Tag Archives: Story

Belajar dari Sebuah Sikat Gigi Tua

Virginia Satir, seorang family therapist, yang juga adalah salah seorang dari 3 orang yang dimodel oleh Bandler dan Grinder mengatakan bahwa basic instinct manusia bukanlah survival atau bertahan hidup, namun “to keep things familiar. Atau dengan kata lain, manusia memiliki sifat atau kecenderungan untuk mempertahankan dan melakukan hal-hal yang sama. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan orang susah berubah karena adanya dorongan dari bawah sadar untuk mempertahankan dan melakukan hal-hal yang sama.

Suatu hari saya merasa bahwa sudah waktunya bagi saya untuk mengganti sikat gigi saya yang sudah tidak layak pakai lagi. Sikat gigi tua yang mau dipensiunkan ini sudah tidak nyaman untuk digunakan karena bulu sikatnya sudah melebar kemana-mana sehingga kalau digunakan menyebabkan gusi menjadi sakit karena bulu sikatnya ikut menyikati gusi saya.

Pada saat itu juga saya mengatakan pada diri saya sendiri setelah sikat gigi kali ini saya akan menggantinya dengan sikat gigi yang baru. Setelah selesai, saya meletakkan sikat gigi itu kembali ke tempatnya semula. Bencana kembali terjadi karena pada saat malam sebelum tidur saya kembali menggunakan sikat yang sama. Kembali saya mengatakan setelah sikatan terakhir ini saya akan segera mengganti sikat gigi tua ini dengan sikat gigi yang baru. Setelah proses sikat gigi selesai saya kembali meletakkan sikat gigi ini kembali ke tempatnya semula. Perubahan tetap tidak terjadi! Walaupun saya sudah mengatakan untuk menggantinya berulang kali. Keesokan paginya saya tetap menggunakan sikat gigi yang sama.

Benar kata Virginia Satir bahwa basic instinct manusia bukanlah survival, namun mempertahankan melakukan hal-hal yang sama. Hal ini terjadi karena suatu kebiasaan dilakukan terus menerus melalui jalur neuron yang sama dan tersimpan dalam program bawah sadar. Semua program yang tersimpan di bawah sadar akan bekerja secara otomatis. Untuk mengetahui bagaimana terbentuknya suatu kebiasaan dan bagaimana cara meng-uninstall kebiasaan buruk baca: Jalur Neuron & Kebiasaan.

Melanjutkan cerita sikat gigi diatas, sampailah saya pada suatu hari dimana setelah sikat gigi yang terakhir saya langsung membuang sikat gigi tua itu ke tong sampah walaupun dengan risiko tidak sikat gigi pada esok pagi karena belum tentu ada stok sikat gigi di rumah. Dan benar, esok paginya saya kalang kabut karena tidak menemukan sikat gigi tua tersebut di tempatnya dan tidak ada stok sikat gigi baru di rumah. Namun, Voila! Perubahan terjadi. Sayapun melangkah ke minimarket terdekat untuk membeli sikat gigi baru.

Change will never take place if it is not put into action & miracle only happens in the real actions. Belajar dari cerita sederhana diatas, perubahan tidak pernah akan terjadi apabila tidak dilakukan & keajaiban hanya terjadi dalam aksi nyata. Proses perubahan tidak cukup hanya dipikirkan dan diucapkan saja. Namun, harus dilakukan. Itu sebabnya orang yang sering membuat rencana, terlepas apakah itu  rencana bisnis, rencana merubah kebiasaan buruk, dan rencana-rencana lainnya, tidak akan berhasil apabila tidak dilakukan.

Sebagai penutup, apabila outcome atau goal sudah dibuat, langkah berikutnya adalah melakukannya dalam bentuk ACTION. Pertanyaannya adalah, “Apakah Anda sudah melakukan apa yang sudah Anda rencanakan?”

Semoga bermanfaat.

~ Live the life you want to live & make sure it is useful.

Masukkan Seekor Ikan Hiu Dalam Tangki Hidup Anda

Seperti biasa, begitu bangun pagi saya langsung membuka laptop saya. Waktu 24 jam terasa tidak cukup. Jadi harus pintar-pintar membagi waktu agar dapat menyelesaikan tugas-tugas yang harus dilakukan, termasuk menulis artikel ini agar dapat selesai tepat pada waktunya.

