkan” (Denpasar) atau malah sebaliknya, malah menjauhi “Keadaan Diinginkan”. Selama proses tersebut diperlukan suatu fleksibilitas atas penyesuaian tindakan yang diperlukan agar pesawat dapat berjalan sesuai dengan arah yang terdapat pada kompas (penentu arah) sehingga tujuan dari “Keadaan Diinginkan” dapat tercapai.

Kunci sukses dari pergerakan “Keadaan Sekarang” menuju “Keadaan Diinginkan” adalah waktu. Semakin cepat seseorang mencapai “Keadaan Diinginkan” maka semakin tinggi tingkat kesuksesan seseorang. Sebaliknya, semakin lambat seseorang bergerak dari “Keadaan Sekarang” menuju “Keadaan Diinginkan” maka akan membuat orang tersebut demotivasi dan tingkat kegagalannya akan semakin besar.

Semoga bermanfaat dan selamat berpetualang di dunia NLP yang magical.

~ Live the life you want to life & make sure it is useful.