Setelah membuka laptop, tiba-tiba saya teringat cerita ikan hiu inspiratif yang pernah saya baca dulu. Walaupun kondisi penyimpanan ikan dewasa ini sudah sangat maju dan mungkin juga kondisi penyimpanan ikan di bawah sudah tidak sesuai lagi dengan teknologi saat ini, namun efek dari morale story-nya sangat luar biasa. Saya tidak tahu siapa pertama sekali yang menulis cerita ini, namun tidak ada salahnya saya mengucapkan terima kasih atas ceritanya ini.

Berikut ini adalah ceritanya …..  Jepang adalah bangsa yang sangat menyukai ikan segar. Hal ini bisa dilihat dari makanannya yang banyak terdiri dari ikan-ikan segar dalam sushi atau sashimi yang dihidangkan. Kesegaran ikan adalah kunci utama dalam menentukan nikmat tidaknya sushi atau sashimi tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan ikan tetap dalam keadaan segar pada saat mencapai daratan.

Awalnya teknik penyimpanan ikan dalam kapal adalah dengan diberi es dan ditaburi garam. Dengan cara ini diharapkan ikan-ikan yang dimasukkan dalam tempat penyimpanan ini dapat tetap segar selama dalam perjalanan. Namun kenyataannya ikan tidak terlalu segar lagi pada saat mencapai daratan karena memang sudah mati waktu dalam perjalanan.

Belajar dari hal ini, nelayan Jepang memperbaiki metode penyimpanan ikannya dengan membuat tangki penampungan ikan yang lebih besar dengan air laut di dalamnya sehingga ikan-ikan yang ditangkap dapat berenang di dalam tangki berisi air laut ini. Cara ini lebih baik daripada cara sebelumnya. Namun sebelum sampai di daratan, ikan-ikan ini sudah mati lemas terlebih dahulu.

Nelayanpun kembali memutar otak untuk mencari cara yang lebih baik lagi. Kali ini, nelayan tetap menggunakan tangki seperti diatas, namun perbedaannya sekarang adalah tangki tersebut diisi dengan seekor ikan hiu kecil. Memang ikan hiu ini memangsa beberapa ikan yang ada di dekatnya namun mayoritas ikan tetap hidup pada saat sampai di daratan.

Kenapa ikan-ikan ini dapat tetap hidup tidak seperti ikan-ikan sebelumnya yang tidak memiliki ikan hiu dalam tangki penampungannya? Ternyata dengan hadirnya seekor ikan hiu membuat mereka lebih waspada terhadap predator yang dapat memangsa mereka setiap saat. Mereka terus berenang menjauhi ikan hiu yang bergerak mendekat ke arah mereka.

Morale of the story
Ikan hiu yang dimaksudkan dalam cerita diatas adalah masalah atau tantangan yang kita jumpai dalam hidup. Bisa dalam karir, rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Ikan hiu atau masalah, tantangan, ancaman, dsb. dapat kita gunakan untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat. Dengan adanya ikan hiu ini, ikan menjadi lebih waspada dan terus bergerak. Sama halnya dengan manusia, dengan adanya masalah, tantangan, ancaman yang ada disekitar kita, hal ini dapat membuat kita untuk lebih waspada, terus bergerak, dipaksa keluar dari comfort zone, menjadi fleksibel dengan cara-cara baru, stretching our limit (menembus limit kita sekarang), dsb.

Brian Tracy, seorang success coach, mengatakan ada 2 hal yang menghalangi manusia untuk maju: 1. Homeostatis, suatu keadaan untuk terus di status-quo dan 2. Psychosclerosis, suatu keadaan dimana manusia tidak fleksibel lagi terhadap keadaan. Kedua hal tersebut membuat orang takut meninggalkan comfort zone-nya.

Dengan memasukkan seekor ikan hiu dalam tangki hidup kita maka akan membuat kita dipaksa untuk keluar dari keadaan status-quo dan menjadi fleksibel mempelajari hal-hal baru yang dapat mendukung kita mencapai tujuan kita. Sudahkah Anda memasukkan seekor ikan hiu dalam tangki hidup Anda?

~ LIVE A LIFE YOU WANT TO LIFE & MAKE SURE IT IS USEFUL!